Khalil al-Hayya: Israel Menjadikan Kesepakatan Gencatan Senjata sebagai Bahan Olok-olok

Khalil

Gaza, Purna Warta – Ketua Biro Politik Hamas, Khalil al-Hayya, menegaskan bahwa Israel masih terus melanggar kesepakatan gencatan senjata melalui serangkaian serangan yang menimbulkan korban di Jalur Gaza.

Khalil al-Hayya mengatakan bahwa Israel, melalui tindakan kekerasan yang terus berlanjut, telah menjadikan kesepakatan gencatan senjata sebagai bahan olok-olok.

Ketua Biro Politik Hamas tersebut mengecam pembunuhan yang ditargetkan terhadap sejumlah komandan kepolisian Palestina dalam serangan Israel. Ia memperingatkan bahwa kelanjutan kebijakan tersebut dapat mendorong kesepakatan yang telah dicapai menuju keruntuhan.

Pernyataan Khalil al-Hayya muncul di tengah berlanjutnya kekerasan di Gaza meskipun terdapat kesepakatan gencatan senjata yang mulai berlaku pada Oktober 2025. Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) pada Juli 2026 melaporkan bahwa serangan Israel kembali meningkat dan mengenai bangunan tempat tinggal, tenda pengungsi internal, serta kawasan padat penduduk. OHCHR menyebut Kementerian Kesehatan Palestina melaporkan lebih dari 1.100 warga Palestina telah tewas sejak Oktober 2025 akibat operasi militer Israel; hingga pertengahan April 2026, OHCHR sendiri telah memverifikasi 685 kematian warga Palestina pada periode tersebut, termasuk 283 perempuan dan anak-anak.

Persoalan pelanggaran gencatan senjata juga menjadi perhatian pemerintah Qatar. Pada 31 Juli 2026, Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani berbicara melalui telepon dengan Khalil al-Hayya. Dalam percakapan tersebut, Qatar menyambut keputusan Hamas menerima peta jalan untuk menyelesaikan pelaksanaan tahap kedua kesepakatan gencatan senjata di Gaza. Al Thani juga menyerukan agar masyarakat internasional menekan Israel untuk memenuhi kewajibannya berdasarkan kesepakatan dan menghentikan pelanggaran terhadap hak-hak rakyat Palestina.

Serangan terhadap anggota kepolisian Gaza juga menjadi salah satu perkembangan yang relevan dengan pernyataan al-Hayya. Reuters melaporkan bahwa pada 26 Juli 2026 serangan udara Israel di Deir al-Balah menewaskan dua pejabat senior dinas keamanan internal Hamas, yaitu Kolonel Wael El-Ledawi dan Mayor Ramez Abu Zraiq. Pihak Hamas menyatakan serangan tersebut merupakan pelanggaran terhadap gencatan senjata. Reuters juga mencatat bahwa Israel dalam beberapa bulan sebelumnya telah menargetkan sejumlah anggota kepolisian yang dikelola Hamas, dengan alasan bahwa sebagian dari mereka terkait dengan sayap bersenjata Hamas.

Perkembangan yang lebih baru pada 18–19 Agustus 2026 menunjukkan bahwa situasi gencatan senjata masih sangat rapuh. Associated Press melaporkan sedikitnya 17 orang tewas dalam serangkaian serangan udara Israel di Gaza, termasuk polisi dan warga sipil. Salah satu serangan menghantam sebuah kantor polisi di Kota Gaza dan menewaskan delapan polisi serta seorang anak perempuan berusia 13 tahun. Serangan tersebut terjadi hanya beberapa hari setelah utusan Amerika Serikat Jared Kushner bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mendorong pengurangan aktivitas militer Israel di Gaza.

Pada saat yang sama, Israel mengumumkan penyelidikan pidana internal terhadap dua insiden besar dalam perang Gaza, termasuk kematian Hind Rajab, seorang anak Palestina berusia lima tahun, beserta keluarganya, dan kematian 15 paramedis Palestina pada Maret 2025. Reuters melaporkan bahwa keputusan tersebut merupakan langkah baru dalam penyelidikan militer Israel terhadap dugaan pelanggaran yang dilakukan pasukannya. Kelompok hak asasi manusia, bagaimanapun, mempertanyakan efektivitas mekanisme penyelidikan internal tersebut dan menyerukan akuntabilitas yang lebih independen.

Dari perspektif hukum dan kemanusiaan, PBB juga telah mendokumentasikan bahwa kekerasan terus berlangsung setelah gencatan senjata. Dalam laporan kemanusiaan PBB, serangan udara, penembakan artileri, dan serangan drone Israel dilaporkan masih terjadi terhadap bangunan tempat tinggal serta tenda yang menjadi tempat berlindung keluarga yang mengungsi. Laporan tersebut menyatakan bahwa serangan selama periode gencatan senjata telah menyebabkan sedikitnya 700 warga Palestina tewas dan sekitar 1.600 lainnya terluka berdasarkan data yang dihimpun hingga periode laporan tersebut.

Untuk konteks politik, Khalil al-Hayya sendiri baru terpilih sebagai ketua Biro Politik Hamas pada Juli 2026. Ia merupakan salah satu tokoh utama Hamas dalam perundingan mengenai gencatan senjata dan pertukaran tahanan. Reuters melaporkan bahwa al-Hayya juga bertemu dengan utusan Amerika Serikat Jared Kushner dan Steve Witkoff di Mesir pada Agustus 2026 dalam pembahasan mengenai rencana perdamaian Gaza.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *