Wellington, Purna Warta – Mantan Perdana Menteri (PM) Selandia Baru, Jacinda Ardern, menyerukan kepada para pemimpin dunia untuk mengakhiri genosida yang sedang berlangsung terhadap rakyat Palestina di Jalur Gaza dengan mengakui kedaulatan negara Palestina.
Baca juga: Perancis Larang Wali Kota Kibarkan Bendera Palestina Saat Pengumuman Pengakuan Negara Palestina
Dalam sebuah artikel opini yang diterbitkan oleh The Guardian pada Jumat, Ardern mengecam tingginya jumlah korban jiwa di Gaza, khususnya dampak perang genosida terhadap para ibu baru dan proses persalinan.
“Ada jalan untuk menghentikan genosida yang masih terjadi setiap hari di depan mata kita: lebih banyak negara harus mengakui negara Palestina; segala bentuk kerja sama yang memfasilitasi aksi militer harus dihentikan,” tulisnya.
“Bantuan kemanusiaan harus segera menjangkau mereka yang terjebak dan kelaparan; layanan kesehatan harus tersedia bagi yang terluka, yang kekurangan gizi, serta bagi ibu hamil dan ibu baru,” tambahnya.
Mantan PM Selandia Baru itu menegaskan, ketika para pemimpin dunia berkumpul di New York pekan depan untuk Sidang Majelis Umum PBB ke-80, “kita harus terus mendesak mereka yang memiliki kekuasaan untuk menanggapi krisis kemanusiaan ini, mulai dari konflik di Ukraina hingga bencana alam akibat krisis iklim.”
Laporan terbaru PBB menegaskan bahwa rezim Israel tengah melakukan genosida di Gaza.
Sejak rezim Israel melancarkan perang genosida terhadap Gaza pada Oktober 2023, setidaknya 65.141 orang telah terbunuh, sebagian besar perempuan dan anak-anak.
Mantan perdana menteri itu juga menyerukan agar para pemimpin dunia yang akan berkumpul di PBB pekan depan tidak terjebak pada dehumanisasi angka statistik, tetapi memberikan respons nyata terhadap berbagai krisis global, dimulai dari genosida di Gaza.
Baca juga: Ratusan Musisi Dunia Luncurkan ‘Boikot Kultural’ terhadap Israel
“Kita mungkin hidup di dunia yang dilanda berbagai krisis kemanusiaan, tetapi kita harus menolak dehumanisasi angka-angka,” ujar Ardern.
“Kita harus memulainya dari Gaza,” tambahnya.
“Ibu-ibu melahirkan di tengah perang, dan mereka meninggal. Tetapi seharusnya tidak demikian. Tidak saat melahirkan, dan tidak pula di tengah baku tembak konflik. Kadang kala, politik dan kepemimpinan seharusnya sesederhana itu.”


