Al-Quds, Purna Warta – Sebuah situs berbahasa Ibrani mengungkap bahwa persediaan rudal pencegat Israel mengalami penurunan akibat perang dengan Iran, sementara Kementerian Pertahanan Israel meninggalkan utang sekitar 4 miliar dolar AS kepada perusahaan-perusahaan industri pertahanan.
Situs berbahasa Ibrani Walla mengakui bahwa utang Kementerian Pertahanan Israel kepada perusahaan-perusahaan industri militer telah mencapai sekitar 4 miliar dolar AS, setelah dalam jumlah besar rudal pencegat milik militer Israel digunakan selama perang melawan Iran.
Pakar militer Shay Gal mengatakan bahwa keterbatasan persediaan rudal sistem Arrow 3 turut memengaruhi pengambilan keputusan mengenai proses pencegatan serangan rudal Iran, khususnya rudal-rudal yang dilengkapi hulu ledak multipel (multiple warheads). Menurutnya, dalam beberapa kasus Israel memilih tidak menggunakan sebagian rudal Arrow agar persediaan tersebut dapat dipertahankan untuk menghadapi serangan yang lebih berat.
Ia menambahkan bahwa militer Israel berupaya lebih banyak mengandalkan sistem David’s Sling untuk mencegat rudal balistik Iran. Namun, sistem tersebut tidak selalu mampu menghadapi rudal Iran yang dilengkapi hulu ledak multipel.
Utang kepada Perusahaan Pertahanan Terus Membengkak
Informasi mengenai utang tersebut mendapat penguatan dari laporan Calcalist pada April 2026. Saat itu, Kementerian Pertahanan Israel dilaporkan memiliki utang sekitar 13 miliar shekel atau 4,3 miliar dolar AS kepada tiga perusahaan pertahanan utama, yakni Rafael, Israel Aerospace Industries (IAI), dan Elbit Systems. Rinciannya sekitar 6 miliar shekel kepada Rafael, 4 miliar shekel kepada IAI yang memproduksi sistem Arrow, dan 3 miliar shekel kepada Elbit Systems.
Namun, situasi tersebut semakin memburuk dalam beberapa bulan berikutnya. Pada Agustus 2026, total kewajiban Kementerian Pertahanan Israel kepada tiga perusahaan tersebut diperkirakan telah mencapai 15,5 miliar shekel atau sekitar 5,2 miliar dolar AS. Rafael disebut memiliki piutang sekitar 7 miliar shekel, IAI sekitar 5,5 miliar shekel, dan Elbit Systems sekitar 3 miliar shekel.
Tekanan finansial tersebut juga mulai berdampak terhadap arus kas perusahaan. IAI, produsen utama rudal Arrow, melaporkan bahwa utang Kementerian Pertahanan kepadanya telah melampaui 5 miliar shekel atau sekitar 1,7 miliar dolar AS. Pada kuartal kedua 2026, IAI bahkan mencatat arus kas negatif sekitar 795 juta dolar AS, meskipun pada saat yang sama perusahaan tersebut memiliki tumpukan pesanan senilai sekitar 35 miliar dolar AS.
Persediaan Rudal Pencegat Menjadi Persoalan Strategis
Kekhawatiran mengenai berkurangnya persediaan rudal pencegat bukan persoalan baru. Pada Maret dan April 2026, sejumlah laporan di Israel menyebut adanya kekhawatiran mengenai persediaan rudal Arrow 3 setelah intensitas penggunaan sistem pertahanan rudal meningkat dalam perang melawan Iran. Pemerintah Israel membantah bahwa negaranya mengalami kekurangan kritis, tetapi pada saat yang sama Kementerian Pertahanan mengambil langkah untuk mempercepat produksi rudal Arrow. Kementerian Pertahanan Israel secara resmi mengumumkan bahwa produksi Arrow akan ditingkatkan secara signifikan guna memperkuat lapisan pertahanan terhadap ancaman rudal balistik Iran dan kelompok-kelompok yang bersekutu dengan Iran.
Pada Juli 2026, seorang pejabat senior militer Israel bahkan memperingatkan bahwa kampanye perang yang berkepanjangan telah menghabiskan amunisi dalam jumlah besar. Ia menyatakan bahwa Israel membutuhkan Iron Dome, Arrow 3, dan seluruh sistem pertahanan di antara keduanya, serta memperingatkan bahwa keterlambatan pendanaan dapat menyebabkan kekurangan amunisi dan rudal pencegat apabila kembali terjadi perang besar.
Israel Mempercepat Produksi Arrow
Sebagai respons terhadap kebutuhan tersebut, Kementerian Pertahanan Israel pada Juni 2026 menyetujui rencana untuk mempercepat secara besar-besaran produksi rudal pencegat Arrow. Produksi sistem tersebut dipimpin oleh Israel Aerospace Industries dengan keterlibatan sejumlah perusahaan pertahanan Israel lainnya. Kementerian Pertahanan Israel menyatakan bahwa peningkatan kapasitas produksi diperlukan untuk memperbesar persediaan rudal pencegat dan menghadapi ancaman rudal balistik dari Iran serta kelompok-kelompok yang didukungnya.
Pada Agustus 2026, IAI mengumumkan bahwa perusahaan tersebut mencatat kinerja keuangan terbaik dalam sejarahnya pada semester pertama 2026. Penjualan mencapai sekitar 4,3 miliar dolar AS, laba bersih mencapai sekitar 449 juta dolar AS, dan total backlog pesanan mencapai sekitar 35 miliar dolar AS. Namun, besarnya backlog tersebut justru berjalan beriringan dengan persoalan arus kas karena keterlambatan pembayaran dari Kementerian Pertahanan Israel.
Tekanan Finansial Mengancam Pengisian Kembali Persediaan
Persoalan finansial menjadi semakin penting karena Israel tidak hanya harus membiayai operasi militernya, tetapi juga harus mengganti amunisi dan rudal pencegat yang telah digunakan. Laporan terbaru menyebutkan bahwa sejumlah lini produksi rudal dan artileri perusahaan pertahanan Israel bahkan berisiko menghadapi penghentian sementara karena kurangnya pendanaan untuk kontrak-kontrak baru. Dana tambahan diperlukan untuk mengisi kembali persediaan amunisi yang terkuras selama perang, membiayai operasi militer, menjaga kesiapan pasukan, sekaligus mengurangi utang Kementerian Pertahanan kepada Rafael, IAI, dan Elbit Systems yang telah mencapai sekitar 15,5 miliar shekel.
Dengan demikian, persoalan yang dihadapi Israel bukan hanya menyangkut jumlah rudal pencegat yang tersedia, tetapi juga kemampuan finansial untuk memproduksi kembali rudal-rudal tersebut dalam jumlah yang cukup dan dalam waktu singkat. Hal ini menjadi semakin strategis karena rudal Arrow 3 merupakan lapisan teratas sistem pertahanan rudal Israel terhadap rudal balistik jarak jauh, sedangkan David’s Sling berfungsi sebagai salah satu lapisan pertahanan berikutnya. Kementerian Pertahanan Israel sendiri mengakui pentingnya mempercepat produksi Arrow dan telah mengambil langkah untuk meningkatkan kapasitas produksinya.


