Masalah Keamanan Hambat Proyek Pusat Data AI Raksasa di UEA dengan Raksasa Teknologi AS

Masalah Keamanan Hambat Proyek Pusat Data AI Raksasa di UEA dengan Raksasa Teknologi AS

Dubai, Purna Warta Rencana pembangunan salah satu pusat data kecerdasan buatan (AI) terbesar di dunia di Uni Emirat Arab (UEA), yang melibatkan teknologi dari perusahaan-perusahaan besar Amerika Serikat, terhambat akibat kekhawatiran keamanan yang belum terselesaikan, menurut laporan Reuters yang mengutip sumber-sumber internal.

Selama kunjungan dua hari Presiden Donald Trump ke Abu Dhabi bulan lalu, AS dan UEA mengumumkan proyek ambisius untuk membangun kampus AI seluas 10 mil persegi, yang akan mencakup jaringan pusat data berkapasitas tinggi.

Baca Juga : Militer Israel Akui Krisis Personel, Butuh Lebih dari 10.000 Tentara Tambahan

Fase pertama proyek yang dinamai Stargate UAE, dijadwalkan diluncurkan pada tahun 2026. Proyek ini dipimpin oleh G42—perusahaan teknologi yang berafiliasi dengan negara dan menjadi ujung tombak ambisi AI UEA—serta melibatkan raksasa teknologi seperti Nvidia, OpenAI, Cisco, Oracle, dan SoftBank dari Jepang.

Washington Belum Finalisasi Protokol Keamanan
Meski proyek ini diklaim sebagai “sukses strategis” dalam mendorong negara Teluk untuk memilih teknologi AS ketimbang Tiongkok, kelima sumber yang dikutip menyatakan bahwa pejabat AS belum menyepakati protokol keamanan ekspor chip AI canggih Nvidia maupun mekanisme pengawasan perjanjian dengan pihak UEA.

Dengan kata lain: proyek bernilai miliaran dolar ini terancam macet karena masalah keamanan nasional AS belum diatasi.

Ambisi AI Teluk Dihambat Realitas
Menurut laporan Financial Times, baik UEA maupun Arab Saudi menghadapi hambatan serius dalam ambisi mereka menjadi pusat kekuatan AI global. Masalah utamanya: kekurangan tenaga ahli, produktivitas riset rendah, dan ketergantungan pada lembaga negara, bukan inovasi sektor swasta.

Baca Juga : Mayoritas Warga Israel Tak Lagi Percaya Perang di Gaza Akan Bebaskan Sandera

Presiden Universitas AI Mohamed bin Zayed (MBZUAI), Eric Xing, menjelaskan bahwa rendahnya output riset UEA disebabkan oleh populasi kecil (sekitar 10 juta jiwa) dan sistem pendidikan tinggi yang masih berkembang. Namun ia menegaskan bahwa kualitas riset lebih diutamakan ketimbang kuantitas.

Meski universitas tersebut telah menghasilkan riset seperti pemodelan protein, terobosan AI paling revolusioner tetap didominasi institusi Barat seperti DeepMind milik Google.

AS Waspadai Potensi Perpindahan ke Tiongkok
Sementara UEA berjanji tetap bermitra dengan AS, para pejabat keamanan AS tetap waspada. Ada kekhawatiran serius bahwa negara-negara Teluk—karena ambisi AI mereka yang agresif—bisa saja mulai menggandeng tenaga kerja atau perusahaan dari Tiongkok demi percepatan, sekaligus membahayakan sistem keamanan global.

Analis RAND Corporation, Jimmy Goodrich, menekankan bahwa pendekatan oportunistik seperti itu dapat membuka celah bagi kebocoran teknologi strategis.

Baca Juga : Israel Diduga Persenjatai Geng Kriminal di Gaza untuk Jarah Bantuan Kemanusiaan

Karim Sabbagh dari Space42 juga mengingatkan: “Negara-negara Teluk tidak bisa meraih ambisi teknologi secara mandiri. Mereka butuh mitra strategis yang sejalan—dan itu butuh komitmen yang jelas, bukan sekadar retorika.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *