Dokumen CIA Ungkap Peringatan Jelas kepada Presiden AS Sebelum 9/11

bush

Washington, Purna Warta – Dokumen CIA yang baru dideklasifikasi mengungkapkan bahwa Presiden AS saat itu, George W. Bush, telah diperingatkan mengenai serangan 11 September 2001, yang kemudian menjadi dalih untuk melancarkan apa yang disebut “Perang Melawan Teror” dan intervensi militer Barat berikutnya di berbagai wilayah kawasan.

Ringkasan pengarahan presiden yang sebelumnya berstatus sangat rahasia dan berkaitan dengan serangan 9/11 dirilis oleh CIA di situs webnya pada Jumat, bertepatan dengan peringatan 25 tahun serangan yang dilakukan oleh organisasi teroris Al-Qaeda, yang pada awalnya dibentuk oleh CIA sendiri.

Dalam sebuah pernyataan, Direktur CIA John Ratcliffe menyebutnya sebagai “rilis tunggal terbesar sepanjang sejarah analisis CIA terkait 9/11.”

“Sekarang rakyat Amerika dapat melihat sendiri intelijen yang mendahului hari tragis bagi bangsa kita ini,” kata Ratcliffe dalam sebuah unggahan di X.

Peringatan yang paling terkenal bertanggal 6 Agustus 2001, sekitar satu bulan sebelum serangan, ketika Bush menerima pengarahan berjudul “Bin Ladin Bertekad Menyerang AS.”

Peringatan tersebut menyatakan bahwa Bin Laden telah merencanakan serangan terhadap AS selama bertahun-tahun.

Dokumen itu juga menyebutkan adanya aktivitas yang konsisten dengan persiapan pembajakan pesawat.

Peringatan CIA yang dirilis terkait serangan tersebut mencakup periode Februari 1998 hingga 12 September 2001.

Peringatan-peringatan awal itu ditujukan kepada Presiden Bill Clinton dalam pengarahan intelijen harian yang disampaikan CIA dan badan-badan intelijen lainnya kepada Clinton dan penerusnya, Bush.

Sebuah laporan intelijen kepada Clinton pada September 1998 secara eksplisit memperingatkan bahwa para pendukung bin Laden “mungkin menerbangkan pesawat yang dipenuhi bahan peledak ke sebuah kota di AS.”

Memo yang sama menyatakan bahwa “intelijen tidak memiliki informasi konklusif mengenai niat bin Laden untuk melakukan serangan-serangan di masa depan.”

Dokumen tersebut—yang merupakan satu dari puluhan pengarahan presiden yang sebelumnya sangat rahasia dan dirilis pada Jumat, yang menunjukkan adanya arus peringatan terus-menerus mengenai persiapan bin Laden untuk melakukan serangan terhadap Amerika Serikat, baik di wilayah AS maupun di kedutaan dan pangkalan militer AS di luar negeri—telah mengalami penyuntingan atau penghapusan informasi secara ekstensif.

Dokumen-dokumen tersebut hanya semakin membuktikan apa yang telah diperjelas oleh penyelidikan Kongres sebelumnya dan kesaksian para pejabat pemerintah AS yang menjabat pada saat itu: Washington mengetahui bahwa pemimpin Al-Qaeda tersebut sedang merencanakan “sesuatu yang mengerikan.”

Bin Laden, warga negara Arab Saudi, mulai dikenal luas selama perang Soviet di Afghanistan, ketika Washington menggelontorkan miliaran dolar untuk mempersenjatai kelompok-kelompok militan anti-Soviet melalui Pakistan dan dengan bantuan Arab Saudi.

Para pejabat AS mengklaim bahwa mereka tidak memiliki kontak langsung dengan Bin Laden. Namun, perang yang didukung Amerika membantu menciptakan infrastruktur dan lingkungan militan yang kemudian menjadi tempat munculnya Al-Qaeda.

Dalam konteks global, serangan 9/11 merupakan serangan teroris paling mematikan dalam sejarah AS, yang menewaskan 2.977 orang dan mendorong Washington melancarkan apa yang disebutnya “Perang Melawan Teror”, dengan menginvasi Afghanistan dalam hitungan minggu dan Irak kurang dari dua tahun kemudian.

Di dalam negeri, PATRIOT Act yang disahkan pada masa itu memberikan pemerintah AS kewenangan luas untuk melakukan kegiatan spionase terhadap warga negara Amerika.

Sebelumnya, badan-badan intelijen AS telah memiliki kewenangan luas untuk memata-matai warga asing, baik kawan maupun lawan.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *