Warganet Desak Pembebasan Dokter Gaza Setelah Setahun Dipenjara Israel

Gaza z

Al-Quds, Purna Warta – Warganet dan kalangan tenaga medis menyerukan pembebasan Dokter Hossam Abu Safia, yang telah menjalani satu tahun penahanan oleh Israel tanpa dakwaan maupun proses peradilan, setelah ia menolak meninggalkan pasien-pasiennya di Rumah Sakit Kamal Adwan, Jalur Gaza.

Baca juga: Kelompok HAM: Israel Percepat Legalisasi Permukiman untuk Menghalangi Negara Palestina

Abu Safia, yang dikenal atas kepemimpinannya yang teguh sebagai direktur rumah sakit di Beit Lahiya, utara Kota Gaza, tetap bertahan di rumah sakit bersama staf medis meski wilayah tersebut terus digempur serangan pasukan Israel. Rumah sakit itu akhirnya dikepung dan dievakuasi oleh pasukan Israel, yang kemudian menahan Abu Safia.

Gambar Abu Safia yang digiring keluar dari rumah sakitnya, yang tersebar luas di media sosial, telah menjadi simbol risiko besar yang dihadapi tenaga medis yang bekerja di bawah pendudukan.

Para pendukung pada Sabtu memanfaatkan media sosial untuk menyoroti keberaniannya serta ketidakadilan atas penahanannya.

Abdullah Omar, pengguna platform X berusia 24 tahun, memuji keputusan Abu Safia yang tetap bersama para pasiennya meskipun menghadapi risiko besar.

“Karena ia menolak melarikan diri dan memilih menyelamatkan nyawa, pendudukan menangkapnya. Ia bertahan bersama pasien-pasiennya hingga detik terakhir,” tulis Omar.

Dokter layanan primer Yipeng Ge mengenang hari penculikan Abu Safia saat penggerebekan berlangsung, seraya menyerukan pembebasan segera.

“Setahun lalu, Dr. Hossam Abu Safia diculik oleh militer Israel bersama puluhan tenaga medis lainnya dalam penggerebekan mengerikan di Rumah Sakit Kamal Adwan di Gaza,” ujarnya.

Dokter perawatan paliatif Kavita Algu menyoroti penderitaan sekaligus dedikasi Abu Safia, dengan menggambarkan bagaimana pasukan Israel memaksanya “masuk ke dalam tank dengan mengenakan jas dokter putihnya.”

“Ia telah menjalani satu tahun penyiksaan oleh negara teroris hanya karena berupaya melindungi kehidupan. Ia harus dibebaskan sekarang juga,” katanya.

Cory Archibald mengomentari momen saat Abu Safia dibawa keluar dari rumah sakit, dengan menekankan ketidakadilan yang dialaminya.

“Ia berharap bisa berdialog dan diperlakukan dengan hormat sebagai tenaga medis netral. Sebaliknya, mereka menjadikannya tahanan. Inilah kekejaman Israel. Inilah pendudukan. Inilah terorisme Israel,” tulisnya.

Priti Gulati Cox menyoroti kehilangan pribadi yang dialami Abu Safia selama penahanannya.

Baca juga: Ledakan Situasi Kian Dekat: Tepi Barat di Antara Peringatan Keamanan dan Kekerasan Kepala Para Politikus

“Sudah 428 hari sejak putranya, Ibrahim, terbunuh; 363 hari sejak ibunya meninggal akibat serangan jantung karena berduka atas nasibnya; dan 812 hari sejak kebisuan kita…” tulisnya.

Gelombang unggahan lain mengungkapkan kemarahan atas berlanjutnya penahanan Abu Safia di tengah kebisuan internasional.

Kelompok advokasi Within Our Lifetime menyatakan bahwa Abu Safia “dipenjara, disiksa, dan ditahan tanpa dakwaan maupun pengadilan karena menyelamatkan nyawa di Gaza selama genosida yang berlangsung. Kita belum berbuat cukup untuk memperjuangkan kebebasannya. Kita harus berbuat lebih banyak.”

Pengguna X bernama Mel menulis bahwa satu tahun penuh telah berlalu sementara dokter tersebut masih ditahan di penjara Israel, seraya mengecam para politisi Amerika Serikat yang terus mendukung rezim tersebut.

“Semoga aib abadi menghantui setiap politisi Amerika yang terus mendukung kebiadaban ini,” tulisnya.

Sejumlah unggahan lain menyoroti momen penangkapannya sebagai gambaran nyata perang terhadap sistem kesehatan Gaza.

Jurnalis independen Khalissee menggambarkan Abu Safia sebagai “dokter yang menolak meninggalkan rakyatnya,” mengenang bagaimana ia berjalan melewati puing-puing menuju sebuah tank Israel sebelum akhirnya ditawan.

Abu Safia dilaporkan ditahan dalam kondisi ekstrem dan telah kehilangan lebih dari sepertiga berat badannya. Keluarganya menyatakan kekhawatiran serius atas kondisi kesehatannya, dengan menyebut adanya masalah jantung, tekanan darah tinggi, infeksi kulit, serta ketiadaan perawatan medis khusus.

Penahanan berkelanjutan terhadap Abu Safia menuai kecaman internasional, terutama karena perannya dalam mendokumentasikan serangan sistematis Israel terhadap sistem kesehatan Gaza serta mengungkap penargetan sengaja terhadap infrastruktur medis selama kampanye genosida Israel.

Kasus ini menegaskan urgensi tindakan internasional untuk melindungi tenaga medis yang ditahan dalam kondisi seperti itu. Kementerian Kesehatan Gaza dan berbagai organisasi hak asasi manusia telah berulang kali menuntut pembebasan segera Abu Safia, namun seruan tersebut terus diabaikan oleh Israel.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *