Washington, Purna Warta – Mantan pembawa acara Fox News, Tucker Carlson, mengungkapkan bahwa perwira militer Israel menerobos masuk ke dalam rapat-rapat tertutup di Pentagon selama perang Israel-Iran pada bulan Juni lalu, mengeluarkan perintah secara sepihak sementara para pejabat pemerintahan Trump tidak melakukan apa-apa. Hal ini menimbulkan pertanyaan baru mengenai sejauh mana pengaruh asing terhadap keputusan militer Amerika Serikat.
Baca juga: Kolombia Usir Diplomat Israel atas Serangan terhadap Armada Flotilla Gaza
Tucker Carlson, seorang komentator politik Amerika terkemuka, mengatakan bahwa para perwira Israel itu masuk ke ruang-ruang rapat rahasia di Pentagon selama agresi Israel terhadap Iran yang berlangsung selama 12 hari. Ia menegaskan bahwa mereka secara langsung memberi perintah kepada pejabat-pejabat AS, sebuah langkah kontroversial yang menimbulkan kekhawatiran serius terkait campur tangan asing dalam proses pengambilan keputusan di Departemen Perang AS.
Dalam sebuah video berjudul “Speeding Toward World War Three” yang dipublikasikan di akun X miliknya pada Kamis, Carlson menambahkan bahwa pejabat pemerintahan Trump gagal merespons atau mencegah intrusi tersebut, sehingga perwira Israel dibiarkan bertindak sesuka hati tanpa hambatan.
Mantan pembawa acara Fox News itu juga menyinggung ketegangan yang terus berlangsung dalam hubungan AS-Israel serta mempertanyakan sejauh mana pengaruh kekuatan asing di lembaga-lembaga militer Amerika.
“Selama perang 12 hari melawan Iran—AS dan Israel versus Iran—serangan bom dari semua pihak, dalam konflik singkat itu, sekelompok perwira Israel di Pentagon membuat staf Amerika murka karena menerobos rapat, memberi perintah, dan mengajukan tuntutan, dan tidak ada seorang pun yang berbuat apa-apa. Bagaimana mungkin seorang perwira militer asing menerobos masuk ke markas militer? Semakin sering Anda membiarkan perilaku yang sangat tidak sehat seperti itu, semakin sering pula Anda akan mendapatkannya,” ujar Carlson.
Ia menekankan bahwa karena kelemahan “para pemimpin kita”, Israel memanfaatkan Amerika Serikat.
Pada 13 Juni, Israel melancarkan agresi terang-terangan dan tanpa provokasi terhadap Iran, yang memicu perang 12 hari dan menewaskan sedikitnya 1.064 orang di negara itu, termasuk komandan militer, ilmuwan nuklir, serta warga sipil biasa.
Amerika Serikat juga ikut serta dalam perang dengan membombardir tiga lokasi nuklir Iran, sebuah pelanggaran serius terhadap hukum internasional.
Sebagai balasan, Angkatan Bersenjata Iran menargetkan lokasi-lokasi strategis di wilayah pendudukan, serta Pangkalan Udara Al-Udeid di Qatar, yang merupakan pangkalan militer terbesar AS di Asia Barat.
Baca juga: Pejabat Senior Hamas: Usulan Gaza Trump Menargetkan Masa Depan Perjuangan Palestina
Sebuah survei terbaru yang dilakukan The New York Times bekerja sama dengan Siena Research Institute menunjukkan bahwa mayoritas rakyat Amerika mulai menentang perang Israel di Gaza, dengan 51 persen menolak bantuan ekonomi maupun militer lebih lanjut.
Sekitar 35 persen secara tegas menolak bantuan tersebut, dibandingkan hanya 19 persen yang mendukung, dan sekitar 40 persen percaya bahwa Israel dengan sengaja menargetkan warga sipil dalam perang genosida di wilayah Palestina yang terkepung itu.


