Gaza, Purna Warta – Sumber medis di Jalur Gaza melaporkan bahwa seorang jurnalis Palestina kembali tewas akibat serangan Israel di wilayah pesisir yang terkepung, menambah daftar panjang korban dari kalangan pers sejak rezim pendudukan Tel Aviv melancarkan perang besar-besaran di Gaza.
Baca juga: Tucker Carlson: Perwira Israel Kuasai Rapat Pentagon selama Perang Israel-Iran pada Juni
Menurut keterangan, Yahya Barzaq termasuk di antara sedikitnya enam orang yang terbunuh dalam serangan drone Israel di Deir el-Balah, Gaza tengah.
Lembaga penyiaran publik Turki, TRT, mengonfirmasi kematian Barzaq dan menyatakan bahwa jurnalis Palestina itu sedang bertugas mendokumentasikan dampak perang terhadap warga sipil ketika sebuah serangan Israel menghantam sebuah kafe tempat ia diduga tengah mengunggah rekaman.
Barzaq, yang sebelumnya dikenal luas di Gaza sebagai fotografer bayi baru lahir, beralih mengabadikan potret perang, merekam kehancuran dan perjuangan untuk bertahan hidup. Unggahannya berubah menjadi deretan gambar suram dengan garis hitam—sebuah simbol kematian dan kehancuran.
Direktur Jenderal TRT, Zahid Sobacı, mengecam keras serangan tersebut. Ia menegaskan bahwa pembunuhan Barzaq kembali menjadi pengingat akan bahaya besar yang dihadapi para jurnalis di Gaza.
“Kami sangat berduka atas kehilangan rekan kami, Yahya Barzaq, yang meliput dalam kondisi yang sangat sulit. Israel tidak akan bisa menutupi kejahatan kemanusiaannya dengan menargetkan jurnalis, dan akuntabilitas pasti akan datang cepat atau lambat,” ujarnya.
Barzaq menjadi salah satu dari sedikitnya 250 jurnalis dan pekerja media yang tewas di Gaza sejak 7 Oktober 2023, menjadikan perang ini sebagai salah satu yang paling mematikan bagi kalangan pers dalam sejarah modern, menurut laporan pemantau Palestina maupun internasional.
Federasi Kantor Berita Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) menyatakan keprihatinan mendalam atas pembunuhan beruntun terhadap jurnalis Palestina oleh pasukan Israel.
Baca juga: Kolombia Usir Diplomat Israel atas Serangan terhadap Armada Flotilla Gaza
Federasi tersebut menilai peristiwa di Gaza merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum dan standar internasional, bersamaan dengan pelanggaran Israel atas kebebasan pers dan media, serta upaya untuk membungkam kebenaran, menyingkirkan oposisi, menutupi pelanggaran hariannya, dan menghalangi penyampaiannya kepada komunitas internasional.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sejak 7 Oktober 2023 rezim Israel telah membunuh sedikitnya 66.148 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak.


