Al-Quds, Purna Warta – Menyusul terjadinya operasi Beisan di wilayah utara Palestina terjajah yang dilakukan oleh seorang pemuda Palestina dari kota Qabatiya, militer rezim Zionis mulai menyampaikan sejumlah rekomendasi kepada para politisi rezim tersebut. Di antaranya, militer meminta agar para pekerja Palestina dikembalikan ke tempat kerja mereka di dalam wilayah Palestina terjajah sebelum situasi memburuk dan meledak. Namun pada kenyataannya, militer rezim ini justru menanti terjadinya ledakan tersebut untuk melengkapi berkas kejahatannya di Tepi Barat.
Baca juga: Akses Hanzala ke Konten Ponsel Lingkaran Terdekat Netanyahu
Imad Abu Awad, Direktur Pusat Studi Al-Quds, mengatakan bahwa kabinet rezim Zionis saat ini, dengan ideologi yang mendominasinya, meyakini bahwa besarnya “capaian” mereka di Tepi Barat lebih besar dibandingkan kerugian yang ditimbulkan. Oleh karena itu, mereka tidak berminat menghentikan langkah-langkah lapangan, mengurangi eskalasi bentrokan, maupun mencabut larangan masuknya pekerja Palestina ke wilayah Palestina terjajah (rezim Israel).
Lembaga-lembaga intelijen dan militer rezim pendudukan menyadari bahwa meledaknya situasi di Tepi Barat akan membawa konsekuensi yang sangat dahsyat dan berbeda dari krisis-krisis sebelumnya. Namun demikian, lembaga politik rezim ini tetap bersikeras melanjutkan kebijakan tersebut demi meraih kepuasan para pemukim Israel di Tepi Barat.
Saad Nimer, guru besar ilmu politik di Universitas Birzeit, mengatakan bahwa para politisi Israel saat ini hanya berfokus pada upaya memuaskan para pemukim, terutama ketika rezim tersebut menghadapi kemungkinan pemilu pada akhir tahun ini, atau lebih tepatnya pemilu dini. Ia menambahkan bahwa lembaga intelijen dan militer rezim Israel memandang aksi-aksi individual yang dilakukan pemuda Palestina sebagai pendahuluan menuju ledakan besar di wilayah tersebut.
Baca juga: Demonstrasi Besar di Stockholm Protes Pelanggaran Gencatan Senjata di Gaza
Lembaga-lembaga intelijen, melalui pemantauan perkembangan di Tepi Barat, menilai bahwa terjadinya ledakan situasi hampir tak terelakkan dan karena itu berupaya mengendalikannya sebelum terjadi. Namun, lembaga politik rezim Zionis secara terus-menerus mengabaikan peringatan-peringatan tersebut.


