Jurnalis Jerman Mengaku Diperkosa Pasukan Israel Setelah Diculik dari Flotila Freedom Coalition

Rapp

Gaza, Purna Warta – Dalam pernyataan publik pertamanya sejak mengalami kekerasan seksual tersebut, Liedtke, Jurnalis Jerman mengatakan bahwa ia diperkosa oleh pasukan Israel setelah diculik dari kapal bantuan kemanusiaan yang menuju Gaza.

Baca juga: Media Israel: Dorongan Didukung Trump Mendekatkan Rezim Jolani dan Israel ke Kesepakatan

Jurnalis Jerman berusia 25 tahun itu mengatakan dirinya ditahan selama lima hari setelah pasukan Israel mencegat kapal kemanusiaan tujuan Gaza pada musim gugur 2025, sekitar 100 mil laut dari pesisir Gaza, dan menculik para aktivis di dalamnya.

Liedtke menyatakan bahwa ia memilih untuk berbicara secara terbuka demi mewakili seluruh korban Palestina yang mengalami kekerasan seksual oleh pasukan Israel.

“Kami dipindahkan dari satu penjara ke penjara lain, dan selama pemeriksaan tubuh, saya diperkosa,” kata Liedtke.

Ia menggambarkan pemerkosaan tersebut sebagai bagian dari pola kekerasan yang lebih luas dan sistematis, bukan sebagai kasus yang terisolasi.

“Saya berbicara atas nama laki-laki dan perempuan Palestina yang mengalami kekerasan seksual dan penyiksaan seksual di penjara-penjara,” termasuk mereka yang hingga kini masih ditahan, ujarnya.

Liedtke menegaskan bahwa pelaku pemerkosaanlah yang seharusnya merasa malu atas tindakan keji mereka, bukan para korban.

Ia juga mengutip kesaksian para tahanan Palestina yang mengalami kekerasan seksual oleh pasukan Israel di penjara-penjara Israel. “Beberapa kali kami mendengar dari para tahanan Palestina, khususnya tahanan perempuan, tentang kondisi di penjara Zionis,” katanya.

Sejak dimulainya perang genosida Israel di Gaza pada Oktober 2023, lebih dari 90 tahanan Palestina dilaporkan tewas di dalam penjara Israel. Kelompok pembela hak-hak tahanan Palestina meyakini jumlah sebenarnya kemungkinan jauh lebih besar.

Penyiksaan, penganiayaan, pengabaian medis secara sengaja, atau malnutrisi disebut sebagai penyebab kematian seluruh tahanan Palestina tersebut di penjara Israel.

Kelompok-kelompok advokasi, berdasarkan kesaksian tahanan, catatan resmi, dan berbagai bukti, menyatakan telah terjadi lonjakan kekerasan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap warga Palestina yang ditahan.

Baca juga: Warganet Desak Pembebasan Dokter Gaza Setelah Setahun Dipenjara Israel

Pada Agustus 2024, organisasi HAM Israel B’Tselem merilis laporan tentang sistem penjara Israel berjudul “Welcome to Hell”, yang merinci kekerasan fisik, psikologis, dan seksual yang dialami warga Palestina dalam tahanan Israel.

Dalam laporan tersebut, sistem penjara Israel digambarkan sebagai “jaringan kamp penyiksaan,” di mana para tahanan menjadi sasaran “penggunaan kekerasan seksual secara berulang,” termasuk “kekerasan seksual berkelompok dan pemerkosaan yang dilakukan oleh sekelompok sipir penjara atau tentara.”

Saluran televisi Israel Channel 12 tahun lalu menayangkan sebuah video bocor yang dilaporkan memperlihatkan tentara Israel melakukan kekerasan seksual terhadap seorang tahanan Palestina.

Sementara itu, penyelidikan Perserikatan Bangsa-Bangsa awal tahun ini melaporkan bahwa pasukan Israel menggunakan penyiksaan seksual dan pemerkosaan sebagai “metode perang … untuk mengguncang, mendominasi, menindas, dan menghancurkan rakyat Palestina.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *