Penyerbuan Terbaru Israel ke Kompleks Al-Aqsa Semakin Memperparah Pelanggaran terhadap Status Quo Historis

Lest Aqsa

Al-Quds, Purna Warta – Otoritas rezim Israel semakin mengikis status quo yang telah lama berlaku di Masjid Al-Aqsa dengan mengizinkan para pemukim ilegal memasuki kompleks tersebut dan melakukan ritual keagamaan serta tindakan yang dianggap menodai kesucian tempat tersebut secara terbuka. Langkah ini menandai eskalasi besar dalam pelanggaran Israel di salah satu situs paling suci dalam Islam.

Pada Minggu, polisi Israel mengizinkan para pemukim Yahudi membawa siddur (buku doa Yahudi) ke kompleks Masjid Al-Aqsa dan melakukan sejumlah ritual secara terbuka.

Menteri Israel dari kelompok sayap kanan ekstrem, Itamar Ben-Gvir, mengonfirmasi perkembangan tersebut. Polisi Israel menyatakan bahwa tindakan mereka dilakukan berdasarkan arahan kepemimpinan politik dan praktik yang telah berlaku di lokasi tersebut.

Langkah ini merupakan penyimpangan signifikan dari pengaturan yang selama ini mengatur Masjid Al-Aqsa sejak pendudukan Israel atas al-Quds pada 1967.

Berdasarkan status quo historis yang telah lama berlaku, hanya umat Islam yang diperbolehkan beribadah di dalam kompleks tersebut, sementara non-Muslim diperbolehkan berkunjung tetapi dilarang melakukan ritual keagamaan. Dalam kerangka pengaturan historis tersebut, kompleks Al-Aqsa secara khusus dipandang sebagai situs suci umat Islam.

Pejabat Palestina dan perwakilan Wakaf Islam menggambarkan perkembangan terbaru itu sebagai pelanggaran resmi terhadap status quo. Mereka menegaskan bahwa diperbolehkannya ritual terorganisasi oleh para pemukim menunjukkan perubahan yang jelas dibandingkan dengan provokasi yang sebelumnya bersifat sporadis.

Sekitar 179 pemukim memasuki kompleks tersebut di bawah perlindungan polisi Israel. Sebagian dari mereka membawa buku doa dan melakukan sujud serta ritual Talmud lainnya.

Insiden tersebut merupakan bagian dari pola tindakan Israel yang semakin luas dan intensif di Al-Aqsa, yang menurut warga Palestina secara bertahap telah melemahkan pengaturan historis yang berlaku di tempat suci tersebut.

Penyerbuan kompleks oleh para pemukim telah meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Aksi tersebut kerap dilakukan di bawah pengawalan ketat polisi Israel dan sering kali melibatkan kegiatan menari, meneriakkan nyanyian, serta ritual provokatif lainnya. Awal bulan ini, hampir 600 pemukim Israel memasuki kompleks tersebut dengan pengawalan polisi serupa.

Para menteri Israel dari kelompok sayap kanan ekstrem memainkan peran penting dalam mendorong akses dan kontrol Yahudi yang lebih besar atas kompleks tersebut. Ben-Gvir, yang membawahi kepolisian, berulang kali mengunjungi kompleks Al-Aqsa dan menyerukan apa yang ia sebut sebagai perluasan “hak-hak Yahudi” di lokasi tersebut. Keterlibatannya meningkatkan kekhawatiran di kalangan Palestina dan negara-negara di kawasan bahwa Israel secara sengaja berupaya mengubah status quo secara fundamental.

Eskalasi tersebut berlangsung di tengah semakin ketatnya pembatasan terhadap akses warga Palestina. Para pejabat Wakaf menuduh otoritas Israel membatasi akses umat Islam untuk beribadah serta secara sistematis melemahkan peran administratif Wakaf atas kompleks tersebut.

Mustafa Abu Sway, anggota Dewan Wakaf Islam di al-Quds yang diduduki, mengatakan bahwa perluasan ritual Yahudi merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk mengubah karakter situs suci Islam tersebut.

Bagi warga Palestina, persoalan ini jauh melampaui masalah akses ke tempat ibadah. Al-Aqsa merupakan simbol utama identitas Palestina dan tetap menjadi salah satu titik paling sensitif di bawah pendudukan Israel atas Palestina. Setiap perubahan yang dianggap menyentuh karakter keagamaan atau administrasi situs tersebut berpotensi memicu ketegangan yang lebih luas di kawasan.

Warga Palestina memandang insiden terbaru ini sebagai langkah lain yang disengaja dalam proses bertahap untuk membongkar status quo historis dan memperluas kontrol Israel atas situs suci tersebut. Gerakan Hamas dan kelompok-kelompok Palestina lainnya berulang kali mengecam Israel karena menjalankan agenda “Yudaisasi” yang berbahaya di al-Quds dan seluruh Tepi Barat yang diduduki.

Sejak agresi besar-besaran Israel terhadap Gaza dimulai pada 2023, warga Palestina menghadapi semakin banyak pembatasan dan pelanggaran Israel di Masjid Al-Aqsa. Kondisi tersebut semakin memperkuat kekhawatiran bahwa Israel sedang berupaya mengubah karakter Islam dari situs suci tersebut secara fundamental.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *