Al-Quds, Purna Warta – Media-media Israel melaporkan bahwa Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, saat ini berada dalam posisi yang sulit. Di satu sisi, ia menghadapi tekanan dari kelompok-kelompok domestik yang menuntut keberlanjutan kebijakan keras terhadap Iran dan Hizbullah. Di sisi lain, ia juga menghadapi tekanan dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang dikabarkan mendorong diakhirinya konflik dan tercapainya kesepakatan dengan Iran.
Menurut laporan yang dikutip dari berbagai media Israel, berdasarkan analisis sejumlah pengamat Israel dan Amerika, Netanyahu terjebak di antara tuntutan sebagian opini publik Israel yang menekankan pentingnya mengalahkan Iran dan Hizbullah, dan keinginan Washington untuk mengakhiri konfrontasi serta mencapai suatu bentuk kesepakatan politik.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa situasi politik Netanyahu semakin rumit karena hasil berbagai survei di Israel menunjukkan tingkat ketidakpuasan publik yang cukup tinggi terhadap kepemimpinannya. Menurut survei-survei yang dipublikasikan di wilayah pendudukan Palestina, lebih dari 60 persen responden tidak menginginkan Netanyahu kembali menjadi kandidat perdana menteri pada pemilu mendatang. Pada saat yang sama, posisi partai-partai koalisi yang mendukung pemerintahannya juga dilaporkan mengalami penurunan dibandingkan kubu oposisi.
Media Israel menilai bahwa setiap kemungkinan kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi memperburuk posisi politik Netanyahu di dalam negeri. Dalam konteks ini, perhatian kembali tertuju pada pernyataan Donald Trump beberapa hari sebelumnya yang mengatakan bahwa ia tidak mengetahui apakah Netanyahu akan kembali mencalonkan diri dalam pemilihan mendatang atau tidak.
Dalam beberapa bulan terakhir, perdebatan di Israel mengenai arah kebijakan terhadap Iran semakin mengemuka. Sejumlah kalangan keamanan dan politik menilai bahwa keberhasilan militer saja tidak cukup apabila tidak menghasilkan pencapaian politik yang jelas. Perbedaan pandangan ini menciptakan tekanan tambahan bagi Netanyahu, yang harus menyeimbangkan tuntutan kelompok-kelompok garis keras dengan kebutuhan menjaga hubungan strategis dengan Amerika Serikat.
Pada saat yang sama, hubungan antara Netanyahu dan Trump menjadi sorotan media internasional. Meskipun kedua pihak secara umum mempertahankan kerja sama strategis yang erat, berbagai laporan menunjukkan adanya perbedaan pendekatan terkait cara menghadapi Iran. Sebagian pengamat menilai Washington lebih memprioritaskan stabilitas kawasan dan pencapaian kesepakatan diplomatik, sementara sebagian kalangan politik di Israel tetap mendorong pendekatan yang lebih konfrontatif.
Dari sisi politik domestik, Netanyahu juga terus menghadapi kritik terkait penanganan berbagai isu keamanan dan pemerintahan. Sejumlah survei opini publik dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan fluktuasi dukungan terhadap dirinya dan koalisi yang dipimpinnya. Oleh karena itu, setiap perkembangan besar dalam hubungan Amerika Serikat–Iran berpotensi memiliki dampak langsung terhadap dinamika politik internal Israel dan prospek elektoral Netanyahu pada masa mendatang.
Sejumlah analis Israel juga menilai bahwa jika tercapai kesepakatan baru antara Washington dan Teheran, Netanyahu akan menghadapi dilema politik yang tidak mudah. Menentang kesepakatan secara terbuka dapat memicu ketegangan dengan Amerika Serikat sebagai sekutu utama Israel, sementara menerima kesepakatan tersebut berisiko menimbulkan kritik dari basis politik domestiknya yang menginginkan kebijakan lebih keras terhadap Iran. Karena itu, perkembangan hubungan AS–Iran dipandang sebagai salah satu faktor yang dapat memengaruhi masa depan politik Netanyahu dalam jangka pendek maupun menengah.


