Gaza, Purna Warta – Lebih dari 77 warga Palestina tewas dalam serangan tanpa henti yang dilancarkan Israel di seluruh Jalur Gaza sejak fajar, termasuk satu serangan yang menewaskan 11 anggota dari satu keluarga.
Baca juga: Netanyahu Akui Israel Memanfaatkan Media Sosial Untuk Memanipulasi Opini Publik AS
Kementerian Kesehatan melaporkan pada Sabtu bahwa 265 orang lainnya terluka akibat gempuran militer Israel dalam 24 jam terakhir di Gaza yang porak-poranda akibat perang.
Menurut laporan rumah sakit setempat, sedikitnya 27 orang terbunuh di Kota Gaza.
Di antara korban tewas terdapat 17 orang yang terbunuh saat mengantre makanan di titik distribusi yang didukung AS dan Israel. Sebanyak 89 pencari bantuan lainnya terluka akibat tembakan.
Empat warga Palestina, termasuk dua anak, tewas dalam serangan drone Israel di kamp pengungsi Nuseirat di Jalur Gaza tengah, menurut sumber di Rumah Sakit al-Awda kepada Al Jazeera.
Sejak perang dimulai pada Oktober 2023, drone quadcopter kendali jarak jauh Israel terus menjatuhkan bom dan menembaki warga Palestina di Gaza.
Sedikitnya 10 warga Palestina tewas dalam serangan udara Israel terhadap sebuah rumah di lingkungan Tuffah, Kota Gaza.
Tim pertahanan sipil masih berusaha menemukan korban hilang di bawah reruntuhan, menurut laporan.
Bangunan-bangunan pemukiman terus dihancurkan saat Israel meneruskan rencananya merebut Kota Gaza, kota terbesar di wilayah tersebut.
Citra satelit memperlihatkan kendaraan militer Israel memperketat pengepungan Kota Gaza, mengepungnya dari segala arah.
Komite Penyelamatan Internasional (IRC) melaporkan bahwa skenario terburuk bagi rakyat Gaza kini terwujud seiring berlanjutnya invasi Kota Gaza.
“Kelaparan membawa dampak yang menghancurkan. Tubuh melemah, sistem kekebalan tubuh runtuh, dan organ-organ mulai gagal. Ini bukan sekadar rasa lapar biasa; ini adalah kematian perlahan [bagi rakyat Palestina],” peringatan IRC.
Baca juga: Israel Paksa Keluarga Gaza Memilih Antara ‘Berkolaborasi atau Dibunuh’
Pada Jumat, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berpidato di Majelis Umum PBB, berjanji akan terus menargetkan Kota Gaza dan “menyelesaikan pekerjaan”, mengabaikan kecaman internasional bahwa tindakan tersebut akan memperparah krisis kemanusiaan Gaza.
Martin Griffiths, direktur eksekutif Mediation Group International (MGI), memperingatkan pada Sabtu bahwa kelaparan di Gaza semakin meluas seiring pasukan Israel maju lebih dalam ke wilayah utara Gaza yang terkepung.
“Di Kota Gaza pilihannya adalah pengungsian atau kematian, sedangkan di al-Mawasi pengungsian dan kematian sekaligus,” kata Griffiths, merujuk pada wilayah di selatan Jalur Gaza yang ditetapkan Israel sebagai “zona kemanusiaan.”
Ia menambahkan bahwa ratusan ribu orang berdesakan di sebidang tanah berpasir sempit di al-Mawasi tanpa layanan kesehatan maupun fasilitas sanitasi.
Carl Skau, kepala operasional World Food Programme (WFP), menyatakan bahwa aliran bantuan ke Gaza saat ini hanyalah “setetes di lautan” dan volume yang jauh lebih besar sangat dibutuhkan.
Ia menambahkan, WFP hanya mampu memasukkan rata-rata 80 truk bantuan per hari ke Gaza, padahal setidaknya 500–600 truk sangat dibutuhkan.
Skau menegaskan pihaknya tidak mampu menjangkau warga Palestina di utara, tempat Israel melancarkan ofensif besar-besaran ke Kota Gaza, sementara “keruntuhan total hukum dan ketertiban” di Jalur Gaza membuat kelompok paling rentan tidak menerima bantuan.
Philippe Lazzarini, komisaris jenderal United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees (UNRWA), memperingatkan pada Kamis bahwa situasi bagi rakyat Gaza kini “benar-benar tak tertahankan.”
“Menurut saya, sangat penting untuk terus menyuarakan kemarahan penuh atas apa yang sedang terjadi, dan tentu saja, bagian dari kekecewaan kami adalah bahwa kemarahan ini belum diterjemahkan ke dalam tindakan nyata untuk mengakhiri kebiadaban yang kami catat setiap hari,” ujarnya.
Dalam sebuah unggahan di X pada Rabu, ia mengungkapkan bahwa hingga 4.000 anak amputasi tercatat di Gaza sejak rezim Israel melancarkan serangan genosida; angka tertinggi per kapita di dunia.
“Dampak terhadap anak-anak bukan hanya luka fisik dan kelaparan yang meluas. Luka mereka lebih dalam dan tak kasat mata: kecemasan, mimpi buruk, agresi, dan ketakutan,” tulisnya.
Ia menambahkan:
“Sejak serangan Israel dimulai, anak-anak Gaza terus terjerumus ke dalam jurang neraka. Setiap hari, selama hampir dua tahun, setara dengan satu kelas penuh anak-anak terbunuh.”
Perang genosida Israel di Gaza telah menewaskan setidaknya 65.549 orang dan melukai 167.518 lainnya sejak Oktober 2023. Ribuan korban lainnya diyakini masih terkubur di bawah reruntuhan.


