Washington, Purna Warta – Washington Post mengakui kekalahan pasukan yang didukung Arab Saudi di medan pertempuran dan menyebut bahwa Ansarullah berhasil meraih kemenangan operasional melalui perencanaan yang matang.
Menurut laporan surat kabar The Washington Post, dengan mengutip seorang pejabat senior dari Dewan Politik Tertinggi pemerintah Yaman yang telah mengundurkan diri—yang disebut sebagai pihak yang bergantung pada dan didukung Arab Saudi—melaporkan kekalahan pasukan yang didukung Saudi serta keberhasilan operasional pasukan Yaman.
Pejabat tersebut mengakui mundurnya pasukan yang menjadi kaki tangan Saudi dan menegaskan bahwa Ansarullah, setelah melakukan perencanaan yang matang serta persiapan selama berbulan-bulan, berhasil melaksanakan operasinya dengan sukses.
Ia bahkan mengklaim, “Ini adalah hari pertama ketika Iran benar-benar memenangkan perang ini.”
Pejabat yang berafiliasi dengan Saudi itu juga menyatakan harapan agar Amerika Serikat melakukan intervensi militer. Ia menyerukan agar Washington melancarkan serangan-serangan serupa dengan operasi militer yang dilakukan pada 2025.
Perkembangan terbaru: Ansarullah merebut Mokha dan memperluas tekanan di Laut Merah
Laporan The Washington Post pada 10 September memberikan gambaran yang lebih luas mengenai perkembangan tersebut. Surat kabar itu melaporkan bahwa pasukan Houthi/Ansarullah telah merebut kota pelabuhan Mokha di pesisir Laut Merah. Penguasaan Mokha dinilai memberikan pengaruh strategis yang besar karena kota tersebut berada sekitar 48 kilometer dari Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia. Washington Post menyebut perkembangan ini sebagai pukulan besar bagi pasukan Yaman yang didukung Saudi dan memberikan tambahan daya tawar bagi Iran dalam konflik dengan Amerika Serikat.
Menurut laporan tersebut, keberhasilan Ansarullah merupakan bagian dari ofensif darat yang berlangsung secara cepat dan telah membawa pasukannya semakin dekat dengan Bab el-Mandeb. Para analis yang dikutip Washington Post menilai bahwa apabila Ansarullah semakin mengonsolidasikan penguasaannya di kawasan pesisir, kemampuan untuk mengganggu lalu lintas pelayaran di jalur tersebut akan meningkat. Kekhawatiran mengenai kemungkinan penutupan Bab el-Mandeb bahkan ikut mendorong harga minyak global menembus 108 dolar AS per barel.
Perkembangan itu juga memperlihatkan semakin beratnya posisi pasukan yang didukung Saudi. Pemerintah Yaman yang didukung Riyadh telah melancarkan serangan balasan dengan roket dan drone, sementara pasukan Ansarullah terus mendorong operasi mereka ke wilayah selatan. Seorang pejabat pertahanan Yaman yang dikutip Washington Post menyatakan bahwa pasukan pemerintah bertujuan merebut kembali Sanaa, ibu kota Yaman, yang telah berada di bawah kendali Ansarullah selama lebih dari satu dekade.
Serangan Ansarullah terhadap Arab Saudi
Eskalasi tersebut terjadi setelah serangkaian serangan Ansarullah terhadap sejumlah fasilitas minyak dan infrastruktur di Arab Saudi. Pada 8 September, serangan yang dilancarkan terhadap wilayah Abha, Jazan, Najran, dan Khamis Mushait menyebabkan sedikitnya 73 orang terluka, menurut pejabat Saudi. Sejumlah fasilitas minyak dan utilitas juga mengalami kebakaran dan untuk sementara menghentikan operasinya.
Washington Post melaporkan bahwa serangan tersebut merupakan eskalasi besar dalam konflik yang kembali berkobar antara Arab Saudi dan Ansarullah setelah gencatan senjata yang telah bertahan selama sekitar empat tahun mengalami keruntuhan. Eskalasi terbaru juga berpotensi semakin mengganggu jalur pelayaran Bab el-Mandeb, yang menjadi semakin penting bagi perdagangan energi global setelah lalu lintas melalui Selat Hormuz terganggu akibat perang Amerika Serikat–Iran.
Pasukan Saudi meminta bantuan Amerika Serikat
Tekanan terhadap Riyadh semakin besar. Reuters melaporkan bahwa Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman telah meminta bantuan militer kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menghadapi ancaman Ansarullah. Namun, Trump dilaporkan menolak melakukan serangan langsung terhadap Ansarullah dan Amerika Serikat hanya menawarkan bantuan berupa informasi intelijen dan dukungan penargetan.
Situasi ini menunjukkan perubahan penting dibandingkan kampanye militer sebelumnya. Saudi Arabia sebelumnya berupaya menunjukkan bahwa mereka mampu menghadapi Ansarullah sendiri, tetapi perkembangan terbaru di pesisir Laut Merah dan meningkatnya ancaman terhadap infrastruktur energi Saudi membuat Riyadh kembali membutuhkan dukungan Washington.
Perebutan pulau-pulau strategis dan Bab el-Mandeb
Perkembangan paling signifikan dalam beberapa hari terakhir adalah laporan mengenai penguasaan sejumlah wilayah strategis di sekitar Laut Merah. Reuters melaporkan bahwa pasukan Houthi/Ansarullah telah menguasai Pulau Perim yang terletak di Selat Bab el-Mandeb serta kota pesisir Dhubab. Perkembangan tersebut semakin memperkuat posisi mereka di salah satu jalur pelayaran strategis dunia.
Financial Times juga melaporkan bahwa Ansarullah telah menguasai beberapa pulau strategis di Laut Merah, termasuk Perim, Zuqar, dan Hanish, serta memperkuat kendali atas kawasan Bab el-Mandeb dan Pelabuhan Mokha. Perkembangan tersebut dinilai sebagai kemunduran strategis bagi pasukan Yaman yang didukung Saudi sekaligus keuntungan geopolitik bagi Iran.


