Washington Post: Dampak Guncangan Pertanian Imbas Dari Perang Iran Akan Serupa Dengan Era Covid-19

perang iran pertanian

Purna WartaPerang ilegal yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran yang secara praktis mengakibatkan terhentinya pengiriman barang di Teluk Persia telah memicu guncangan rantai pasokan yang mengganggu pertanian dan pada akhirnya mengganggu kehidupan.

Dongyu Qu, direktur jenderal Organisasi Pangan dan Pertanian PBB, mengatakan perang tersebut tidak hanya menciptakan krisis geopolitik tetapi juga “gangguan terhadap inti sistem agrifood global.”

“30 persen urea dunia telah lenyap” kata Pranshi Goyal, analis senior di perusahaan intelijen pasar CRU Group. China, produsen pupuk utama, telah membatasi ekspor untuk memastikan para petaninya memiliki cukup pasokan. Rusia, produsen besar lainnya, melihat permintaan melonjak, tampaknya akan meningkatkan ekonomi guna membantu perang di Ukraina. Di pasar, harga urea naik 40 persen sejak Februari.

Pada hari Senin, Trump mengatakan Amerika Serikat akan memandu kapal-kapal yang terdampar melalui Selat Hormuz, tetapi kemudian dengan cepat mengubah pernyataannya setelah laporan bahwa dua kapal perusak AS dihantam oleh Iran saat melintasi selat tersebut.

Seandainya lalu lintas kapal kembali normal sekalipun, dibutuhkan setidaknya satu atau dua bulan agar kargo tiba di tujuan dan membuat pasar kembali stabil, kata Goyal.

Semakin lama pabrik-pabrik produksi di Timur Tengah tutup, semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk memulai kembali produksi. “Masalah ini berkembang secara nonlinier,” kata Goyal. Begitu pula dampaknya.

Di Thailand, Filipina, Bangladesh dan Australia, yang merupakan negara pertama sejak perang Iran yang memasuki periode penanaman, para petani memilih melewatkan atau mengurangi jumlah penanaman atau mengurangi penggunaan pupuk, yang tentu berimbas pada berkurangnya hasil pertanian.

Seiring perang semakin memberi dampak pada pertanian, petani banyak negara akan dipaksa membuat pilihan serupa, kata Maximo Torero, kepala ekonom FAO. “Saat ini, dampaknya lebih parah di Asia,” kata Torero. “Namun jelas, ini bergerak dari timur ke barat dan dari selatan ke utara.”

Pada bulan Juni, India dan Brasil, dua produsen pertanian terbesar di dunia, akan meningkatkan pesanan urea. Jika pada saat itu kapal yang membawa urea tidak berlayar, maka akan terjadi “kerugian hasil panen yang signifikan di banyak negara”, kata Torero. Harga komoditas akan naik, memicu inflasi. Dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi akan sangat mirip dengan apa yang terjadi pada Covid-19.” Lanjutnya.

Lebih buruk lagi, para ilmuwan mengatakan planet ini kemungkinan akan dilanda pola iklim El Niño super tahun ini, yang dapat mengakibatkan panas ekstrem dan kekeringan yang akan memberikan dampak lainnya pada hasil panen.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *