“Nakba” Baru di Al-Quds yang Diduduki: Israel Tingkatkan Penghancuran di Silwan dekat Al-Aqsa

Nakba

Al-Quds, Purna Warta – Warga Palestina mengatakan bahwa Israel memanfaatkan impunitas di masa perang untuk mempercepat pengusiran serta memperluas taman bertema “biblikal” yang terkait dengan pemukim di Al-Quds Timur yang diduduki.

Laporan media menunjukkan bahwa Israel telah secara drastis meningkatkan penghancuran rumah-rumah warga Palestina sejak Oktober 2023, ketika negara itu melancarkan perang yang disebut “genosida” terhadap penduduk Jalur Gaza yang terkepung.

Lebih dari 2.000 warga Palestina di tiga lingkungan di kota tersebut kini menghadapi ancaman pengusiran, baik melalui klaim pemukim atas rumah mereka maupun tuduhan pelanggaran bangunan.

Warga khawatir bahwa seluruh komunitas Palestina dapat dihapuskan—tidak hanya di Silwan, tetapi juga di Sheikh Jarrah dan Ras al-Amud.

Eskalasi ini terjadi ketika Israel bergerak cepat dan tanpa hambatan untuk menguasai tanah dan properti pribadi Palestina.

Selama beberapa dekade, Silwan dan lingkungan Palestina lain di sekitar Kota Tua telah menjadi target utama kampanye penghancuran dan pengusiran oleh Israel.

Silwan, yang dihuni sekitar 55.000 warga Palestina pada 2022, terletak secara strategis di selatan Kota Tua Al-Quds dan Masjid Al-Aqsa.

Al-Bustan merupakan salah satu dari tiga bagian utama Silwan, sebuah distrik Palestina yang berbatasan dengan tembok selatan Masjid Al-Aqsa.

Warga dan peneliti melaporkan bahwa otoritas Israel telah menghancurkan 54 rumah di Al-Bustan saja sejak Oktober 2023, dari sekitar 115 rumah di wilayah tersebut.

Sebagian besar rumah yang tersisa kini berada di bawah ancaman pembongkaran.

Aktivis lama anti-pendudukan, Fakhri Abu Diab, mengatakan kepada media bahwa kebijakan pengusiran paksa oleh rezim pendudukan Tel Aviv telah menghancurkan impian dirinya dan warga Palestina lainnya.

“Penderitaan bukan hanya pada penghancuran rumah, tetapi juga penghancuran masa lalu, kehidupan, dan masa depan kami,” ujar Abu Diab.

Rumahnya sendiri di kawasan Al-Bustan di Al-Quds Timur yang diduduki telah dihancurkan oleh otoritas Israel pada 2024.

Rumah tersebut merupakan salah satu dari puluhan rumah Palestina yang diratakan di selatan Masjid Al-Aqsa untuk membuka jalan bagi perluasan proyek pemukim Israel.

Otoritas Israel telah mempercepat penghancuran rumah dan pengusiran di seluruh Al-Quds Timur, dengan Al-Bustan menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak.

Di lingkungan itu, skala kehancuran terlihat di setiap sudut: di jalan-jalan sempitnya, puing-puing dan rumah yang rata dengan tanah muncul setiap beberapa meter.

Di utara Kota Tua, Sheikh Jarrah telah lama menjadi pusat aktivitas pemukim.

Di Ras al-Amud, sebelah tenggara Kota Tua, ratusan pemukim tinggal di komunitas berpagar dengan pengamanan ketat.

Tak lama setelah menduduki Al-Quds Timur pada 1967, otoritas Israel memperkenalkan undang-undang yang memfasilitasi pengalihan properti Palestina kepada kepemilikan Yahudi.

Bertahun-tahun perlawanan Palestina dan sorotan internasional sebelumnya memperlambat laju organisasi pemukim di wilayah tersebut.

Namun sejak dimulainya perang Israel di Gaza pada Oktober 2023, situasinya berubah drastis.

Para aktivis memperingatkan bahwa penghancuran ini mengubah lanskap demografis di sekitar Masjid Al-Aqsa—mengepungnya dengan sabuk kompleks pemukim sekaligus memutusnya dari penduduk Palestina.

Di tengah meningkatnya represi, minimnya dukungan internasional, dan terbatasnya perhatian media, warga Palestina mengatakan mereka semakin merasa tidak memiliki perlindungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *