Bagaimana Pemimpin Syahid Iran Menjadi Simbol Abadi Kedaulatan, Keadilan, dan Perlawanan

Leader of inspirations

Oleh Sayid Marcos Tenório

Purna Warta – Ada pemimpin yang memerintah sebuah negara. Ada pula yang kemudian menjadi penentu zamannya. Dan ada juga mereka yang kehidupannya melampaui jabatan politik, menjadi bagian dari warisan moral suatu bangsa serta sumber inspirasi yang abadi bagi masyarakat dunia yang menolak tunduk. Ayatullah Sayyid Ali Husseini Khamenei termasuk dalam golongan yang terakhir.

Perjalanannya dimulai jauh dari istana kekuasaan dan kemewahan. Lahir di kota suci Mashhad—tempat berdirinya makam Imam Reza (AS)—dalam keluarga sederhana, ia menemukan fondasi pembentukan karakternya dalam keimanan, ilmu pengetahuan, dan komitmen sosial. Sejak usia muda, ia memahami bahwa agama tidak seharusnya menjadi tempat berlindung dari ketidakadilan, melainkan kekuatan spiritual untuk menghadapinya.

Bersama Imam Ruhullah Khomeini, arsitek Revolusi Islam sekaligus gurunya, Ayatullah Khamenei turut membangun sebuah gerakan yang kemudian mengubah secara mendalam sejarah Iran dan kawasan Asia Barat. Dianiaya, dipenjara, dan disiksa di bawah rezim diktator Pahlavi yang didukung Barat, Ayatullah Khamenei tidak pernah meninggalkan keyakinannya bahwa kemerdekaan politik, kedaulatan nasional, dan keadilan sosial merupakan prinsip-prinsip yang tidak dapat dipisahkan.

Revolusi Islam tahun 1979 jauh melampaui sekadar runtuhnya monarki yang didukung Barat. Revolusi tersebut melambangkan keputusan suatu bangsa untuk merebut kembali kendali atas nasibnya sendiri dan menentukan jalan baru yang berpusat pada Islam dan ajaran-ajarannya.

Tahun-tahun berikutnya menghadirkan tantangan luar biasa bagi Republik Islam. Perang yang dipaksakan, sanksi-sanksi yang ilegal dan tidak adil, isolasi ekonomi, serta kampanye tanpa henti untuk melakukan “pergantian rezim” menguji ketahanan Republik Islam. Alih-alih menerima ketergantungan atau menyerah, Ayatullah Khamenei mendorong apa yang ia sebut sebagai “ekonomi perlawanan”: berinvestasi dalam ilmu pengetahuan, memperkuat universitas, mengembangkan teknologi nasional, dan mempercayai kemampuan rakyat Iran. Baginya, kemerdekaan yang sejati tidak mungkin terwujud tanpa kemandirian ilmiah, ekonomi, dan budaya bagi negara serta rakyatnya.

Kepemimpinan dan pengaruhnya melampaui batas-batas Iran. Dukungan yang teguh dan tanpa syarat terhadap Palestina menjadi salah satu pilar utama pemikiran politiknya, sebagaimana pendahulunya—bukan semata-mata sebagai persoalan geopolitik, tetapi sebagai kewajiban moral. Ia menyebut Palestina sebagai isu terpenting bagi dunia Islam dan memberikan berbagai bentuk dukungan kepada rakyat Palestina serta gerakan perlawanan.

Dalam pidato-pidatonya, perjuangan Palestina mencerminkan hak universal setiap bangsa atas kebebasan, penentuan nasib sendiri, dan perlawanan terhadap pendudukan serta kolonialisme. Selama beberapa dekade, pandangan ini mendekatkan Iran dengan berbagai negara dan gerakan yang berupaya mempertahankan kedaulatannya dari tekanan kekuatan-kekuatan hegemonik besar.

Bagi jutaan orang di negara-negara Global South (Selatan Global), Ayatullah Khamenei menjadi simbol suatu doktrin politik yang berlandaskan pada kemandirian strategis dan penolakan terhadap upaya negara-negara kuat menentukan nasib bangsa lain.

Kesyahidannya dalam serangan Amerika Serikat dan Israel di Tehran pada akhir Februari tidak menghasilkan dampak yang diharapkan oleh mereka yang meyakini bahwa hal itu akan melemahkan Republik Islam. Tujuan utamanya adalah menggulingkan Republik Islam—dengan kata lain, melakukan “pergantian rezim.”

Sebaliknya, peristiwa tersebut mengubah perjalanan pribadinya menjadi warisan sejarah yang abadi. Jutaan rakyat Iran memenuhi jalan-jalan selama lebih dari 120 hari untuk menghormati seorang pemimpin yang kehidupannya telah menjadi simbol keteguhan, martabat, dan perlawanan.

Para syahid menempati posisi yang unik dalam ingatan bangsa-bangsa yang merdeka dan berdaulat. Ketiadaan mereka secara fisik sering kali justru memperbesar kekuatan gagasan-gagasan mereka. Sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an, para syahid itu hidup. Sejarah berulang kali menunjukkan bahwa suatu misi politik dapat bertahan apabila berakar kuat dalam kesadaran kolektif suatu bangsa.

Dalam pengertian ini, warisan gemilang Ayatullah Khamenei jauh melampaui biografi seorang negarawan atau pemimpin spiritual. Kehidupannya telah menjadi rujukan bagi mereka yang mendukung dunia multipolar, kedaulatan bangsa-bangsa, serta hak setiap rakyat untuk menentukan masa depannya sendiri tanpa paksaan dari pihak luar.

Di masa ketika perang-perang yang ilegal dan tanpa provokasi, blokade ekonomi, serta intervensi asing masih terus digunakan sebagai instrumen tekanan internasional, kisah hidupnya mengingatkan bahwa perlawanan tidak lahir semata-mata dari kekuatan militer; perlawanan tumbuh dari keyakinan bahwa martabat suatu bangsa tidak pernah dapat ditawar.

Kekaisaran mengumpulkan kekuasaan. Bangsa-bangsa mengumpulkan ingatan. Kekuasaan berpindah tangan. Ingatan bertahan melintasi generasi.

Mungkin warisan terbesar Ayatullah Sayyid Ali Khamenei adalah pembuktian bahwa para pemimpin boleh saja wafat, tetapi gagasan-gagasan yang berakar pada kedaulatan, keadilan, dan perlawanan akan terus berjalan bersama bangsa-bangsa yang telah mereka ilhami.

Sayid Marcos Tenório adalah seorang sejarawan, analis geopolitik, dan Presiden Institut Persahabatan Brasil-Iran. Ia merupakan penulis buku Palestine: From the Myth of the Promised Land to the Land of Resistance.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *