Al-Quds, Purna Warta – Kelompok lobi finansial Israel yang memiliki pengaruh dalam tim Trump diyakinkan untuk memblokade Selat Hormuz demi keuntungan ekonomi. Lobi ini bekerja melalui tokoh-tokoh kunci di dalam dan luar Gedung Putih, mengubah blokade menjadi alat untuk melemahkan Iran. Bagaimana Trump diyakinkan masuk ke dalam lingkaran ini?
Khabar Online – Rasul Salimi: Setelah pengumuman blokade laut AS di Selat Hormuz, peran lobi Israel dalam pengambilan keputusan Trump menjadi sorotan tajam. Laporan Foreign Policy menunjukkan bahwa Miriam Adelson (investor terbesar kampanye Trump dengan lebih dari 100 juta dolar), Jared Kushner (menantu sekaligus penasihat), Marco Rubio (Menteri Luar Negeri), dan Komite Urusan Publik Amerika–Israel (AIPAC) melalui tekanan finansial dan politik langsung mendorong Trump ke arah keputusan tersebut. Lobi ini bekerja dari dalam dan luar Gedung Putih, menjadikan blokade sebagai alat untuk melemahkan Iran.
Perang Iran dengan Amerika Serikat dan Israel serta pengumuman blokade Hormuz oleh Trump menyoroti lobi Israel sebagai faktor kunci pengambilan keputusan. Miriam Adelson, istri Sheldon Adelson dan investor terbesar kampanye Trump 2024, dengan dana lebih dari 100 juta dolar, secara langsung memengaruhi kebijakan Timur Tengah Trump. Laporan Foreign Policy menegaskan bahwa lobi Israel (AIPAC dan kelompok terkait) dengan dana miliaran dolar memaksakan kebijakan “tekanan maksimum” kepada Trump.
Struktur lobi Israel dan tokoh kunci yang menekan Trump
Lobi ini bukan sekadar kelompok sederhana, melainkan sistem berlapis yang terdiri dari PAC (Political Action Committee), investor individu kuat, think tank berpengaruh, dan legislator terkait. Kombinasi kekuatan finansial, akses langsung ke pengambil keputusan, dan pembentukan opini media menjadikan lobi ini mampu membentuk kebijakan luar negeri AS di Timur Tengah.
Dalam kasus keputusan blokade Hormuz, jaringan ini bergerak langsung dan intens.
Di puncak struktur ini adalah Miriam Adelson, yang menyumbang lebih dari 100 juta dolar kepada PAC “Preserve America” dalam kampanye 2024, menjadikannya donor individu terbesar. Laporan Jacobin (Maret 2026) menyebut Adelson sebagai figur yang mengarahkan kebijakan “tekanan maksimum” terhadap Iran dan mendorong blokade Hormuz sebagai instrumen utama.
Adelson tidak hanya memberi dana, tetapi juga melakukan pertemuan tertutup di Gedung Putih untuk meyakinkan Trump bahwa pelunakan terhadap Iran akan merugikan Israel dan AS.
Jared Kushner juga menjadi tokoh penting, menggunakan akses keluarga dan hubungan dekat dengan Trump untuk membawa agenda lobi Israel ke dalam Gedung Putih. Dalam laporan Foreign Policy (17 Maret 2026), Kushner disebut hadir dalam rapat keputusan blokade Hormuz dan menggunakan laporan intelijen Israel untuk meyakinkan Trump.
Steve Witkoff, utusan khusus Timur Tengah, berperan sebagai penghubung antara lobi dan Gedung Putih. Sementara Marco Rubio dan Mike Huckabee juga disebut sebagai pendukung kuat kebijakan ini.
Peran Miriam Adelson sebagai pengungkit finansial utama
Miriam Adelson menyumbang lebih dari 100 juta dolar kepada PAC Trump pada 2024, dan kontribusi itu berlanjut setelah pemilu. Hal ini membuat Trump terikat pada kebijakan pro-Israel.
Dalam pidatonya di Knesset (2025), Trump bahkan menyebut Adelson sebagai seseorang yang “lebih mencintai Israel daripada Amerika”.
Laporan Jacobin (2026) menyatakan bahwa Adelson bersama AIPAC mendorong perang Iran melalui dana besar dan laporan analitis dari think tank seperti Foundation for Defense of Democracies (FDD) dan United Against Nuclear Iran (UANI).
Blokade Hormuz, yang secara resmi disebut untuk “melindungi pelayaran”, pada praktiknya menjadi alat tekanan maksimum terhadap Iran.
Peran AIPAC dan think tank terkait
AIPAC adalah PAC pro-Israel terbesar di AS. Pada 2024, mereka menghabiskan lebih dari 22 juta dolar untuk mendukung kandidat pro-Israel.
Laporan Jacobin menyebut AIPAC mengoordinasikan legislator untuk mendukung kebijakan tekanan terhadap Iran, termasuk blokade Hormuz.
Dua think tank utama:
- Foundation for Defense of Democracies (FDD)
- United Against Nuclear Iran (UANI)
keduanya menghasilkan laporan yang menggambarkan Iran sebagai ancaman eksistensial dan mendorong blokade sebagai solusi strategis.
Menurut Foreign Policy, jaringan ini secara langsung berperan dalam keputusan perang terhadap Iran.
Dampak strategis blokade Hormuz Untuk Israel
- Ekspor minyak Iran turun dari 1,4 juta menjadi di bawah 800 ribu barel per hari (Kpler, 2026)
- Melemahkan pendanaan program rudal dan drone Iran
- Mengurangi dukungan untuk kelompok seperti Hizbullah dan Houthi
Artinya, Israel mendapatkan keuntungan strategis tanpa terlibat perang langsung.
Untuk Amerika Serikat
- Harga minyak global naik 10–15 dolar per barel (Bloomberg, April 2026)
- Industri shale oil AS diuntungkan jangka pendek
- Namun inflasi domestik meningkat
Meski demikian, lobi Israel berhasil membingkai kebijakan ini sebagai “keamanan energi global”.
Kesimpulan
Blokade Hormuz merupakan:
- Kemenangan taktis bagi Israel
- Keputusan strategis tetapi mahal bagi Amerika Serikat
Lobi Israel, melalui kombinasi kekuatan finansial (Miriam Adelson), akses politik (Kushner, Rubio), dan think tank (AIPAC, FDD, UANI), berhasil membentuk kebijakan Trump.
Pada akhirnya, keputusan ini menunjukkan bahwa kebijakan luar negeri AS di Timur Tengah sangat dipengaruhi oleh jaringan lobi yang kuat, bukan semata kepentingan strategis nasional yang independen.


