Al-Quds, Purna Warta – Yerusalem yang diduduki – Mantan Perdana Menteri Israel, Naftali Bennett, mengakui bahwa Israel secara diam-diam telah menyelundupkan perangkat penerima internet satelit Starlink ke Iran dengan tujuan membantu kelompok-kelompok perusuh mengorganisasi aktivitas mereka dan melemahkan pemerintahan Republik Islam Iran.
Dalam pidatonya pada Konferensi Kebijakan Internasional JNS di Yerusalem yang diduduki pada Selasa, Bennett mengungkapkan bahwa rezim Israel telah memulai sebuah rencana untuk memasok dan menyelundupkan puluhan ribu perangkat penerima Starlink ke Iran.
Meskipun layanan Starlink milik perusahaan SpaceX yang dipimpin Elon Musk tidak memiliki izin resmi untuk beroperasi di Iran, Musk sebelumnya pernah mengonfirmasi bahwa layanan tersebut aktif di negara tersebut.
Bennett menyatakan bahwa perangkat-perangkat tersebut dimaksudkan agar “para perusuh dapat saling berkoordinasi dan pada akhirnya menjatuhkan pemerintah Iran.”
Ia menambahkan:
“Sayangnya, kabinet Israel saat ini yang tidak efektif menghentikan rencana tersebut, sehingga ketika kerusuhan terjadi, infrastruktur yang diperlukan belum tersedia.”
Jaringan Starlink diaktifkan di Iran pada periode antara agresi Amerika Serikat–Israel selama 12 hari pada Juni 2025 dan agresi berikutnya pada Januari 2026.
Pada Februari lalu, The Wall Street Journal melaporkan bahwa pemerintah Amerika Serikat secara rahasia telah memindahkan ribuan terminal Starlink ke Iran.
Kemudian, kantor berita Reuters melaporkan bahwa selama agresi kedua Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, militer Amerika menggunakan infrastruktur internet Starlink untuk mengarahkan drone dalam serangan ke wilayah Iran yang mengakibatkan tewasnya warga sipil.
Iran sebelumnya telah menyoroti peran Israel dan Amerika Serikat dalam penyelundupan peralatan semacam itu ke dalam negeri Iran dengan tujuan melemahkan keamanan internal negara tersebut.
Bennett, yang saat ini memimpin partai sayap kanan dan termasuk salah satu tokoh oposisi yang menantang Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam pemilu mendatang, mengatakan bahwa dirinya akan terus berupaya melemahkan pemerintahan Iran apabila kembali berkuasa.
Ia menyatakan bahwa langkah-langkah tersebut dapat mencakup tindakan non-militer seperti sabotase ekonomi dan industri, dengan tujuan yang secara terbuka dinyatakannya sebagai upaya untuk menggulingkan pemerintah Iran.
Kerusuhan Januari di Iran pada awalnya dimulai sebagai aksi protes damai para pedagang di kawasan-kawasan perdagangan terkait melemahnya nilai tukar rial Iran terhadap dolar Amerika Serikat.
Namun, menurut laporan tersebut, aksi protes kemudian berkembang menjadi kerusuhan yang disertai kekerasan oleh kelompok-kelompok bersenjata yang disebut memiliki keterkaitan dengan Israel dan Amerika Serikat.
Individu-individu bersenjata yang terlibat dalam kerusuhan tersebut dilaporkan membunuh warga sipil dan personel keamanan serta merusak properti publik maupun pribadi. Sebagai respons, pemerintah Iran mengerahkan aparat keamanan untuk memulihkan ketertiban dan menangkap para pelaku utama kerusuhan.


