Ribuan Orang Gelar Aksi di Tel Aviv dan Haifa Tuntut Penghentian Perang di Gaza

Haifa

Al-Quds, Purna Warta – Ribuan orang menggelar aksi protes di Tel Aviv untuk menentang perang genosida Israel terhadap Jalur Gaza, sambil membawa foto-foto anak-anak Palestina yang menderita kelaparan.

Baca juga: Menteri Sayap Kanan Ekstrem: Israel ‘Hapuskan’ Gaza untuk Buka Jalan bagi Permukiman

Ribuan Orang berkumpul di Alun-Alun Habima, Tel Aviv dan jalan-jalan sekitar pada Kamis, menuntut “penghentian perang dan pemulangan tawanan” Israel yang ditahan di Gaza.

Beberapa pengunjuk rasa membawa spanduk yang mengecam Israel atas kejahatan perang dan genosida di Gaza serta mendorong tentara untuk menolak ikut serta dalam perang.
Lainnya mengangkat gambar anak-anak Palestina yang kelaparan, dengan tulisan seperti:

“Tolak kejahatan terhadap kemanusiaan.”

Di Haifa, polisi menangkap 24 pengunjuk rasa dalam sebuah demonstrasi anti-perang di kawasan Koloni Jerman.
Rekaman video menunjukkan polisi berusaha membubarkan massa dan merobek-robek spanduk mereka hanya beberapa menit setelah aksi dimulai.

Tak lama setelahnya, aparat membanting demonstran ke tanah, memborgol mereka, dan membawa ke mobil tahanan.

Dalam salah satu video dari lokasi, seorang pengunjuk rasa yang diborgol berteriak kepada wartawan, mengatakan bahwa beberapa perempuan dipukuli di dalam mobil tahanan, sebelum dia sendiri didorong masuk ke dalam mobil polisi.

Aksi ini merupakan bagian dari gelombang protes anti-perang yang diorganisasi oleh warga Arab di Haifa, yang kerap berujung pada penangkapan massal, di tengah berlanjutnya genosida di Gaza.

Israel memulai perang genosida terhadap Gaza pada 7 Oktober 2023, yang hingga kini telah menewaskan setidaknya 59.587 warga Palestina, mayoritas perempuan dan anak-anak.

Kritik terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terus meningkat, banyak yang menuduhnya memperpanjang perang demi kelangsungan politik pribadinya, di tengah penyelidikan korupsi yang masih berlangsung.

Sejak awal perang, Netanyahu menolak kesepakatan gencatan senjata dan pertukaran tahanan secara signifikan, dan mendapat kritik baik dari dalam negeri maupun dunia internasional karena menolak deeskalasi dan solusi diplomatik.

Keputusan untuk terus melanjutkan agresi militer di Gaza, meski ada desakan dari sekutu internasional dan rakyat sendiri, dipandang sebagai upaya Netanyahu untuk memproyeksikan kekuatan dan menyenangkan kubu koalisi sayap kanan.

Baca juga: Para Demonstran di Paris Kecam Penggunaan Kelaparan sebagai Senjata di Gaza

Namun, seorang mantan jenderal tinggi Israel, Mayor Jenderal Yitzhak Brik, minggu ini secara terbuka mengakui kelemahan militer Israel dan kemunduran strategis karena terus terjebak dalam konflik di Gaza.

Dalam sebuah artikel opini di situs berita Israel Arutz Sheva, Brik menulis:

“Kebenaran yang menyakitkan, sebagaimana dikatakan oleh para perwira senior—dari jenderal hingga komandan kompi secara off the record—adalah bahwa Israel tidak siap untuk Perang ‘Iron Swords’.”

Ia melanjutkan:

“Rezim Israel telah mengalami kekalahan strategis dalam kampanyenya melawan Hamas.”

Survei dalam beberapa bulan terakhir juga menunjukkan penurunan tajam dalam tingkat dukungan publik terhadap Netanyahu.
Protes besar-besaran, termasuk dari keluarga korban perang dan pasukan cadangan, kini menjadi peristiwa mingguan.

Banyak pemukim Yahudi kini secara terbuka menuduh Netanyahu menyandera para tawanan demi ambisi politiknya, dengan slogan-slogan seperti:

“Bawa mereka pulang sekarang!” dan
“Bibi adalah masalah, bukan solusi,”
bergema di Tel Aviv dan al-Quds (Yerusalem).

Brik juga memperingatkan bahwa:

“Sementara Israel terus terperangkap di Jalur Gaza, para pemimpinnya gagal mempersiapkan militer untuk konflik berikutnya yang bisa jauh lebih berbahaya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *