Jihad Islam: Nasrullah Membantu Membangun Front Regional Bersatu Melawan Israel

JIhad islami 1

Al-Quds, Purna warta – Jihad Islam Palestina memuji warisan perjuangan mendiang pemimpin Hizbullah, Sayyed Hassan Nasrallah, dengan menyatakan bahwa ia berhasil mengangkat perjuangan perlawanan menjadi sebuah perjuangan bersama di antara bangsa-bangsa Muslim serta membantu membangun front persatuan untuk menghadapi Israel dan sekutunya.

Nasser Abu Sharif, perwakilan Gerakan Jihad Islam Palestina di Iran, menyampaikan pernyataan tersebut dalam wawancara dengan program Press TV pada Sabtu, dalam rangka memperingati dua tahun kesyahidan Nasrallah.

Abu Sharif menggambarkan Nasrallah sebagai salah satu tokoh paling penting dalam sejarah gerakan perlawanan. Menurutnya, pengaruh Nasrallah tidak hanya terbatas di Lebanon, tetapi juga turut membentuk gerakan-gerakan perlawanan di berbagai wilayah di kawasan.

“Sayyed Hassan Nasrallah bukanlah orang biasa. Ia bukan pejuang perlawanan biasa. Ia merupakan salah satu tokoh paling bersejarah dan simbolis serta pencipta kemenangan bagi perlawanan,” ujar Abu Sharif.

Ia lebih lanjut menyatakan bahwa Nasrallah berperan penting dalam membangun dan memperkuat gerakan perlawanan Hizbullah di Lebanon, meskipun negara tersebut memiliki kondisi politik dan sosial yang kompleks. Menurut Abu Sharif, berbagai kemunduran yang berulang justru semakin memperkuat tekad gerakan tersebut.

Salah satu karakteristik utama Nasrallah, lanjutnya, adalah kemampuannya menjadi titik temu bagi berbagai gerakan perlawanan di kawasan sekaligus mempromosikan gagasan bahwa seluruh gerakan tersebut merupakan bagian dari perjuangan bersama.

“Ia juga merupakan titik sentral bagi aliansi perlawanan di seluruh kawasan. Ia mampu membangun dan menegaskan bahwa terdapat satu proyek; perlawanan adalah satu proyek dengan satu hati, satu denyut jantung, dan bersatu dalam perjuangannya,” kata Abu Sharif.

Abu Sharif juga menyoroti penggunaan media dan perang psikologis oleh Nasrallah. Menurutnya, Nasrallah mampu menghadapi narasi Israel melalui pidato-pidato publik dan pesan-pesan politiknya.

“Ia adalah seorang ahli perang psikologis,” kata Abu Sharif. Ia menambahkan bahwa Nasrallah “jenius dalam caranya menghadapi Israel dengan kata-katanya sendiri.”

Ia mengatakan pendekatan Nasrallah membantu mengungkap “disinformasi Israel” dan melawan berbagai narasi mengenai gerakan perlawanan, Lebanon, dan Palestina.

Berbicara mengenai Iran, Abu Sharif mengatakan bahwa Nasrallah memandang Revolusi Islam sebagai salah satu komponen penting dalam gerakan perlawanan regional serta menekankan pentingnya kerja sama yang didasarkan pada rasa saling menghormati.

Ia juga mengingat kembali penolakan Nasrallah terhadap proyek Amerika Serikat untuk membentuk “Timur Tengah Baru”, yang menurutnya merupakan strategi untuk melemahkan dan memecah negara-negara di kawasan.

Abu Sharif mengatakan warisan Nasrallah terlihat secara khusus dalam hubungan antara gerakan perlawanan Lebanon dan Palestina.

Ia berpendapat bahwa konfrontasi Hizbullah dengan Israel telah memberikan contoh bagi kelompok-kelompok Palestina dan berkontribusi terhadap semakin eratnya koordinasi di antara berbagai front perlawanan.

“Sayyed Hassan mengangkat persoalan ini ke tingkat pertempuran yang bersatu,” ujarnya.

Menurut Abu Sharif, pengaruh Nasrallah juga disebarkan melalui pidato-pidato publiknya, yang menurutnya memberikan kepercayaan diri dan motivasi kepada para pendukung selama periode konflik yang intens.

“Saya merasa ada sesuatu yang hilang” setiap kali satu minggu berlalu tanpa mendengar pidato Nasrallah, kata Abu Sharif. Ia menambahkan bahwa kata-kata Nasrallah membantu meningkatkan moral di seluruh kawasan.

Ia juga menyoroti dukungan Hizbullah kepada rakyat Palestina selama perang di Gaza dan menggambarkan keterlibatan Lebanon sebagai contoh solidaritas nyata dan praktis terhadap Palestina.

“Lebanon merupakan solidaritas yang nyata dan solidaritas praktis terhadap Palestina. Lebanon … menderita. Dan hingga saat ini, hal itu terus berlanjut,” kata Abu Sharif.

Sayyed Hassan Nasrallah gugur pada 27 September 2024 dalam serangan udara besar-besaran Israel terhadap kawasan pinggiran selatan Beirut, Dahiyeh, yang merupakan wilayah dengan kehadiran kuat Hizbullah. Serangan tersebut menargetkan sejumlah bangunan tempat tinggal di kawasan Haret Hreik dengan menggunakan amunisi penghancur bunker (bunker-buster). Hizbullah mengonfirmasi kematian Nasrallah pada hari berikutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *