Jakarta, Purna Warta – Di balik layar ponsel pintar dan derasnya arus konten digital, ratusan anak Indonesia tercatat terpapar paham kekerasan maupun radikalisasi sepanjang 2026.
“Menurut data dari aparat penegak hukum, dalam hal ini Densus 88 Antiteror Polri, bahwa dari Januari hingga Agustus 2026 ada sebanyak 620 anak yang kategorinya terpapar, baik itu paham kekerasan maupun radikalisasi,” ujar Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Eddy Hartono di Hotel Grand Sahid, Jakarta, Rabu (2/9/2026).
Eddy menjelaskan, mayoritas anak yang terpapar berada pada rentang usia 11 hingga 18 tahun. Mereka terhubung dengan kelompok yang dikenal sebagai True Crime Community, komunitas yang membahas berbagai bentuk kekerasan ekstrem di ruang digital melalui platform media sosial seperti YouTube dan podcast.
“Mereka di dalam grup namanya True Crime Community. Baik di YouTube, di podcast, di beberapa media sosial lainnya. Nah, inilah yang kita intervensi, hari ini kita melakukan upaya penguatan,” ujar Eddy.
Eddy menegaskan, keberadaan True Crime Community tidak serta-merta dapat disamakan dengan terorisme, karena komunitas tersebut pada dasarnya merupakan media atau ekosistem digital. Namun, ruang tersebut dapat menjadi jembatan bagi munculnya konten yang mengarah pada kekerasan.
“Ketika komunitas ini dijadikan sarana untuk komunikasi, sharing, ataupun didiskusi, ya, nah, justru yang sangat berbahaya apabila ketika ada perubahan perilaku daripada orang, anak, remaja yang ikut tergabung di dalam grup ini,” tutur Eddy.
BNPT menyebut True Crime Community dapat berkembang menjadi ekosistem digital yang memicu normalisasi kekerasan.
Eddy mengatakan, perhatian BNPT bukan semata-mata tertuju pada keikutsertaan seseorang, melainkan perubahan perilaku setelah berinteraksi dengan konten di dalamnya, terutama ketika seseorang mulai mengglorifikasi atau menormalisasi kekerasan dalam kehidupan sehari-hari.
“Justru kami akan melihat kepada trajectory, yaitu perubahan perilaku. Sehingga dia mengglorifikasi atau menormalisasi kekerasan di dalam kehidupannya dia. Nah, ini yang kita coba lakukan mitigasi dan pencegahan,” tutur Eddy.


