Gaza, Purna Warta – UNRWA menggambarkan kondisi Gaza saat ini sebagai sangat mengerikan dan menyatakan bahwa berlanjutnya pembunuhan serta pencegahan distribusi bantuan akan menyebabkan berlanjutnya genosida di wilayah tersebut.
Baca juga: Hamas: Pernyataan Mladenov Membenarkan Pengetatan Blokade Gaza
Menurut laporan Kantor Berita Al Mayadeen, Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) menyebut situasi umum di Jalur Gaza sangat memprihatinkan. Akihiro Seita, Direktur Departemen Kesehatan badan tersebut, menegaskan bahwa Gaza masih menderita akibat terus berlangsungnya pelanggaran gencatan senjata oleh rezim Zionis. Warga di wilayah itu masih terus terbunuh dan bantuan yang masuk tidak memadai.
Seita menjelaskan bahwa akibat rancangan undang-undang yang diajukan oleh Knesset rezim Zionis terhadap UNRWA, badan tersebut kini tidak lagi dapat memasukkan obat-obatan ke Gaza dan Tepi Barat.
Dalam konteks yang sama, ia menyinggung hilangnya dua pusat kesehatan di Yerusalem Timur pada awal tahun ini yang sebelumnya melayani sekitar 11 ribu pasien setiap tahun.
Direktur Departemen Kesehatan UNRWA itu juga mengungkapkan bahwa lembaga tersebut tengah menghadapi krisis keuangan yang sangat berat, baik secara internal maupun operasional. Sejak awal Februari tahun ini, gaji pegawai serta jam kerja mereka telah dipangkas sebesar 20 persen.
Ia juga menegaskan bahwa bantuan yang masuk masih jauh dari cukup dan kehidupan di Jalur Gaza tetap berada dalam kondisi yang menyedihkan. Banyak staf badan PBB tersebut masih tinggal di tenda-tenda pengungsian.
Dua Juta Warga Palestina Terkepung di 40 Persen Wilayah Gaza
Di sisi lain, Naji Sarhan, pakar rekonstruksi dan mantan Wakil Menteri Tenaga Kerja dan Perumahan Gaza, menyatakan bahwa akibat perang dan serangan besar-besaran rezim Zionis, sekitar 85 persen bangunan di Jalur Gaza telah hancur dan hampir dua juta warga Palestina terpaksa hidup hanya di 40 persen wilayah kawasan tersebut.
Ia memperingatkan meningkatnya krisis kemanusiaan dan pembangunan di Jalur Gaza, serta menegaskan bahwa hanya 15 persen bangunan di Gaza yang masih berdiri.
Sarhan menyatakan bahwa hanya 5 persen gedung apartemen di Gaza yang masih utuh, sementara tentara rezim Zionis telah menghancurkan lebih dari 300 ribu unit rumah secara total. Sekitar 80 ribu unit rumah lainnya juga tidak lagi layak huni akibat tingkat kerusakan yang sangat parah.
Baca juga: Syahidnya Lima Polisi dan Satu Anak Akibat Serangan Udara Rezim Pendudukan di Utara Gaza
Sarhan juga menyebutkan bahwa sekitar 60 persen wilayah Jalur Gaza secara efektif tidak lagi dapat diakses oleh penduduk. Hal ini menyebabkan hampir dua juta warga Palestina terkonsentrasi hanya di 40 persen wilayah Gaza, sehingga menimbulkan kepadatan ekstrem dan kondisi kehidupan yang sangat sulit.
Mantan pejabat Palestina tersebut menambahkan bahwa sekitar 80 persen penduduk Gaza kini hidup dalam kondisi sangat padat atau tinggal di rumah-rumah yang rusak dan hancur. Ia juga mengatakan bahwa tiga ribu unit rumah di Gaza telah diklasifikasikan sebagai bangunan sangat berbahaya yang mengancam keselamatan penghuninya.
Sarhan menambahkan bahwa berlanjutnya pelarangan masuknya bahan bangunan ke Jalur Gaza akan memperdalam krisis kemanusiaan dan ekonomi, serta menjadi hambatan serius bagi proses rekonstruksi wilayah tersebut. Ia memperingatkan kemungkinan gagalnya upaya pembangunan kembali dan terus berlanjutnya krisis perumahan di Gaza.


