Washington, Purna Warta – Utusan Amerika Serikat (AS) untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyerukan pencopotan Francesca Albanese dari jabatannya sebagai Pelapor Khusus PBB untuk situasi hak asasi manusia di Palestina. Ia menyebut Albanese sebagai “buronan moral” dan “orang gila”.
Pada Senin, Perwakilan AS untuk Manajemen dan Reformasi PBB, Jeff Bartos, menuduh Albanese menyimpan kebencian terhadap AS, negara-negara Barat, Israel, dan orang-orang Yahudi.
“[PBB] membiarkan seorang penipu mencemari seragam PBB—bahkan ketika ia menyulut konflik-konflik yang justru dibentuk oleh lembaga ini untuk diakhiri, dan ketika kata-katanya dikutip dalam nyanyian para teroris,” ujarnya.
Ia mengklaim bahwa sejumlah koleganya di PBB secara pribadi menyampaikan pandangan serupa. Ia menggambarkan Albanese dan orang-orang sepertinya sebagai “racun institusional” dan sosok yang “tidak berguna bagi siapa pun”.
“Mulailah dengan mengatakan secara terbuka apa yang kalian sampaikan kepada saya secara pribadi. Bahwa PBB tidak boleh menjadi tempat pembinaan kejahatan. Bahwa nama baik lembaga ini sudah terlalu lama tercemar. Bahwa Albanese harus mundur,” tegas Bartos.
Albanese adalah akademisi asal Italia sekaligus pakar hukum internasional yang mengkhususkan diri pada hak asasi manusia dan kawasan Asia Barat. Sejak Mei 2022, ia menjabat sebagai Pelapor Khusus PBB untuk situasi hak asasi manusia di wilayah Palestina yang diduduki sejak 1967.
Pelapor Khusus PBB tersebut telah menerbitkan sejumlah laporan mengenai krisis kemanusiaan di Palestina dan menggambarkan agresi Israel terhadap rakyat Palestina sebagai “genosida paling kejam dalam sejarah modern”.
Pada 26 Maret 2024, Albanese mempresentasikan laporan berjudul Anatomy of a Genocide (Anatomi Genosida) dalam sidang ke-55 Dewan Hak Asasi Manusia PBB di Jenewa. Ia menyatakan bahwa terdapat alasan yang masuk akal untuk meyakini bahwa Israel secara sengaja melakukan tindakan-tindakan genosida terhadap rakyat Palestina di Gaza.
Pada 23 Maret 2026, ia menerbitkan laporan mengenai situasi hak asasi manusia di Palestina berjudul Torture and Genocide (Penyiksaan dan Genosida). Dalam laporan tersebut, ia menguraikan penyiksaan yang secara sistematis dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina sejak 7 Oktober 2023.
Ia menjelaskan bahwa sejak Oktober 2023, Israel secara sistematis menyiksa rakyat Palestina dan bahwa praktik tersebut telah menjadi bagian integral dari apa yang disebutnya sebagai “genosida kolonialisme pemukim”.
Ia menambahkan bahwa niat untuk melakukan genosida terlihat jelas, mengingat penyiksaan dilakukan di seluruh wilayah Palestina dan dipertahankan melalui kebijakan-kebijakan yang menghancurkan kondisi-kondisi yang memungkinkan kehidupan berlangsung.
“Penyiksaan selalu menjadi ciri utama perampasan hak dan pengusiran rakyat Palestina oleh Israel. Namun, sejak Oktober 2023, Israel telah menggunakan penyiksaan dalam skala yang mengindikasikan adanya pembalasan kolektif dan niat untuk menghancurkan,” demikian pernyataannya dalam laporan tersebut.
Akibat berbagai pernyataannya yang mengkritik Israel dan kecamannya terhadap agresi rezim pendudukan terhadap rakyat Palestina, Albanese telah ditetapkan sebagai persona non grata (orang yang tidak dikehendaki) oleh Israel dan dilarang memasuki wilayah Palestina yang diduduki.


