Washington, Purna Warta – Senator Amerika Serikat (AS) Chris Van Hollen kembali mendesak adanya pertanggungjawaban atas pembunuhan sembilan warga negara Amerika oleh para pemukim Israel atau pasukan keamanan Israel di Tepi Barat sejak 2022, termasuk jurnalis Al Jazeera, Shireen Abu Akleh.
Dalam sebuah video yang diunggah di platform X pada Selasa, Van Hollen menyebutkan nama-nama korban, yaitu Omar Assad (70 tahun), Abu Akleh (51 tahun), Tawfic Abdel Jabbar (17 tahun), Mohammad Khdour (17 tahun), Aysenur Eygi (26 tahun), Amer Rabee (14 tahun), Saif Musallet (20 tahun), Khamis Ayyad (40 tahun), dan Nasrallah Abu Siyam (19 tahun).
Abu Akleh, seorang jurnalis terkemuka, tewas pada 11 Mei 2022 ketika meliput serangan militer Israel di kamp pengungsi Jenin, Tepi Barat yang diduduki.
Penyelidikan yang dilakukan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), CNN, The New York Times, dan Al Jazeera menyimpulkan bahwa Abu Akleh tewas akibat tembakan pasukan Israel, yang kemungkinan dilakukan secara sengaja.
Van Hollen menegaskan bahwa “AS harus mengakhiri keterlibatannya dalam ketidakadilan yang ditimbulkan oleh pendudukan dan menuntut pertanggungjawaban atas pembunuhan sembilan warga Amerika tersebut.”
Bulan lalu, Senat AS memblokir sebuah resolusi yang akan mewajibkan Departemen Luar Negeri AS menyampaikan laporan kepada Kongres dalam waktu 30 hari mengenai kematian sembilan warga tersebut serta kondisi hak asasi manusia secara lebih luas di wilayah itu.
Sementara itu, anggota Kongres AS Rashida Tlaib memperingatkan bahwa rakyat Palestina akan terus menghadapi penindasan Israel, siapa pun yang terpilih dalam pemilihan parlemen Israel mendatang. Ia menyerukan pemberlakuan embargo senjata secara menyeluruh dan sanksi terhadap rezim Israel.
“Siapa pun penjahat perang yang menjadi perdana menteri, rakyat Palestina yang hidup di bawah sistem apartheid Israel akan terus menghadapi genosida, perampasan tanah, dan upaya penghapusan keberadaan mereka,” tulis Tlaib dalam unggahan di platform X pada Selasa.
“Kita tidak bisa menerima kebohongan, alasan, atau langkah-langkah setengah hati dari para pemimpin kita. Kita harus memberlakukan embargo senjata penuh dan menjatuhkan sanksi hingga Palestina merdeka,” tambahnya.
Pernyataan tersebut disampaikan ketika Israel bersiap menggelar pemilihan parlemen pada Selasa, dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berupaya terpilih kembali menghadapi blok oposisi yang dipimpin oleh mantan kepala militer Gadi Eisenkot.
Pemilihan tersebut merupakan pemilihan parlemen pertama Israel sejak 7 Oktober 2023. Pemungutan suara berlangsung di tengah berlanjutnya serangan militer Israel di Jalur Gaza dan Tepi Barat yang diduduki.


