Al-Quds, Purna Warta – Pengumuman Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengenai pencopotan Mayor Jenderal Avi Bluth, komandan militer Israel untuk wilayah Tepi Barat yang diduduki, dalam siaran televisi langsung memicu kontroversi politik di Israel dan menyoroti ketegangan antara pemerintah serta pimpinan militer menjelang pemilu.
Menurut laporan Financial Times, keputusan Katz memicu gelombang kritik dan memperlihatkan semakin lebarnya perbedaan pandangan antara kabinet sayap kanan pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dengan jajaran tertinggi militer Israel.
Dalam wawancara di Channel 14 pada Minggu malam, Katz mengumumkan bahwa Avi Bluth akan dicopot dari jabatannya. Keputusan itu dikaitkan dengan sikap Bluth yang mendukung perpanjangan penahanan administratif terhadap seorang pemukim Yahudi garis keras yang dituduh terlibat dalam aksi kekerasan dan pelecehan seksual terhadap warga Palestina pada awal tahun ini.
Pemukim tersebut sebelumnya ditahan melalui mekanisme penahanan administratif, yaitu prosedur yang memungkinkan seseorang ditahan tanpa melalui proses peradilan pidana secara penuh. Katz memutuskan untuk tidak memperpanjang masa penahanannya, namun keputusan itu ditentang oleh Bluth dan divisi hukum militer Israel.
Katz menyebut keberatan yang diajukan militer sebagai langkah yang keliru. Dalam siaran langsung tersebut ia menyatakan menginginkan komando militer yang “berupaya meraih kemenangan, menyerang musuh, dan melindungi para pemukim.”
Kepala Staf Menolak Keputusan
Keputusan tersebut memicu perdebatan baru antara pemerintah dan militer, yang dalam beberapa tahun terakhir telah beberapa kali berselisih mengenai berbagai isu, termasuk penanganan perang, kebijakan keamanan, penunjukan pejabat militer, hingga persoalan wajib militer.
Sejumlah politisi oposisi menuduh Katz melemahkan rantai komando militer serta memanfaatkan isu tersebut untuk menarik dukungan pemilih dari kalangan pemukim menjelang pemilu yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober.
Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel, Eyal Zamir, segera menyatakan bahwa pergantian komandan di Tepi Barat tidak akan dilakukan dalam situasi keamanan saat ini dan menegaskan bahwa langkah tersebut tidak sesuai dengan prosedur yang berlaku.
Setelah mendapat penolakan tersebut, Katz kemudian mengubah pernyataannya. Ia mengatakan pergantian komandan akan dilakukan pada putaran rotasi jabatan berikutnya dan mengklaim bahwa rencana tersebut telah dibahas beberapa bulan sebelumnya dengan Zamir.
Namun, media Israel melaporkan bahwa Zamir menegaskan tidak akan ada penunjukan komandan baru hingga tahun depan.
Pada Senin malam, Katz menyatakan bahwa Avi Bluth tidak diberhentikan, seraya mengatakan bahwa sang jenderal telah menjalankan tugasnya dengan baik dan tidak terdapat perselisihan pribadi di antara keduanya.
Ketegangan di Tepi Barat
Laporan tersebut menyebut bahwa selama pemerintahan Netanyahu saat ini, pembangunan permukiman Israel di Tepi Barat meningkat dan kekerasan yang melibatkan sebagian pemukim terhadap warga Palestina juga bertambah.
Meski demikian, sejumlah aktivis serta mantan pejabat keamanan Israel berpendapat bahwa militer di bawah komando Bluth juga dinilai belum cukup efektif dalam menekan aksi kekerasan tersebut.
Di sisi lain, beberapa tokoh pemukim yang tergolong moderat, termasuk dari Dewan Yesha, justru menyatakan dukungan kepada Bluth dan menilai kepemimpinannya berhasil dalam operasi keamanan di Tepi Barat. Disebutkan pula bahwa Bluth sendiri dibesarkan di salah satu permukiman Israel di wilayah tersebut.
Mantan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel, Gadi Eisenkot, mengecam pengumuman Katz di televisi dengan menyebutnya sebagai salah satu titik terendah dalam hubungan antara otoritas politik dan militer. Ia menilai langkah tersebut tidak pantas dan menuduh Katz bermotif politik untuk menarik simpati pemilih sayap kanan dalam pemilihan internal Partai Likud.
Video Kampanye dan Ancaman Operasi Baru
Di bawah kepemimpinan Katz sebagai Menteri Pertahanan dan Bluth sebagai komandan wilayah, militer Israel pada awal 2025 melancarkan operasi besar di sejumlah kamp pengungsi di Tepi Barat bagian utara yang menyebabkan puluhan ribu warga Palestina mengungsi dan mengakibatkan kerusakan luas.
Dalam beberapa hari terakhir, Katz juga mengancam akan melancarkan operasi serupa sebagai respons atas insiden keamanan di desa Tell, yang menewaskan dua warga Israel dan empat warga Palestina.
Pada Senin, Katz turut merilis sebuah video kampanye menjelang pemilihan internal Partai Likud. Video tersebut menampilkan rekaman operasi militer di Timur Tengah disertai narasi yang menyebut bahwa “akhirnya Israel memiliki seorang menteri pertahanan yang benar-benar berhaluan kanan.”


