‘Mereka Menggantung Saya Seperti Babi di Atas Tusukan’: Jurnalis Yahudi-Amerika Mengingat Penyiksaan di Penjara Israel

The hung

Al-Quds, Purna Warta – Seorang jurnalis Yahudi-Amerika yang ditahan di wilayah pendudukan setelah bergabung dengan flotila bantuan menuju Gaza menceritakan bahwa ia menyaksikan dan secara pribadi mengalami penyiksaan bersama para tahanan Palestina di sebuah penjara Israel.

Baca juga: UNRWA: Panen Zaitun di Tepi Barat Alami Serangan Pemukim Israel Terburuk Tahun ini

Noa Avishag Schnall, seorang Yahudi-Amerika yang menjadi bagian dari Freedom Flotilla Coalition (FFC), menyampaikan kesaksiannya dalam sebuah video yang diunggah di akun X miliknya pada Sabtu.

“Apa yang terjadi pada kami di tempat terang tidak seberapa dibanding apa yang terjadi setiap hari—dan terus terjadi pada saudara-saudari Palestina kami di dalam kegelapan. Tidak ada pembanding,” ujarnya.

Jurnalis tersebut mengatakan ia dipukuli oleh para sipir penjara setelah kedua tangan dan kakinya dibelenggu.

“Mereka menggantung saya seperti babi di atas tusukan, kalau Anda bisa membayangkannya. Lalu mereka membawa saya ke dalam ruangan dan langsung menghajar tengkorak saya, perut saya, dan telinga saya,” kata dia.

Schnall juga menyebut bahwa salah satu sipir duduk menindih leher dan wajahnya sampai ia tidak bisa bernapas, seraya menambahkan bahwa borgol tersebut membuat pergelangan kakinya memar dan jari-jarinya mati rasa.

“Saya tahu saya bisa bertahan, karena ada tanggal kedaluwarsanya. Saya tahu kami akan keluar. Saya punya paspor Amerika. Palestina tidak punya kemewahan itu,” tutur Schnall.

Schnall mengatakan ia bergabung dalam flotila itu karena “tanggung jawab pribadi,” dan menggambarkan adanya “rasisme terang-terangan” dalam perlakuan terhadap para tahanan.

“Kawan kami dari Tunisia, kawan kami dari Turki—yang mereka langsung asumsikan Arab—saya melihat mereka langsung dipilih, dan mereka mendapat perlakuan paling buruk. Saya melihat dengan mata kepala sendiri. Saya melihat tubuh mereka berlumuran darah,” katanya.

Menurut Schnall, pasukan Israel memisahkan laki-laki dan perempuan sebelum memindahkan mereka ke Penjara Ketziot.

Baca juga: 916 Pos Pemeriksaan Israel di Tepi Barat — dan Mempelai Pria yang Akhirnya Berhasil Menemui Pengantinnya

“Para lelaki mengatakan kepada kami bahwa mereka dibangunkan oleh anjing-anjing yang mengancam dan para prajurit yang memegang senjata,” ungkapnya. “Para perempuan, termasuk sel kami, dibangunkan dengan ancaman pemerkosaan. Semuanya berupa penyiksaan psikologis dan unsur-unsur serangan seksual.”

Schnall menambahkan bahwa satu hari setelah Israel membebaskan tahanan flotila terakhir, mereka mulai membebaskan 2.000 warga Palestina—sekitar 1.700 di antaranya berasal dari Gaza.

“Fakta bahwa kami dibebaskan lebih dulu dari mereka hanyalah ketidakadilan dari sebuah paspor, dari sebuah kewarganegaraan. Anda melihat jenazah yang dipulangkan sekarang—jenazah yang menunjukkan tanda-tanda penyiksaan, eksekusi, sebagian bahkan tak dapat diidentifikasi, mereka masih dengan borgol di tubuh mereka,” katanya.

“Dan itu terjadi di Ketziot dan penjara lainnya,” ia menegaskan.

Schnall adalah salah satu dari puluhan jurnalis dan aktivis yang berlayar dengan kapal The Conscience—kapal utama Freedom Flotilla Coalition—yang mencoba memecah blokade Israel yang telah berlangsung lama terhadap Gaza.

Pasukan Israel mencegat flotila tersebut di perairan internasional pada 8 Oktober, menaiki kapal-kapal itu dan membawa para peserta ke dalam tahanan. Para tahanan kemudian dipindahkan ke penjara-penjara Israel, termasuk fasilitas Ketziot di Gurun Negev, yang terkenal dengan penyiksaan dan perlakuan tidak manusiawi.

Kelompok-kelompok HAM memperkirakan Israel saat ini menahan lebih dari 9.000 warga Palestina di penjara dan pusat tahanan, termasuk perempuan dan anak-anak.

Organisasi-organisasi HAM telah berulang kali menyerukan investigasi independen terhadap pelanggaran hak-hak para tahanan Palestina di penjara-penjara Israel.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *