New York, Purna Warta – World Health Organization menyatakan bahwa pembangunan kembali infrastruktur kesehatan di Jalur Gaza membutuhkan dana miliaran dolar, angka yang mencerminkan besarnya kerusakan akibat konflik berkepanjangan dan krisis kemanusiaan di wilayah tersebut.
Menurut laporan situs berita Palestine Alaan, WHO mengumumkan bahwa rekonstruksi dan pemulihan sistem kesehatan di Jalur Gaza memerlukan sekitar 10 miliar dolar AS investasi selama lima tahun ke depan.
Dalam konferensi pers di Geneva, perwakilan WHO untuk wilayah Palestina, Reinhilde Van de Weerdt, menyatakan bahwa kebutuhan total sektor kesehatan di Gaza selama lima tahun mendatang diperkirakan mencapai sekitar 10 miliar dolar AS.
Menurutnya, angka tersebut mencakup pembangunan kembali infrastruktur, pemulihan layanan kesehatan, serta pemenuhan kebutuhan medis yang terus meningkat, terutama bagi ribuan anak-anak dan korban luka perang, termasuk mereka yang mengalami amputasi, kelumpuhan akibat luka tembak, dan gangguan kesehatan mental serius.
Ia menambahkan bahwa lebih dari 1.800 fasilitas kesehatan telah hancur total atau mengalami kerusakan parah.
Pejabat PBB itu juga menyoroti buruknya kondisi tempat tinggal para pengungsi. Berdasarkan penilaian di lebih dari 1.600 lokasi pengungsian, sebagian besar lokasi menghadapi masalah seperti infestasi tikus dan hama, yang berdampak pada sekitar 1,45 juta orang.
Menurutnya, lebih dari 80 persen tempat penampungan juga melaporkan merebaknya penyakit menular dan masalah kulit seperti kudis, kutu, dan kutu busuk, yang semakin meningkatkan kekhawatiran akan memburuknya krisis kesehatan di Gaza.
Adapun laporan terbaru bersama dari United Nations, European Union, dan World Bank menyebutkan bahwa total kebutuhan pemulihan dan rekonstruksi Gaza secara keseluruhan diperkirakan mencapai 71,4 miliar dolar AS selama 10 tahun, dengan sektor kesehatan termasuk salah satu yang paling terdampak. Laporan tersebut juga menyebut kebutuhan pemulihan sektor kesehatan sendiri sekitar 10,03 miliar dolar AS selama lima tahun.
Media internasional juga melaporkan bahwa perang yang berlangsung lebih dari dua tahun telah membuat sebagian besar rumah sakit di Gaza tidak berfungsi, sementara pembatasan bantuan kemanusiaan memperburuk kondisi pasien dengan penyakit kronis dan korban luka perang.


