Gaza, Purna Warta – Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization / WHO) menyatakan bahwa lebih dari seribu warga Palestina telah meninggal dunia di Jalur Gaza saat menunggu izin evakuasi medis dari otoritas Israel antara Juli 2024 hingga akhir November tahun ini.
Baca juga: Pasukan Israel Tewaskan Remaja Palestina dalam Penggerebekan di Tepi Barat Bagian Utara
Perwakilan WHO untuk wilayah Palestina yang diduduki, Rik Peeperkorn, mengatakan kepada para wartawan di Markas Besar PBB di New York bahwa sebanyak 1.092 warga Palestina kehilangan nyawa dalam periode tersebut, mengutip data dari otoritas kesehatan Gaza.
Ia mencatat bahwa angka tersebut kemungkinan lebih rendah dari kondisi sebenarnya dan belum sepenuhnya merepresentasikan situasi di lapangan, karena hanya didasarkan pada kematian yang dilaporkan.
Peeperkorn menambahkan bahwa WHO “telah menyerukan kepada lebih banyak negara untuk menerima pasien dari Gaza serta agar operasi evakuasi medis kembali dilakukan ke Tepi Barat,” termasuk Al-Quds Timur.
Menurut Peeperkorn, 18 dari 36 rumah sakit dan 43 persen pusat layanan kesehatan primer di Gaza masih berfungsi secara terbatas. Ia juga menyoroti kekurangan parah obat-obatan esensial dan perlengkapan medis, termasuk yang dibutuhkan untuk pengobatan penyakit jantung.
Meski tingkat persetujuan untuk pasokan yang ditujukan ke Gaza mengalami perbaikan, kata Peeperkorn, proses memasukkan obat-obatan dan peralatan medis ke wilayah tersebut tetap “lambat dan tidak perlu rumit.”
Ia menyebutkan bahwa WHO terus menghadapi kendala dalam membawa reagen laboratorium dan komponen penting mesin laboratorium ke Gaza, karena banyak barang ditolak masuk dengan alasan diklasifikasikan sebagai barang penggunaan ganda (dual-use).
Peeperkorn menyerukan kepada otoritas Israel untuk memberikan “persetujuan menyeluruh” bagi masuknya pasokan medis ke Gaza agar kebutuhan mendesak dapat segera ditangani.
Ia juga mengatakan bahwa Badai Byron menghantam Gaza dengan keras, memperparah penderitaan keluarga-keluarga yang telah mengungsi.
Menurutnya, kondisi musim dingin yang dikombinasikan dengan buruknya akses air bersih dan sanitasi diperkirakan akan memicu lonjakan infeksi saluran pernapasan akut, hepatitis, serta penyakit diare.
Peeperkorn memperingatkan bahwa anak-anak, lansia, dan mereka yang memiliki penyakit kronis tetap berada pada risiko terbesar.
Sejak gencatan senjata Gaza mulai berlaku pada 10 Oktober, militer Israel dilaporkan berulang kali melanggar kesepakatan tersebut, yang mengakibatkan sedikitnya 386 warga Palestina tewas dan 1.018 lainnya terluka.
Sejak Oktober 2023, serangan Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 70.300 orang—sebagian besar perempuan dan anak-anak—serta melukai lebih dari 171.000 orang. Serangan tersebut terus berlanjut meskipun telah diumumkan adanya gencatan senjata.


