Media Ibrani: Trump Kalah dalam Menghadapi Iran dan Akan Membayar Harga yang Berat

Kalah Trump

Al-Quds, Purna Warta – Sebuah media berbahasa Ibrani menulis: “Trump mempertaruhkan seluruh modal politiknya untuk mengalahkan Iran, dan kini berada di ambang membayar harga yang mahal.”

Menurut laporan pemberitaan Palestina, media tersebut dalam sebuah analisis menulis bahwa setelah enam bulan sejak dimulainya perang, Trump kini menyadari bahwa senjata Iran yang paling berbahaya adalah harga bahan bakar di pasar. Pada saat yang sama, popularitasnya dalam berbagai jajak pendapat merosot dan ketakutan mulai menyelimuti Partai Republik yang dipimpinnya menjelang pemilu sela. Kini, Presiden Amerika Serikat tersebut memusatkan perhatiannya untuk menemukan gambaran kemenangan yang dapat membantunya keluar dari krisis ini.

Laporan itu melanjutkan bahwa setelah sekitar enam bulan sejak dimulainya perang antara Amerika Serikat dan Iran, kampanye militer dan tekanan ekonomi telah menimbulkan tekanan yang semakin besar di dalam Washington.

Jajak pendapat menunjukkan menurunnya dukungan terhadap Donald Trump dan cara ia menangani konflik tersebut. Anggota Partai Republik yang mengkhawatirkan nasib mereka dalam pemilu sela mulai kehilangan kesabaran, sementara sejumlah mantan pejabat Amerika memperingatkan bahwa Iran mungkin mengubah perang tersebut menjadi konflik berkepanjangan.

Namun, sumber-sumber yang sama menyatakan bahwa kemungkinan kampanye tersebut berlanjut hingga 2029, ketika masa jabatan kepresidenan Trump berakhir, relatif kecil. Alasannya adalah biaya ekonomi yang sangat besar yang harus ditanggung dunia, terutama dampak krisis di Selat Hormuz. Kondisi tersebut membuat masyarakat internasional dan negara-negara kawasan semakin sulit menerima perang yang berlangsung selama bertahun-tahun.

Kesimpulannya bagi Gedung Putih cukup jelas: Trump harus menemukan cara untuk mengakhiri perang dengan persyaratan yang dapat ia tampilkan sebagai sebuah kemenangan, tanpa memberikan Iran kesempatan untuk “membeli waktu” dan menyeret Amerika Serikat hingga pemilu presiden berikutnya.

Di bagian lain laporan tersebut disebutkan bahwa seiring kenaikan harga, negara-negara yang terdampak diperkirakan akan meningkatkan tekanan terhadap pihak yang mereka anggap sebagai penghalang tercapainya kesepakatan.

Masih sulit untuk memahami bagaimana kepemimpinan baru Iran akan bertindak. Karena itu, periode mendatang mungkin masih menyaksikan meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran. Namun, negara-negara kawasan dan kekuatan-kekuatan yang terdampak krisis memiliki kepentingan yang jelas untuk mencegah konflik tersebut terus berlanjut.

Namun, yang membuat Trump khawatir bukan hanya aspek militer atau ekonomi. Pemilu Kongres pada November 2026 telah menjadikan perang dengan Iran sebagai persoalan politik yang mendesak.

Menurut CNN, kesabaran sejumlah anggota Partai Republik mulai menipis setelah sekitar enam bulan konflik. Kekhawatiran tersebut terutama terlihat di kalangan anggota parlemen yang bertarung di daerah pemilihan yang kompetitif dan menghadapi risiko kehilangan kursi mereka.

Sebagian besar dari mereka masih menghindari konfrontasi langsung dengan Trump dan terus mendukungnya, dengan harapan para pemilih bersedia menanggung biaya ekonomi perang demi alasan keamanan nasional.

Namun, ketika harga bahan bakar dan biaya hidup meningkat, hal tersebut menjadi jauh lebih rumit.

Bart Miershon, seorang ahli strategi Partai Republik dari Arizona, menggambarkan dilema tersebut dengan mengatakan: “Ada satu orang di negara ini yang tidak peduli dengan harga bensin, dan sayangnya, dialah orang yang sampai batas tertentu mengendalikan nasib kita.” Ia menambahkan bahwa kandidat Partai Republik kini harus melakukan “keseimbangan yang sangat hati-hati”: tetap mendukung presiden sekaligus menunjukkan empati terhadap kesulitan ekonomi yang dihadapi para pemilih.

Suara-suara kritis di antara pejabat terpilih Partai Republik juga semakin meningkat. Senator Jim Justice dari Virginia Barat mengatakan kepada wartawan di Washington bahwa perang tersebut telah berubah menjadi “kekacauan total” dan menyerukan partainya untuk berbuat lebih banyak dalam mengatasi kekhawatiran ekonomi masyarakat.

Ketua DPR Amerika Serikat, Mike Johnson, yang merupakan salah satu sekutu terdekat Trump, juga mengakui hubungan antara perang dan meningkatnya biaya hidup.

Dalam sebuah acara kampanye di Virginia, Johnson mengatakan: “Konflik dengan Iran, secara alami, telah menyebabkan kenaikan harga bensin karena ini merupakan konflik yang berlangsung dalam jangka panjang.”

Hingga saat ini, Trump sendiri tampaknya belum menunjukkan banyak keinginan untuk menyesuaikan diri dengan kekhawatiran politik yang dirasakan partainya.

Namun, bagi Trump, beberapa bulan mendatang akan menjadi perlombaan di dua sisi. Di satu sisi, ia berusaha mempertahankan tekanan ekonomi dan militer terhadap Teheran serta mencapai kesepakatan yang dapat ia tampilkan sebagai sebuah pencapaian. Di sisi lain, ia harus mencegah perang tersebut menjadi hambatan bagi kandidat-kandidat Partai Republik dalam pemilu sela.

Dilema ini akan semakin buruk jika konflik terus berlangsung. Iran memahami bahwa mengulur waktu akan meningkatkan tekanan politik terhadap Gedung Putih, sementara Trump memahami bahwa kesempatan baginya untuk mengakhiri perang dari posisi yang kuat semakin menyempit.

Laporan tersebut menekankan bahwa bagi Partai Republik, kenaikan harga bahan bakar hingga November 2026 merupakan sebuah mimpi buruk. Jika harga bahan bakar terus meningkat, dukungan publik akan terus terkikis dan perang akan dipandang sebagai konflik tanpa akhir yang jelas.

Dalam kondisi tersebut, Iran mungkin berubah dari sekadar persoalan kebijakan luar negeri menjadi salah satu isu yang menentukan keseimbangan kekuatan politik di dalam Amerika Serikat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *