Pejabat Israel Kecam Netanyahu karena Minta Maaf kepada Qatar atas Serangan Tanpa Provokasi

Qatar Osroel

Doha, Purna Warta – Sejumlah pejabat Israel, termasuk menteri sayap kanan ekstrem Itamar Ben-Gvir dan Bezalel Smotrich, mengecam Perdana Menteri Benjamin Netanyahu karena meminta maaf kepada Qatar atas serangan Tel Aviv terhadap pimpinan Hamas di negara Teluk Persia tersebut awal bulan ini.

Baca juga: Trump Tawarkan Rencana Akhiri Perang di Gaza; Hamas Sebut Rencana Dekat dengan Visi Israel

Permintaan maaf itu dilaporkan terjadi dalam sebuah pertemuan antara Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump, ketika perdana menteri Israel menelpon rekannya dari Qatar dan menyatakan bahwa Tel Aviv “menyesali” serangan udara tersebut.

Dalam sebuah unggahan di platform X pada Senin, Ben-Gvir mengulang kembali klaim rezim Israel dan sekutunya yang memasukkan Hamas sebagai “organisasi teroris,” sekaligus menyebut Qatar sebagai “negara pendukung terorisme.”

Ia justru menyebut serangan itu sebagai “penting, adil, dan sangat bermoral,” seraya menambahkan: “Sungguh baik hal itu terjadi.”

Serangan 9 September tersebut menewaskan sedikitnya lima pejabat senior Hamas yang berbasis di Doha, ibu kota Qatar, serta seorang perwira keamanan Qatar. Peristiwa itu terjadi ketika perwakilan kelompok perlawanan Palestina tengah berpartisipasi dalam upaya menghentikan perang genosida yang dilancarkan rezim Israel di Jalur Gaza sejak Oktober 2023.

Smotrich menyebut permintaan maaf Netanyahu sebagai sebuah “tunduk merendahkan diri” yang merupakan “aib.” Menurut harian Israel The Jerusalem Post, Smotrich bahkan telah memberikan sejumlah “garis merah” kepada Netanyahu sebelum ia mengikuti pertemuan dengan Trump.

Mantan menteri urusan militer sekaligus mantan menteri luar negeri Israel, Avigdor Liberman, yang memimpin partai sayap kanan Yisrael Beytenu, menyebut permintaan maaf itu “tidak bisa dipercaya.”

Ia menyalahkan Doha karena menolak mengecam operasi perlawanan bersejarah Hamas terhadap wilayah pendudukan pada 7 Oktober 2023, yang berujung pada penangkapan ratusan warga Israel, termasuk dilaporkan 25 tentara.

Rezim Israel menggunakan operasi itu sebagai dalih untuk melancarkan perang yang sejauh ini telah menewaskan hampir 66.100 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak.

Menurut Lieberman, Netanyahu justru seharusnya meminta maaf kepada para pemukim Israel karena gagal mencegah operasi perlawanan tersebut.

Jenderal cadangan dan politisi saat ini, Yair Golan, di sisi lain menyebut Netanyahu sebagai pemimpin yang “lemah dan terkompromikan.”

Baca juga: Komite Urusan Gereja: Israel Hancurkan Kehadiran Kristen di Palestina

Dalam panggilan telepon itu, Netanyahu dilaporkan telah “meyakinkan” pejabat Qatar bahwa Tel Aviv tidak akan mengulangi serangan semacam itu. Namun, para pengamat menilai janji tersebut sulit dipercaya mengingat sejarah panjang rezim Israel yang kerap melancarkan agresi mematikan demi mencapai tujuan ekspansionisnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *