916 Pos Pemeriksaan Israel di Tepi Barat — dan Mempelai Pria yang Akhirnya Berhasil Menemui Pengantinnya

Pernikahan

Al- Quds, Purna Warta – Menurut laporan pemberitaan, Nidal, yang berasal dari desa Turmusayya di utara Ramallah, Tepi Barat Palestina, pada pagi hari pernikahannya terpaksa menunggu berjam-jam di balik sebuah gerbang besi Israel.

Baca juga: Mahasiswa AS Tantang JD Vance soal Dukungan Washington Terhadap Tel Aviv

Ia bermaksud membawa calon istrinya ke salon kecantikan di desa Sinjil — namun mendadak menghadapi gerbang metal yang ditutup oleh tentara Israel. Momen yang seharusnya penuh keceriaan berubah menjadi penantian yang melelahkan; mempelai pria dan wanita terjebak dan terpisah di balik penghalang itu.

Di wilayah pendudukan Tepi Barat terdapat 916 pos pemeriksaan permanen dan sementara, dan lebih dari 243 di antaranya berupa gerbang besi yang sengaja dipasang untuk membatasi pergerakan warga Palestina. Pembatasan tersebut semakin diperketat sejak dimulainya perang Gaza pada Oktober 2023.

Jabbara — berada dalam mobil pengantinnya yang telah dihias — berdiri di depan gerbang tertutup dan berulang kali berupaya melintas. Namun setelah semua jalan tertutup, ia akhirnya terpaksa menyewa kendaraan lain untuk dapat membawa calon istrinya sampai ke tujuan, sementara mobil pengantin aslinya tertahan di balik gerbang.

Ayed Ghaffari, seorang aktivis lokal penentang pemukiman di Sinjil, mengatakan bahwa Jabbara “hanya ingin membawa pengantinnya ke salon kecantikan,” tetapi gerbang besi itu menghalanginya. Ia menjelaskan bahwa mempelai pria akhirnya dapat melanjutkan perjalanan setelah menyewa kendaraan lain.

Warga Palestina di Tepi Barat kerap harus menggunakan beberapa jenis kendaraan untuk sekadar berpindah dari satu kota ke kota lain — karena militer Israel memasang puluhan gerbang besi dan pos pemeriksaan untuk membatasi mobilitas mereka.

Sejak dimulainya perang destruktif Israel di Gaza yang berlangsung selama dua tahun, kekerasan dan penindasan di Tepi Barat oleh militer dan pemukim Israel meningkat secara drastis. Serangan tersebut sejauh ini telah menyebabkan gugurnya 1.063 warga Palestina dan melukai sekitar 10.000 lainnya. Lebih dari 20.000 warga Palestina — termasuk 1.600 anak — telah ditangkap.

Kendati telah tercapai kesepakatan gencatan senjata antara Hamas dan Israel yang mulai berlaku Oktober ini, pembatasan dan pengepungan terhadap warga Palestina masih terus berlangsung, dan kehidupan masyarakat tetap sangat dibebani oleh pos pemeriksaan serta pembatasan mobilitas.

Baca juga: Israel Perluas Permukiman dengan 48.000 Unit Baru Sejak Netanyahu Menjabat

Perang Gaza yang dilakukan Israel dengan dukungan Amerika Serikat ini telah menyebabkan bencana kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya: lebih dari 68.000 jiwa gugur dan 170.000 terluka — mayoritas adalah anak-anak dan perempuan. Menurut laporan PBB, perkiraan biaya rekonstruksi Gaza mencapai sekitar 70 miliar dolar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *