Netanyahu Dorong Pembentukan ‘Zona Penyangga’ Kendali Israel di Suriah antara Dataran Tinggi Golan dan Damaskus

Netanyahu golan

Al-Quds, Purna Warta – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali meningkatkan tuntutan teritorialnya di Suriah, dengan menyerukan pembentukan “zona penyangga” demiliterisasi wajib yang membentang dari tepi Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel hingga ke pinggiran ibu kota Damaskus.

Baca juga: Lebih dari 200 Tokoh Budaya Serukan Pembebasan Pemimpin Palestina yang Diculik, Marwan Barghouti

Netanyahu mengeluarkan tuntutan tersebut dalam sebuah pernyataan yang dirilis kantornya pada Selasa, disampaikan setelah ia mengunjungi pasukan Israel yang terluka dalam serangan terbaru terhadap wilayah Suriah.

Penggerebekan itu menargetkan kota Beit Jinn, tempat media Suriah melaporkan sedikitnya 13 warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, tewas. Rezim Israel mengklaim operasi tersebut ditujukan kepada “militan”, namun tidak memberikan bukti terverifikasi mengenai identitas korban tewas.

Dalam pidatonya, Netanyahu menegaskan bahwa Zona Penyangga itu harus mencakup kawasan menuju Gunung Hermon, termasuk puncaknya, dengan menggambarkan perluasan kendali militer Israel sebagai “prinsip keamanan” yang tidak dapat dinegosiasikan.

Ia berkata, “Kami mempertahankan wilayah-wilayah ini untuk menjamin keamanan” para pemukim ilegal Israel, seraya menambahkan bahwa setiap kesepakatan dengan Suriah harus mencakup penerimaan Damaskus terhadap persyaratan Tel Aviv.

Pernyataan tersebut muncul bersamaan dengan komentar Presiden AS Donald Trump, yang secara terbuka menyatakan bahwa rezim Israel harus “mempertahankan dialog yang kuat dan nyata dengan Suriah” serta memperingatkan agar tidak mengambil langkah yang dapat “mengganggu evolusi Suriah”, tanpa menyinggung operasi darat Israel yang terus berlangsung di negara itu.

Para pengamat menilai komentar Trump itu sekadar basa-basi terhadap isu keutuhan wilayah Suriah. Mereka menyinggung dukungan tanpa syarat Washington terhadap serangan regional dan tindakan kekerasan rezim Israel.

Baca juga: Email yang Bocor Ungkap Kampanye Pengaruh Tersembunyi Israel di Media AS

Sejak akhir 2024, setelah jatuhnya pemerintahan Presiden Bashar al-Assad akibat serangan besar-besaran yang didukung Israel, pasukan Israel telah bergerak masuk ke Area Pemisah (Area of Separation) yang ditetapkan PBB pada 1974 setelah gencatan senjata yang ditengahi PBB.

Zona seluas 235 kilometer persegi itu pada awalnya dimaksudkan sebagai wilayah netral untuk mencegah eskalasi, dan diawasi oleh pasukan penjaga perdamaian PBB.

Sebagian besar negara hingga kini menolak aneksasi Tel Aviv atas Dataran Tinggi Golan yang lebih luas, yang direbut Israel pada 1967.

Rezim Israel mengklaim bahwa beberapa serangan lebih dalam ke wilayah Suriah dilakukan untuk “melindungi” minoritas Druze, klaim yang disambut dengan skeptisisme oleh para analis independen. Mereka mencatat bahwa militer Israel pada saat yang sama justru membombardir infrastruktur sipil dan sasaran politik yang jauh dari garis sektarian mana pun. Komunitas Druze sendiri telah menolak “perlindungan Israel”.

Trump telah merangkul penguasa baru Suriah, Abu Mohammad Jolani, mantan komandan Daesh dan al-Qaeda, yang naik ke tampuk kekuasaan sebagai hasil dari serangan militer yang didukung Israel. Trump bahkan telah menjamu Jolani di Gedung Putih.

Sebelumnya, Tel Aviv menghormati Trump dengan mendirikan “Trump Heights”, sebuah permukiman ilegal yang dibangun di atas tanah pendudukan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *