Perang AS Terhadap Iran Mengancam Pertanian Dan Ketahanan Pangan Asia

Pertanian Asia

Purna WartaDari lumbung padi Thailand hingga Delta Mekong Vietnam, para petani di seluruh Asia membuat perhitungan dan sampai pada kesimpulan yang sama. Musim tanam telah tiba, pupuk tak ada. Pertanian Asia menghadapi guncangan hebat.

Keputusan yang akan dibuat beberapa minggu mendatang akan menentukan berapa banyak hasil panen padi dunia tahun ini.

Penyebab langsung krisis ini adalah perang yang tidak diperhatikan sama sekali oleh sebagian besar petani.

Ketika Amerika Serikat dan Israel  di tengah-tengah negosiasi melancarkan agresi militer ilegal terhadap Iran pada 28 Februari, Selat Hormuz, jalur air sempit yang dilalui sekitar sepertiga perdagangan pupuk dunia melalui laut, secara praktis tertutup.

Banyak negara mengimpor sejumlah besar pupuk dari negara-negara Teluk Persia. Beberapa minggu setelah perang dimulai, harga urea, pupuk nitrogen yang paling umum di dunia, telah melonjak lebih dari 40%.

Ketika ekspor melalui Selat Hormuz terhenti, perhatian dunia beralih ke China, produsen pupuk terbesar di dunia.

Tahun lalu, China berkontribusi dalam produksi  25% pupuk global dan mengekspor pupuk dengan nilai lebih dari 13 miliar dolar.

Namun China telah menutup pintu pada bulan Maret dengan melarang ekspor beberapa jenis pupuk penting bagi industri pertanian.

Menurut analisis Reuters terhadap data bea cukai Tiongkok, antara setengah hingga 80% dari ekspor pupuk tersebut kini mengalami pembatasan.

Satu-satunya pupuk yang masih diekspor China dalam jumlah besar adalah amonium sulfat, sebuah produk sampingan industri kelas rendah pengganti pupuk lainnya.

“Gabungan efek larangan ekspor Tiongkok dan penutupan Selat Hormuz pasti akan mengguncang pasar pupuk global dan ketahanan pangan,” kata Joseph Glauber, Peneliti Emeritus di International Food Policy Research Institute yang berbasis di Washington.

Kepemimpinan China menjadikan swasembada pangan sebagai landasan politik domestik. Undang-undang keamanan pangan nasional China yang disahkan pada tahun 2023 mewajibkan pemerintah daerah untuk memasukkan target produksi pangan secara langsung ke dalam rencana ekonomi mereka.

Membiarkan pupuk mengalir keluar negeri ketika harga global melonjak akan mendorong harga domestik naik, menekan para petani China yang seharusnya dilindungi oleh kebijakan tersebut.

“Di China, keamanan pangan adalah isu politik utama dan memastikan ketersediaan pangan yang cukup untuk kebutuhan domestik bukanlah sesuatu yang bisa dikompromikan oleh pemerintah,” kata Profesor Paul Teng, seorang Senior Fellow di bidang keamanan pangan di Singapura.

Bagi Asia Tenggara, kawasan yang di bidang pertanian secara struktural bergantung pada pasokan pupuk dari China, keputusan Beijing untuk menghentikan ekspor memiliki dampak besar.

Vietnam adalah salah satu pengekspor beras utama dunia, yang memasok sebagian besar kebutuhan pangan Filipina dan sebagian Afrika.

Pada kuartal pertama tahun 2026, China menyumbang lebih dari setengah total impor pupuk Vietnam dengan lebih dari 480.000 ton.

Sederhananya, negara yang memasok kebutuhan pangan dan pet kawasan ini tidak dapat memenuhi kebutuhan pertaniannya sendiri tanpa pasokan pupuk dari China.

Di tempat lain, Filipina berada dalam posisi yang lebih genting. Negara ini bergantung pada China untuk memenuhi 75% kebutuhan pupuknya dan hampir tidak memiliki produksi domestik untuk diandalkan.

Lebih parah lagi, Filipina bergantung pada Vietnam untuk sekitar 80% impor berasnya.

Rantai pasokan merupakan garis vertikal ketergantungan: konsumen Filipina bergantung pada beras Vietnam dan petani Vietnam bergantung pada pupuk China. Terputusnya salah satu mata rantai akan berujung pada runtuhnya seluruh rantai.

Thailand, sebuah negara adidaya pertanian yang ekspor berasnya memberi makan sebagian besar Asia, memperoleh sekitar seperlima pupuknya dari China pada tahun 2024 dan 32% dari total impor pupuknya dari negara-negara Teluk. Kedua koridor tersebut kini terhambat secara bersamaan.

Konsekuensi semua ini tidak akan terlihat pada harga pangan minggu ini atau bahkan bulan depan. Karena sekarang adalah musim menanam dan harga akan ditentukan usai panen.

Dampaknya baru akan terlihat pada akhir tahun, ketika panen yang seharusnya ditanam pada musim ini memiliki hasil yang lebih sedikit dari seharusnya atau bahkan tidak ada sama sekali, menurut para analis.

Program Pangan Dunia PBB memperkirakan bahwa dampak gabungan dari konflik Timur Tengah dapat mendorong 45 juta orang ke jurang kelaparan pada tahun 2026.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *