Al-Quds, Purna Warta – Sejumlah pejabat Israel mengklaim bahwa Presiden Amerika Serikat telah “menipu” mereka, dan bahwa kesepakatan yang kemungkinan akan tercapai antara Teheran dan Washington merupakan sebuah “kesepakatan yang sangat buruk”.
Menurut laporan Kantor Berita Mehr, meskipun para pemimpin Amerika Serikat dan rezim Zionis berulang kali menegaskan bahwa mereka memiliki koordinasi dan kesepahaman penuh terkait berkas Iran, surat kabar Israel Yedioth Ahronoth melaporkan bahwa sejumlah pejabat Israel menyatakan kemarahan mereka terhadap nota kesepahaman yang sedang dibentuk antara Amerika Serikat dan Iran. Mereka memperingatkan bahwa kesepakatan yang dilaporkan tersebut jauh dari tujuan-tujuan strategis Israel.
Seorang pejabat Israel dalam wawancaranya dengan Yedioth Ahronoth, merujuk pada kesepahaman yang sedang dibangun antara Amerika dan Iran, mengatakan:
“Trump telah menipu kami.”
Pejabat Israel lainnya juga menyatakan:
“Kesepakatan yang sedang dibentuk tampak sangat buruk.”
Ia menambahkan:
“Dari sudut pandang kami, kesepakatan ini merupakan bencana, karena tidak memenuhi satu pun prinsip yang kami bicarakan ketika perang dimulai.”
Meski demikian, setelah pernyataan terbaru Trump di platform Truth Social, kini belum jelas apakah kesepakatan final benar-benar akan tercapai atau tidak.
Media-media Iran sebelumnya telah menerbitkan daftar panjang mengenai poin-poin yang diklaim sebagai isi nota kesepahaman tersebut. Namun, Trump menyatakan bahwa rincian yang dipublikasikan oleh Teheran tidak benar.
Trump menulis:
“Ketentuan-ketentuan yang disebarkan Iran kepada media-media palsu sama sekali tidak ada hubungannya dengan ketentuan yang telah disepakati secara tertulis. Apa yang mereka sampaikan, termasuk pernyataan mereka yang lemah dan menyedihkan mengenai tercapainya kesepakatan, tidak memiliki hubungan apa pun dengan kenyataan.”
Pernyataan terbaru Trump ini menimbulkan keraguan mengenai kemungkinan penandatanganan nota kesepahaman dalam beberapa hari mendatang, meskipun pada Kamis malam ia sebelumnya menyatakan bahwa kesepakatan sudah sangat dekat.
Pada saat yang sama, seorang pejabat senior pemerintah AS pada Jumat mengklaim bahwa syarat Washington mencakup pembongkaran program nuklir Iran. Ia menambahkan bahwa aset-aset Iran yang dibekukan tidak akan dibebaskan sebelum Teheran melaksanakan komitmennya. Selain itu, Selat Hormuz akan tetap terbuka bagi lalu lintas pelayaran internasional, dan Iran juga harus menghentikan pendanaan terhadap kelompok-kelompok proksinya.
Sementara itu, seorang pejabat Israel lainnya yang berbicara sebelum publikasi pesan Trump mengatakan:
“Masih belum jelas apakah pada dasarnya memang ada kesepakatan yang akan tercapai.”
Ia menjelaskan:
“Pertama, belum pasti bahwa kesepakatan itu benar-benar ada. Bahkan jika kesepakatan tercapai, asumsi yang dominan di kawasan adalah bahwa kesepakatan tersebut merupakan hasil tekanan Iran dan mundurnya Amerika Serikat, bukan sebaliknya. Setidaknya dalam jangka pendek, kesepakatan itu akan dipandang sebagai sebuah kegagalan. Saya juga masih meragukan baik penandatanganan maupun keberlanjutan kesepakatan tersebut dalam jangka panjang.”
Pejabat Israel tersebut lebih lanjut mengatakan bahwa Iran telah sampai pada kesimpulan bahwa penggunaan kekuatan dapat menghasilkan konsesi politik.
Ia menambahkan:
“Menurut saya, Iran telah memahami bahwa ia dapat memperoleh konsesi melalui penggunaan kekuatan, dan dalam waktu dekat akan menggunakan metode yang sama terhadap negara-negara tetangganya maupun terhadap kami. Ujian sesungguhnya bagi kesepakatan ini—atau setidaknya langkah minimal untuk menjaga kredibilitas Barat—adalah pemindahan dan penghancuran uranium Iran. Jika itu pun tidak terjadi, maka kesan bahwa kita sedang menghadapi sebuah kesepakatan yang buruk akan menjadi jauh lebih nyata.”


