Bentrokan di Bolivia, 17 Orang Terluka dalam Aksi Pro-Morales

Bentrokan di Bolivia, 17 Orang Terluka dalam Aksi Pro-Morales

Llallagua, Purna Warta Ketegangan politik di Bolivia kembali memanas, dimana sedikitnya 17 orang terluka dalam bentrokan yang terjadi Selasa lalu (11 Juni), menyusul penolakan terhadap keputusan otoritas pemilu yang mendiskualifikasi mantan Presiden Evo Morales dari pencalonan dalam Pilpres 17 Agustus mendatang.

Baca Juga : Presiden Yaman Ucapkan Selamat kepada Putin, Puji Peran Global Rusia

Insiden terbaru terjadi di kota pertambangan Llallagua, wilayah Potosi, saat pendukung Morales bentrok dengan kelompok warga yang mencoba membongkar blokade jalan. Polisi setempat melaporkan dua anggotanya mengalami luka akibat lemparan batu dan benda tumpul lainnya, sementara 15 warga sipil turut menjadi korban.

Dari Blokade Jalan ke Tuntutan Ekonomi
Aksi blokade dimulai sejak 2 Juni oleh kelompok loyalis Morales yang menuntut agar ia diizinkan kembali mencalonkan diri. Namun, aksi ini dengan cepat berkembang menjadi protes yang lebih luas terhadap pemerintahan Presiden Luis Arce, yang dinilai gagal mengatasi krisis ekonomi nasional.

Harga-harga melonjak, antrian bahan bakar semakin panjang, dan mata uang asing makin sulit diakses. Kondisi ini paling terasa di wilayah-wilayah pedalaman yang selama ini menjadi basis pendukung Morales.

Baca Juga : Rusia Wajibkan Aplikasi Pemerintah Super App di Semua Perangkat Mulai 2025

Menurut Badan Jalan Nasional Bolivia, terdapat 29 titik blokade aktif pada Selasa, yang menunjukkan skala ketidakpuasan masyarakat yang kian meluas.

Morales Ditolak, Kritik Mengalir
Evo Morales, mantan presiden dan tokoh politik pertama dari kalangan masyarakat adat di Bolivia, sempat mencoba mendaftarkan diri sebagai calon presiden meskipun secara konstitusi dilarang mencalonkan diri untuk masa jabatan keempat. Namun Mahkamah Konstitusi menolak pencalonannya secara cepat, memicu tuduhan bias politik dari kelompok akar rumput.

“Putusan itu jelas bermuatan politik. Kami melihat ini sebagai upaya sistematis untuk menyingkirkan suara rakyat,” ujar salah satu koordinator aksi di Llallagua.

Pemerintah: Ini Bukan Protes, Tapi Sabotase
Pemerintah Bolivia merespons dengan keras. Juru bicara resmi menuduh Morales memanfaatkan blokade untuk menciptakan kekacauan dan menggagalkan pemilu. Jaksa Agung bahkan mengumumkan bahwa Morales tengah diselidiki atas tuduhan “terorisme,” yang oleh para pengamat dianggap sebagai bentuk kriminalisasi terhadap oposisi.

Baca Juga: Brigade Al-Quds Kuasai Drone Israel dan Dapatkan Informasi Sensitif

Sejak Oktober lalu, Morales memilih untuk mengasingkan diri di Chapare, wilayah yang dikenal sebagai benteng dukungannya, di tengah ancaman penangkapan dari pihak berwenang.

Dengan pemilu semakin dekat, Bolivia kini berada dalam bayang-bayang krisis legitimasi. Di satu sisi, rakyat marah karena pencoretan Morales, dan di sisi lain, mereka kecewa berat atas kondisi ekonomi dan kepemimpinan saat ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *