London, Purna Warta – Para pemimpin Irlandia, Skotlandia, dan Wales telah sepakat untuk bertemu guna menandatangani sebuah proposal mengenai pembubaran Inggris Raya, di tengah kunjungan tidak resmi Presiden AS Donald Trump ke Irlandia.
Para kepala pemerintahan Irlandia Utara, Skotlandia, dan Wales akan bertemu di ibu kota Wales pada Senin untuk menandatangani kesepakatan yang dimaksudkan sebagai langkah awal menuju proses pembubaran Inggris Raya.
Pertemuan tingkat tinggi yang belum pernah terjadi sebelumnya tersebut akan dituangkan dalam sebuah deklarasi bersama yang menuntut hak untuk menyelenggarakan referendum kemerdekaan.
Pertemuan itu berlangsung setelah Perdana Menteri Inggris Andy Burnham pada Sabtu menanggapi pernyataan Trump yang mendukung penyatuan Irlandia.
Burnham menyatakan bahwa dirinya akan memberikan izin untuk penyelenggaraan referendum apabila terdapat “konsensus yang jelas” yang mendukungnya.
Dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Irlandia Micheál Martin di Dublin, Trump—yang berada di Irlandia dalam kunjungan tidak resmi untuk menghadiri sebuah turnamen di salah satu lapangan golf miliknya—mengatakan bahwa dirinya akan “senang” melihat Irlandia bersatu.
“Saya tidak ingin menimbulkan masalah, tetapi saya akan mengatakan kepada Anda, saya ingin sekali melihat Irlandia bersatu.
“Saya pikir jika hal itu terjadi, itu akan menjadi sebuah kebanggaan besar bagi semua pihak. Anda tahu? Menurut pandangan saya, hal itu pada akhirnya akan terjadi. Jadi, sebaiknya terjadi sekarang,” kata Trump.
Trump kembali mengatakan bahwa penyatuan Irlandia merupakan sesuatu yang “fantastis”, seraya menambahkan bahwa meskipun Inggris Raya akan memiliki suara dalam persoalan tersebut, ia meyakini bahwa penyatuan itu akan menjadi perkembangan yang positif.
Presiden AS yang tidak populer dan tidak asing dengan kontroversi tersebut melakukan kunjungan itu pada saat yang sulit.
Di dalam negeri, Trump menghadapi sejumlah tantangan politik.
Peluang Partai Republik dalam pemilihan umum paruh waktu pada November tampak suram akibat rendahnya tingkat persetujuan terhadap Trump serta ketidakpuasan pemilih terhadap perang yang dilancarkannya terhadap Iran dan dampak ekonomi yang ditimbulkannya.
Trump bahkan lebih tidak populer di Irlandia. Di negara tersebut, para demonstran menggelar aksi massa untuk menegaskan bahwa Presiden AS tersebut tidak diterima.


