
PurnaWarta – Krisis ekonomi tengah melanda Sri Lanka. Warga harus menghadapi lonjakan harga pangan dan energi yang gila-gilaan. Mahalnya harga barang menggerus daya beli warga Sri Lanka. Pedagang kesulitan menjual barang dagangan. (REUTERS/Dinuka Liyanawatte).
Aksi unjuk rasa menyoal krisis ekonomi dan politik di Sri Lanka pun marak dilakukan. Awal pekan ini, Senin (18/4), ribuan warga menggeruduk kantor presiden dan menuntut Presiden Gotabaya Rajapaksa mundur dari kursinya. (REUTERS/Dinuka Liyanawatte).
Krisis ekonomi mencekik warga Sri Lanka sejak Maret lalu. Pemerintah Sri Lanka meminta bantuan Dana Moneter Internasional (IMF) untuk memberikan pinjaman. (REUTERS/Dinuka Liyanawatte).
Pekan lalu, pemerintah Sri Lanka mengumumkan risiko gagal bayar utang luar negeri US$51 miliar atau Rp732 triliun (kurs Rp14.371 per dolar AS) sebagai langkah terakhir setelah kehabisan devisa untuk mengimpor barang pokok yang dibutuhkan masyarakat. (REUTERS/Dinuka Liyanawatte).
Awal pekan ini, Presiden Gotabaya Rajapaksa mengangkat 17 menteri baru sebelum bertemu dengan perwakilan IMF. (REUTERS/Dinuka Liyanawatte).






