Tahanan Palestina Laporkan Kondisi Parah dan Kelalaian Medis di Penjara Israel

Palestinian

Al-Quds, Purna Warta – Para tahanan Palestina yang ditahan di sebuah penjara Israel melaporkan penurunan berat badan secara drastis, makanan yang tidak memadai, penggerebekan berulang, serta minimnya perawatan medis, menurut Komisi Urusan Tahanan dan Mantan Tahanan Palestina.

Komisi tersebut melaporkan pada Minggu bahwa kesaksian yang dikumpulkan dari para tahanan di Penjara Gannot menunjukkan memburuknya kondisi kehidupan, termasuk kekurangan makanan, pakaian, dan kebutuhan dasar, serta penggeledahan yang sering dilakukan dan kelalaian medis.

Salah seorang tahanan, Osama Fathallah al-Shani, mengatakan bahwa berat badannya telah turun 35 kilogram sejak ditahan pada 2024. Ia mengaitkan penurunan tersebut dengan makanan yang tidak memadai.

Al-Shani, yang sebelumnya pernah menjalani operasi akibat hernia diskus, juga melaporkan nyeri punggung yang parah dan mengatakan bahwa otoritas penjara menolak memberinya obat pereda nyeri, menurut komisi tersebut.

Ia juga menggambarkan penggeledahan yang dilakukan hampir setiap hari serta kelangkaan barang-barang pribadi dasar. Ia mengatakan hanya memiliki dua set pakaian dan para tahanan menghadapi kesulitan khusus dalam memperoleh pakaian dalam.

Tahanan lainnya, Qassam Abdul Karim Shibli, mengatakan bahwa unit-unit penjara melakukan penggerebekan terhadap kamar para tahanan pada awal bulan ini.

Menurut kesaksiannya, para tahanan mengalami kekerasan fisik selama salah satu operasi tersebut, yang menyebabkan dua warga Palestina terluka. Ia juga melaporkan penggunaan peluru karet dan gas selama penggerebekan.

Fadi Ahmed Abu al-Rub, yang telah ditahan sejak 2026, mengatakan kepada komisi bahwa para tahanan menghadapi penggeledahan berulang, penggerebekan, penghinaan, serta apa yang disebutnya sebagai tindakan sengaja untuk merampas makanan. Ia mengatakan bahwa berat badannya telah turun 15 kilogram selama menjalani penahanan.

Komisi tersebut juga menyoroti sejumlah kasus yang melibatkan tahanan dengan masalah kesehatan yang telah ada sebelumnya.

Ashraf Muhammad al-Zaghari, yang sebelumnya mengalami luka tembak pada kedua lututnya, mengatakan bahwa dirinya masih mengalami rasa sakit dan gangguan pendengaran, tetapi belum mendapatkan perawatan medis yang memadai, menurut komisi tersebut.

Tahanan lainnya, Ahmed Mustafa Bleidi, dilaporkan menderita penyakit kudis dan belum menerima obat maupun pengobatan topikal untuk kondisi tersebut.

Komisi Palestina tersebut mengatakan bahwa kesaksian-kesaksian itu merupakan bagian dari dokumentasi yang lebih luas mengenai kondisi yang dihadapi para tahanan Palestina di penjara-penjara Israel, termasuk kekurangan makanan, perlakuan buruk, dan akses yang tidak memadai terhadap perawatan medis.

Dilaporkan terdapat ribuan warga Palestina yang ditahan di penjara-penjara Israel. Organisasi-organisasi hak asasi manusia menyatakan bahwa Israel melanggar seluruh hak dan kebebasan yang diberikan kepada para tahanan berdasarkan Konvensi Jenewa.

Otoritas penjara Israel menempatkan para tahanan Palestina dalam kondisi yang memprihatinkan dan tidak memenuhi standar kebersihan yang layak. Para tahanan Palestina juga menjadi sasaran penyiksaan, pelecehan, dan penindasan secara sistematis.

Menurut Pusat Studi Tahanan Palestina, sekitar 60 persen tahanan Palestina yang ditahan di penjara-penjara Israel menderita penyakit kronis. Sejumlah dari mereka meninggal dunia selama berada dalam tahanan atau setelah dibebaskan akibat parahnya kondisi kesehatan yang mereka alami.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *