Menteri Sayap Kanan Ekstrem: Israel ‘Hapuskan’ Gaza untuk Buka Jalan bagi Permukiman

extrimis

Al-Quds, Purna Warta – Seorang menteri sayap kanan ekstrem Israel secara terbuka mengakui bahwa rezim Israel sedang melakukan pembersihan etnis terhadap warga Palestina di Jalur Gaza demi membuka jalan bagi pembangunan permukiman ilegal Yahudi.

Baca juga: Para Demonstran di Paris Kecam Penggunaan Kelaparan sebagai Senjata di Gaza

Amichai Eliyahu, yang menjabat sebagai Menteri Warisan Israel, melontarkan pernyataan kontroversial tersebut dalam sebuah wawancara radio pada Kamis, yang segera memicu kecaman luas dari berbagai pihak.

“Rezim Israel saat ini sedang berlomba-lomba agar Gaza dihapuskan,” katanya.
“Alhamdulillah, kami sedang menghapus Gaza, dan mendorong keluar penduduknya.”
Ia menambahkan bahwa wilayah Gaza nantinya akan dikosongkan untuk permukiman Yahudi, seraya berkata:
“Seluruh Gaza akan menjadi Yahudi.”

Lebih lanjut, Menteri Sayap Kanan Ekstrem itu mengatakan bahwa warga Arab yang loyal terhadap rezim penjajah boleh saja tetap tinggal di Jalur Gaza.

Eliyahu adalah anggota partai sayap kanan ultra-rasis “Jewish Power”, dan dikenal karena pandangannya yang ekstrem. Ia juga menolak laporan-laporan kelaparan massal yang disebabkan oleh blokade Israel yang tidak manusiawi terhadap wilayah Gaza.

“Tidak ada kelaparan di Gaza,” klaimnya. “Tapi kita tidak perlu peduli dengan kelaparan di sana. Biarkan dunia yang mengurusi itu.”

Pernyataan Eliyahu segera mendapat kecaman dari berbagai pihak.

Yair Lapid, pemimpin oposisi Israel, menyebut pernyataan Eliyahu sebagai “serangan moral dan bencana propaganda”.

“Israel kini dipimpin oleh minoritas ekstremis,” ujar Lapid.
“Para menteri mereka mengagungkan pertumpahan darah dan kematian.”

Anggota parlemen Israel, Efrat Rayten, menyerukan agar kabinet Netanyahu segera mengeluarkan kecaman tegas terhadap ucapan Eliyahu yang disebutnya sebagai “keji dan menjijikkan.”

“Seorang menteri aktif secara terang-terangan menyerukan kejahatan perang serius.
Dia bukan anggota oposisi, bukan warga sipil biasa, bukan komentator media sosial.
Dia adalah bagian utama dari eksekutif pemerintahan.
Eliyahu adalah sosok berbahaya,” tegas Rayten.

Kelompok protes Brothers and Sisters in Arms juga mengecam rezim penjajah Israel yang menurut mereka kini dikendalikan oleh ideolog ekstrem seperti Eliyahu, yang tidak memiliki moral, tidak punya kode etik militer, dan tanpa rasa malu.

Pada November 2023, Eliyahu juga sempat memicu kontroversi dengan menyatakan bahwa menjatuhkan bom nuklir di Gaza adalah “salah satu kemungkinan” dalam perang genosida Israel terhadap wilayah tersebut.

Pernyataan itu kemudian dijadikan bukti niat genosida dalam kasus yang diajukan oleh Afrika Selatan terhadap Israel di Mahkamah Internasional (ICJ) di Den Haag.

Baca juga: Ribuan Orang Gelar Aksi Duduk di Stasiun Kereta Belanda sebagai Solidaritas untuk Gaza

Selain kasus genosida di ICJ, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) juga telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

Israel melancarkan serangan brutal ke Jalur Gaza pada 7 Oktober 2023, setelah kelompok perlawanan Hamas melancarkan operasi besar-besaran sebagai balasan atas kekejaman intensif yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina.

Namun hingga kini, rezim Tel Aviv gagal mencapai tujuannya yang dideklarasikan: menghancurkan Hamas dan membebaskan seluruh tawanan di Gaza—meskipun telah membunuh 59.586 warga Palestina, sebagian besar wanita dan anak-anak, serta melukai 143.498 lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *