Al-Quds, Purna Warta – Sedikitnya dua warga Palestina tewas dan beberapa lainnya terluka pada Jumat dalam serangan udara Israel yang menargetkan sekelompok warga sipil di kawasan Al-Nasr, sebelah barat Kota Gaza, menurut sumber medis.
Korban jiwa tersebut terjadi setelah serangan drone yang menghantam warga sipil di lingkungan Al-Nasr pada hari yang sama. Sumber medis menyebutkan bahwa jenazah dua korban dan sejumlah korban luka telah dibawa ke Rumah Sakit Al-Shifa.
Serangan ini terjadi di tengah berlanjutnya pelanggaran oleh Israel terhadap kesepakatan gencatan senjata yang berlaku sejak Oktober 2025.
Sebelumnya, kantor media pemerintah Gaza menyatakan dalam sebuah pernyataan bahwa Israel telah melakukan sekitar 2.400 pelanggaran gencatan senjata, termasuk pembunuhan, penangkapan, pengepungan, dan kebijakan kelaparan terhadap warga sipil.
Pelanggaran yang terus berlangsung tersebut dilaporkan telah menyebabkan 972 warga Palestina tewas dan 2.235 lainnya terluka sejak kesepakatan gencatan senjata diberlakukan.
Perkembangan ini terjadi setelah perang besar yang oleh berbagai organisasi internasional disebut sebagai perang genosida, yang menurut data terbaru telah menewaskan lebih dari 72.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 172.000 orang, sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak.
Sementara itu, kekerasan juga meningkat di wilayah Tepi Barat yang diduduki, baik oleh pasukan Israel maupun kelompok pemukim ekstremis sejak Oktober 2023. Dalam periode tersebut, sedikitnya 1.154 warga Palestina tewas, sekitar 11.750 terluka, dan hampir 22.000 orang ditangkap akibat operasi militer dan penggerebekan Israel di wilayah tersebut.
Kantor media pemerintah Gaza sebelumnya menyatakan bahwa Israel telah melakukan sekitar 2.400 pelanggaran gencatan senjata, termasuk pembunuhan, penangkapan, blokade, dan kebijakan kelaparan terhadap warga sipil.
Akibat pelanggaran tersebut, ratusan warga Palestina telah tewas dan ribuan lainnya terluka sejak kesepakatan diberlakukan.
Laporan lain dari otoritas kesehatan Gaza dan lembaga pemantau konflik menyebutkan bahwa sejak gencatan senjata dimulai, jumlah korban jiwa terus meningkat karena serangan udara, penembakan, dan operasi militer di berbagai wilayah Jalur Gaza, termasuk Gaza City, Khan Younis, dan wilayah utara Gaza.
Sementara itu, situasi di Gaza digambarkan sebagai kondisi “tidak benar-benar perang dan tidak benar-benar damai”, dengan serangan yang terus terjadi meskipun ada kesepakatan gencatan senjata, serta krisis kemanusiaan yang semakin memburuk akibat terbatasnya bantuan dan kerusakan infrastruktur sipil.
Dalam perkembangan terkait, media internasional juga melaporkan bahwa gelombang kekerasan di Gaza dan wilayah Palestina lainnya tetap tinggi, termasuk serangan yang menargetkan warga sipil, fasilitas publik, dan infrastruktur, yang memperburuk situasi kemanusiaan di wilayah tersebut.


