Al-Quds, Purna Warta – Militer Israel dilaporkan telah menyampaikan kepada para pejabat Amerika Serikat bahwa Hamas telah membangun kembali jaringan terowongannya dan memulihkan kemampuan tempurnya di Jalur Gaza yang terkepung. Militer Israel juga mengeklaim bahwa Hamas sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi konfrontasi baru. Berdasarkan penilaian tersebut, militer Israel berpendapat bahwa gerakan perlawanan Palestina itu hanya dapat dilucuti senjatanya melalui agresi militer berskala penuh yang baru.
Menurut surat kabar Israel, Haaretz, para pejabat militer Israel telah memaparkan penilaian intelijen kepada para perwira Angkatan Darat AS dan pejabat rezim Israel. Penilaian tersebut mengklaim bahwa Hamas tidak berniat menyerahkan senjatanya dan sedang mempersiapkan diri untuk kembali bertempur di wilayah Gaza yang diblokade.
Laporan tersebut muncul di tengah keengganan rezim Benjamin Netanyahu untuk bekerja sama dengan rencana 20 poin yang disponsori oleh Presiden AS Donald Trump.
Haaretz melaporkan bahwa penilaian militer Israel menyimpulkan bahwa Hamas tidak dapat dilucuti senjatanya oleh badan internasional. Oleh karena itu, menurut penilaian tersebut, agresi militer baru diperlukan untuk menghancurkan kemampuan bersenjata gerakan perlawanan Palestina itu.
Penilaian tersebut menyebutkan bahwa Hamas telah membangun kembali jaringan terowongannya serta memperkuat persediaan senjata dan pasukan tempurnya di wilayah-wilayah Gaza yang masih berada di bawah kendalinya.
Berdasarkan perkiraan Israel, Hamas memiliki sekitar 30.000 hingga 40.000 anggota operasional. Sejumlah media Israel menyebut angka tersebut sebanding dengan jumlah anggota Hamas sebelum perang.
Aparat keamanan rezim Israel juga dilaporkan meyakini bahwa Hamas masih menjalankan pemerintahan secara efektif di seluruh Jalur Gaza.
Sejumlah media Israel lainnya menyampaikan kekhawatiran serupa mengenai keberlanjutan keberadaan Hamas sebagai kekuatan bersenjata sekaligus politik, setelah dua tahun pemboman Israel yang menghancurkan dan agresi militer berskala penuh di wilayah tersebut.
Situs berita Israel, Ynet, melaporkan bahwa Hamas memiliki sekitar 30.000 personel di seluruh Jalur Gaza. Jumlah tersebut mencakup pegawai administrasi, anggota operasional tingkat bawah, serta personel sayap militer Hamas.
Hamas sebelumnya telah menyatakan kesediaannya untuk menyerahkan kewenangan administratif kepada badan teknokrat yang didukung AS, yaitu Komite Nasional untuk Administrasi Gaza (National Committee for the Administration of Gaza/NCAG), sebagaimana direncanakan dalam kesepakatan tersebut.
Namun, menurut laporan itu, Israel telah mencegah komite tersebut memasuki Gaza dan memulai tugasnya.
Sementara itu, pembatasan terhadap Gaza terus berlanjut meskipun terdapat rencana gencatan senjata yang disponsori AS. Pengiriman bantuan kemanusiaan masih sangat terbatas, sedangkan pasukan Israel terus membatasi masuknya peralatan dan pasokan medis penting, termasuk kursi roda.
Rezim Israel telah menyatakan akan mempertahankan kehadiran militernya dan melanjutkan serangan di Gaza. Sementara itu, Hamas menegaskan bahwa pihaknya tidak akan menyerahkan senjatanya sebelum dimulainya proses menuju pembentukan negara Palestina yang merdeka.
Lebih dari 1.500 orang dilaporkan telah tewas sejak rezim Israel dan gerakan perlawanan Palestina Hamas, yang menguasai Gaza, menyepakati gencatan senjata pada Oktober 2025 melalui mediasi negara-negara kawasan. Kesepakatan tersebut bertujuan mengakhiri genosida Israel di Gaza, yang telah menewaskan hampir 75.000 warga Palestina sejak 7 Oktober 2023.


