Iran Ancam Balas Jika Mekanisme Snapback Sanksi PBB Dihidupkan Lagi

Iran Ancam Balas Jika Mekanisme Snapback Sanksi PBB Dihidupkan Lagi

Tehran, Purna Warta Pemerintah Iran mengeluarkan peringatan keras terhadap negara-negara Barat, khususnya Eropa, bahwa jika mekanisme pemulihan otomatis sanksi PBB (snapback) terhadap Teheran diaktifkan, maka mereka akan mengambil langkah balasan yang tegas dan cepat.

Baca Juga : Bentrokan di Bolivia, 17 Orang Terluka dalam Aksi Pro-Morales

Dalam pertemuan Dewan Gubernur Badan Energi Atom Internasional (IAEA) yang sedang berlangsung di Wina, Kepala Organisasi Energi Atom Iran, Mohammad Eslami, menyatakan bahwa pihaknya “tidak akan tinggal diam jika jalan konfrontatif diambil.” Ia juga mengecam laporan terbaru IAEA yang dinilainya “penuh bias politik dan tekanan eksternal.”

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, turut mempertegas posisi Teheran dengan menuding tiga negara Eropa—Inggris, Prancis, dan Jerman—telah gagal memenuhi komitmennya dalam kesepakatan nuklir 2015 (JCPOA). Melalui pernyataan resmi dan media sosial, Araghchi menyebut bahwa mengaktifkan kembali sanksi adalah “kesalahan strategis besar” yang “pasti akan dibalas.”

Duta Besar Iran untuk IAEA, Reza Najafi, menambahkan bahwa negara-negara Eropa “tidak punya dasar hukum maupun moral” untuk menjalankan mekanisme snapback, mengingat pelanggaran mereka sendiri terhadap Resolusi Dewan Keamanan PBB 2231. Najafi memperingatkan bahwa langkah semacam itu bisa mendorong Iran keluar dari perjanjian-perjanjian internasional, termasuk kemungkinan mundur dari Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT).

Baca Juga : Presiden Yaman Ucapkan Selamat kepada Putin, Puji Peran Global Rusia

Meskipun retorika semakin keras, Iran menyatakan bahwa pintu diplomasi masih terbuka. Saat ini, negosiasi tidak langsung antara Teheran dan Washington tengah berlangsung di Muskat, Oman, dan telah memasuki putaran keenam. Pihak Iran menegaskan masih bersedia melanjutkan kesepakatan nuklir baru yang “adil, permanen, dan seimbang,” asalkan hak mereka untuk memperkaya uranium secara damai tetap dihormati.

Sementara itu, pihak Barat berargumen bahwa transparansi dan kerja sama Iran dengan IAEA sangat penting bagi keberlangsungan perjanjian nuklir. Laporan IAEA yang dipersoalkan Iran menuding Teheran menghambat inspeksi dan tidak menjelaskan temuan partikel nuklir di lokasi-lokasi yang tak diumumkan sebelumnya. Oleh karena itu, Eropa dan AS mempertimbangkan penggunaan mekanisme snapback sebagai opsi terakhir jika Iran terus menolak kerja sama.

Dengan IAEA masih melanjutkan sidangnya di Wina, masa depan kesepakatan nuklir Iran dan stabilitas kawasan kini berada di ujung tanduk. Pernyataan Iran yang keras menunjukkan bahwa jika tekanan dilanjutkan, konsekuensinya bisa mengguncang geopolitik Timur Tengah secara signifikan.

Baca Juga : Rusia Wajibkan Aplikasi Pemerintah Super App di Semua Perangkat Mulai 2025

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *