Tehran, Purna Warta – Iran telah mengeluarkan peringatan tegas bahwa mereka tidak akan mundur dari pengelolaannya atas Selat Hormuz dan siap bertempur untuk mempertahankan kendali atas jalur perairan strategis tersebut, demikian disampaikan seorang sumber keamanan yang mengetahui masalah tersebut kepada Press TV pada hari Rabu.
Sumber tersebut mengungkapkan bahwa perkembangan selama 48 jam terakhir telah semakin memperkuat tekad Tehran, dengan diterapkannya doktrin militer dan strategi baru.
Menurut sumber itu, strategi terbaru Iran menetapkan bahwa apabila terjadi serangan baru terhadap wilayah atau kepentingan Iran, Republik Islam akan merespons dengan kekuatan yang sangat besar.
Sumber tersebut menjelaskan kerangka baru pembalasan Iran dengan menyatakan bahwa setelah setiap serangan terhadap Iran, dua langkah segera akan diambil: pertama, Selat Hormuz akan ditutup sepenuhnya bagi seluruh lalu lintas maritim; kedua, Iran akan menyerang sasaran musuh dengan rasio sedikitnya dua banding satu. Artinya, untuk setiap target Iran yang diserang, sedikitnya dua target musuh akan diserang sebagai balasan.
“Nota kesepahaman yang ditandatangani mengenai masalah ini dengan jelas menyatakan bahwa Iran akan membuka kembali Selat Hormuz sesuai dengan pengaturannya sendiri. Oleh karena itu, Iran tidak akan mengizinkan pembentukan jalur baru apa pun di luar kerangka pengaturan yang telah ditetapkannya,” kata sumber tersebut.
Sumber itu juga menanggapi ancaman terbaru yang disampaikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan menyampaikan pesan tegas kepada Washington.
“Setiap ancaman akan mendapat respons yang kuat. Iran tidak membedakan antara Amerika Serikat dan para mitranya di kawasan,” ujar sumber tersebut kepada Press TV.
“Trump tidak akan memperoleh apa pun dari ancaman-ancaman terbaru ini, tetapi ia hampir pasti akan kehilangan akses terhadap Selat Hormuz sekaligus peluang untuk mencapai kesepakatan akhir melalui perundingan. Pilihan kini berada di tangannya.”
Peringatan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk Persia, setelah militer Amerika Serikat melancarkan gelombang baru serangan yang disebut ilegal dan tanpa provokasi terhadap wilayah pesisir Iran pada Rabu dini hari (8 Juni 2026).
Amerika Serikat melancarkan serangan militer terhadap sejumlah pangkalan pesisir dan fasilitas nonmiliter di Provinsi Hormozgan serta Mahshahr, Iran selatan, yang menurut laporan tersebut secara terang-terangan melanggar gencatan senjata.
Sebagai tanggapan, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyerang 85 target militer Amerika Serikat di Bahrain dan Kuwait menggunakan rudal dan pesawat nirawak sebagai respons awal atas agresi Amerika.
IRGC menyatakan bahwa serangan tersebut menghantam fasilitas di Pelabuhan Salman, kawasan Armada Kelima Amerika Serikat di Bahrain, serta Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait. IRGC juga mengumumkan telah menembak jatuh sebuah pesawat nirawak MQ-9, dengan menyatakan bahwa pesawat tersebut berusaha mengganggu operasi sebelum akhirnya ditembak jatuh.
Dalam pernyataan yang dirilis sebelumnya pada hari Rabu, Markas Pusat Khatam al-Anbiya Iran menyatakan bahwa setiap sumber dukungan bagi “militer agresor Amerika Serikat” akan dianggap sebagai sasaran yang sah bagi angkatan bersenjata Iran.
“Setiap bentuk dukungan kepada militer agresor Amerika Serikat yang melanggar kedaulatan dan wilayah Republik Islam Iran akan menjadi sasaran yang sah bagi angkatan bersenjata,” demikian peringatan dari pusat komando militer tertinggi tersebut.
Markas itu juga menyatakan bahwa satu-satunya jalur yang aman bagi kapal-kapal dagang dan kapal tanker minyak di Selat Hormuz adalah jalur yang ditetapkan oleh Iran, serta menegaskan bahwa Tehran tidak akan mengizinkan adanya campur tangan dalam pengelolaan selat tersebut.
Ketua Parlemen Iran sekaligus kepala perunding, Mohammad Baqer Qalibaf, juga mengecam Amerika Serikat karena melakukan pelanggaran besar terhadap nota kesepahaman (MoU) antara Iran dan Amerika Serikat. Ia menegaskan bahwa “era intimidasi dan pemerasan” Washington telah berakhir.
“Pelanggaran besar MoU oleh Amerika Serikat meliputi: (1) melanggar pengaturan Iran di Selat Hormuz, (2) memberlakukan kembali sanksi minyak, (3) menyerang wilayah selatan Iran, dan (4) membiarkan agresi Zionis terhadap Lebanon terus berlanjut,” ujarnya.
“Era intimidasi dan pemerasan telah berakhir. Cara seperti itu tidak akan menghasilkan apa pun. Kami tidak akan menyerah.”


