Tel Aviv, Purna Warta – Israel dituduh telah mempersenjatai sebuah geng kriminal di Gaza selatan, yang diduga berafiliasi dengan kelompok ekstremis, untuk menghadapi Hamas. Tuduhan ini menimbulkan keprihatinan global atas penggunaan kekuatan proxy serta meningkatnya penjarahan terhadap konvoi bantuan kemanusiaan. Geng tersebut dipimpin oleh Yasser Abu Shabab, warga Rafah yang dikenal memiliki catatan kriminal.
Baca Juga : AS Jatuhkan Sanksi ke Hakim ICC atas Surat Penangkapan Netanyahu
Citra satelit dan rekaman video yang diverifikasi oleh Haaretz menunjukkan peningkatan aktivitas kelompok ini di wilayah timur Rafah, yang saat ini berada di bawah kendali langsung militer Israel. Kelompok yang menyebut dirinya “Layanan Anti-Teror” ini terdiri dari sekitar 100 orang bersenjata, dan digambarkan sebagai kombinasi antara milisi dan kelompok kriminal. Mereka beroperasi di dekat titik distribusi bantuan Karem Abu Salem.
Menurut The Times of Israel, Abu Shabab dan anak buahnya mendapatkan senjata dari militer Israel, termasuk senapan Kalashnikov yang sebelumnya disita dari pejuang Hamas. Operasi ini diklaim telah disetujui oleh kabinet keamanan Israel dan langsung oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Informasi tersebut telah disetujui untuk dipublikasikan oleh sensor militer Israel.
Keterlibatan Langsung Militer Israel dan Reaksi Keluarga
Abu Shabab juga dituduh bekerja sama dengan jaringan penyelundupan yang terkait dengan kelompok ekstremis di Mesir. Ia diduga memimpin operasi penjarahan bantuan yang mengakibatkan gangguan serius dalam distribusi bantuan kemanusiaan. Bahkan keluarganya sendiri mengeluarkan pernyataan resmi bahwa mereka memutus hubungan dengannya dan tidak akan menerimanya kembali.
Baca Juga : Turki Kirim Helikopter Tempur ke Somalia dalam Perjanjian Pertahanan 10 Tahun
Video yang beredar menunjukkan kelompok ini bekerja sama dengan unit khusus Israel yang menyamar di Gaza. Abu Shabab membantah semua tuduhan dan mengklaim bahwa kelompoknya justru melindungi konvoi bantuan. Namun, kesaksian dari pejabat Hamas dan organisasi kemanusiaan menunjukkan hal sebaliknya.
Tanggapan Global dan Krisis Bantuan yang Memburuk
Langkah Israel ini menuai kecaman dari dalam dan luar negeri, termasuk dari mantan Menteri Keamanan Israel, Avigdor Lieberman, yang menuding Netanyahu telah mempersenjatai kelompok kriminal yang terkait dengan ISIS. Lieberman menyebut tindakan ini sebagai kebijakan berbahaya yang justru memperkeruh konflik. Pemerintah Israel membela diri dengan mengatakan bahwa strategi ini bertujuan mengurangi korban militer sambil “menghancurkan Hamas secara sistematis.”
Sementara itu, situasi bantuan di Gaza terus memburuk. Asosiasi Transportasi Swasta Gaza mengumumkan mogok kerja setelah beberapa sopir truk bantuan tewas dalam serangan baru-baru ini. Salah satu korban, Mohammed al-Assar, disebut oleh keluarganya sebagai korban kekerasan geng Abu Shabab.
Baca Juga : Tragedi di India: 11 Tewas dalam Perayaan Royal Challengers
Pejabat PBB, Jonathan Whittall, menegaskan bahwa sebagian besar kasus penjarahan bantuan dilakukan oleh geng kriminal di bawah pengawasan militer Israel. Ia menyatakan bahwa klaim Israel yang menyalahkan Hamas tidak didukung bukti kuat. Justru, kata dia, pengalihan bantuan paling besar dilakukan oleh kelompok bersenjata yang mendapat perlindungan tidak langsung dari pasukan pendudukan.


