New York, Purna Warta – Juru bicara lembaga PBB untuk urusan anak (UNICEF), Tess Ingram, menyoroti situasi genting yang dialami lebih dari satu juta anak di Gaza yang masih membutuhkan pasokan pangan dan air bersih secara mendesak.
Baca juga: “No Israel”: Pebisnis Thailand Memprotes Pelanggaran dan Usaha Ilegal oleh Pengunjung Asal Israel
Dalam sebuah wawancara pada hari Minggu, Ingram menyatakan bahwa ribuan anak tidur dalam kondisi lapar setiap malam, dan sekitar 650.000 anak belum dapat kembali bersekolah meskipun kesepakatan gencatan senjata telah tercapai baru-baru ini.
Ingram menggambarkan gencatan senjata tersebut sebagai “kabar baik” karena telah mengakhiri pemboman harian yang merenggut nyawa anak-anak. Namun, ia menegaskan bahwa gencatan senjata saja tidak cukup untuk mengakhiri kelaparan dan memastikan keluarga dapat memperoleh akses terhadap air minum yang aman.
“Keluarga-keluarga di Gaza masih berjuang setiap hari untuk bertahan hidup, dan infrastruktur yang menyediakan layanan vital seperti air dan layanan medis bagi anak-anak telah mengalami kerusakan parah,” ujar Ingram, seraya menambahkan bahwa akses terhadap kebutuhan dasar masih sangat sulit.
Ia menyebutkan bahwa jumlah bantuan yang masuk ke Jalur Gaza meningkat sedikit selama dua minggu pertama setelah gencatan senjata, namun menekankan bahwa volume bantuan tersebut masih “jauh dari memadai”.
Ia juga mencatat bahwa tingkat bantuan yang saat ini diterima masih jauh di bawah tingkat sebelum pecahnya permusuhan.
Pernyataan Ingram kembali menyoroti kondisi jutaan anak di Gaza, dengan banyak di antaranya menderita penyakit yang sebenarnya dapat diobati, akibat kekurangan dokter dan pasokan medis yang sangat parah.
Krisis kemanusiaan yang berlangsung terus memberikan tekanan besar terhadap keluarga dan layanan kesehatan, membuat banyak anak rentan tidak memperoleh perawatan yang sangat mereka butuhkan.
Gencatan senjata mulai berlaku di Jalur Gaza pada 10 Oktober. Meski demikian, kondisi tetap memprihatinkan. Sebagian besar wilayah masih tidak dapat diakses karena keberadaan pasukan Israel yang masih berlanjut.
Baca juga: Drone Bertenaga AI yang Digunakan Dalam Genosida di Gaza kini Memantau Kota-Kota di AS
Rezim Israel terus melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan gerakan perlawanan Palestina, Hamas, melalui serangan udara dan penembakan, sambil membatasi masuknya bantuan ke wilayah tersebut.
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan pada hari Sabtu bahwa sedikitnya 68.527 warga Palestina telah terbunuh di Gaza selama dua tahun terakhir, dengan ribuan lainnya diperkirakan masih tertimbun di bawah reruntuhan atau berada di lokasi yang tidak dapat dijangkau tim penyelamat akibat kehancuran luas dan kondisi yang terus berbahaya.
Menurut otoritas setempat, lebih dari dua pertiga dari total korban meninggal adalah perempuan dan anak-anak, yang disebut seringkali terbunuh bersama keluarga mereka dalam serangan udara Israel.


