New York, Purna Warta – Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) memperingatkan bahwa sekitar 1,6 juta orang di Jalur Gaza menghadapi kerawanan pangan akut, menyoroti semakin memburuknya krisis kemanusiaan di wilayah tersebut di tengah pelanggaran berat perjanjian gencatan senjata oleh Israel.
Dalam pernyataan yang dirilis pada Selasa, UNRWA mengutip laporan terbaru Integrated Food Security Phase Classification (IPC) yang menyebutkan bahwa sekitar 77 persen penduduk Gaza masih mengalami tingkat kerawanan pangan akut yang tinggi.
UNRWA menambahkan bahwa warga Palestina di Gaza terus hidup dalam kondisi kemanusiaan yang sangat memprihatinkan, yang hampir tidak menunjukkan perbaikan meskipun telah lebih dari dua bulan berada di bawah gencatan senjata.
“Di Gaza, kondisi tetap sangat buruk dan kebutuhan kemanusiaan sangat besar. Keluarga-keluarga terus mengalami kekurangan parah dan kehancuran yang meluas,” demikian bunyi pernyataan tersebut.
“Gaza masih berada dalam krisis kelaparan yang disebabkan oleh manusia,” ujar UNRWA, mengutip Komisaris Jenderal badan tersebut, Philippe Lazzarini.
Badan PBB itu menegaskan kembali bahwa tim-timnya, yang sebagian juga mengalami pengungsian, masih terus bekerja di lapangan untuk mendukung keluarga-keluarga yang terdampak.
Namun demikian, sejak 2 Maret, bantuan UNRWA tidak diizinkan masuk langsung ke Jalur Gaza.
Baca juga: Netanyahu Hadir di Pengadilan untuk ke-65 Kalinya dalam Sidang Korupsi yang Masih Berlangsung
Israel telah melarang UNRWA beroperasi di wilayah Palestina yang diduduki, setelah menuduh sejumlah staf badan tersebut terlibat dalam operasi Badai Al-Aqsa pada Oktober 2023.
Meski UNRWA telah berulang kali meminta rezim Israel untuk memberikan bukti atas tuduhan tersebut, badan PBB itu menyatakan belum menerima tanggapan apa pun.


