Mantan Jenderal: Israel “Terjebak” di Gaza, Alami “Kekalahan Strategis” Lawan Hamas

Bogged down

Al-Quds, Purna Warta – Seorang jenderal Israel yang telah pensiun mengatakan bahwa rezim Zionis saat ini terjebak di Gaza, dengan kekuatan darat yang melemah parah dan mengalami kemunduran strategis besar dalam pertempurannya melawan perlawanan Hamas.

Baca juga: Smotrich: AS Beri Lampu Hijau ke Israel untuk Ubah Gaza Jadi ‘Kota Resor’

Mayor Jenderal Yitzhak Brik, mantan perwira senior militer Israel, menguraikan melemahnya kekuatan militer dan kegagalan strategis Israel dalam sebuah opini yang diterbitkan oleh situs berita Israel Arutz Sheva. Ia menyatakan:

“Kebenaran yang menyakitkan, sebagaimana tercermin dari pernyataan para perwira senior IDF—dari jenderal hingga komandan kompi yang berbicara secara off the record—adalah bahwa Israel tidak siap menghadapi perang ‘Pedang Besi’.”

Brik menegaskan bahwa rezim Israel “telah mengalami kekalahan strategis” dalam kampanyenya melawan Hamas.

Ia menyoroti bahwa militer Israel kini sangat melemah. Pasukan darat Israel disebut “sangat terkikis dan mengalami kemunduran struktural.” Ia menambahkan:

“Ketidakmampuan mereka untuk mengalahkan Hamas secara tegas hanyalah bagian dari masalah yang jauh lebih besar.”

Penilaian Brik muncul di tengah perang genosida yang terus berlangsung di Gaza, di mana meskipun Israel telah melakukan serangan brutal selama berbulan-bulan, pasukan militernya gagal mencapai tujuan utamanya, termasuk mengeliminasi gerakan perlawanan Hamas.

Sejak awal agresi pada Oktober 2023, lebih dari 59.100 warga Palestina—kebanyakan perempuan dan anak-anak—telah terbunuh, dan wilayah Gaza masih tercekik oleh blokade ketat, dengan bantuan kemanusiaan hanya masuk dalam jumlah terbatas. Namun, pejuang Palestina terus memberikan perlawanan terhadap pasukan Israel di berbagai wilayah Gaza.

Brik juga mengkritik kepemimpinan Israel karena gagal melakukan perencanaan ke depan:

“Saat Israel masih terperosok di Jalur Gaza, kepemimpinannya tidak mempersiapkan militer untuk konflik berikutnya yang mungkin jauh lebih berbahaya.”

Baca juga: Demonstran Pro-Palestina Cegah Kapal Pesiar Israel Sandar di Pulau Yunani

Menurutnya, kerentanan Israel tidak hanya terjadi di Gaza, tetapi juga di wilayah Tepi Barat yang diduduki, yang ia gambarkan sebagai “tong mesiu.”

Di Tepi Barat—yang juga mengalami eskalasi kekerasan sejak Oktober—hampir 1.000 warga Palestina telah dibunuh oleh pasukan dan pemukim Israel, serta lebih dari 7.000 orang terluka, menurut Kementerian Kesehatan Palestina.

Laporan dari Médecins Sans Frontières (Dokter Lintas Batas) menyebutkan bahwa 40.000 warga Palestina masih mengungsi secara paksa akibat serangan militer Israel di kawasan tersebut. Namun, Brik memperingatkan bahwa:

“IDF saat ini tidak memiliki cukup kekuatan darat untuk mengamankan semua sektor kritisnya.”

Mengomentari Hezbollah, kelompok perlawanan aktif di utara wilayah pendudukan, Brik menulis:

“Hezbollah tetap aktif, meskipun telah melemah. Mereka memiliki ratusan kilometer jaringan terowongan dan persediaan amunisi yang cukup untuk melumpuhkan Israel utara—seperti yang terjadi saat mereka menghujani wilayah itu dengan lebih dari 100 roket per hari sebelum gencatan senjata.”

Gencatan senjata antara Israel dan Hezbollah mulai berlaku pada 27 November 2024, meskipun pasukan Israel terus melanggar gencatan tersebut setiap hari.

Brik juga mengklaim bahwa Mesir tengah bersiap menghadapi kemungkinan perang dengan Israel:

“Intelijen menunjukkan bahwa militer Mesir sedang mempersiapkan konfrontasi potensial dengan Israel,” tulisnya. Di sisi lain, militer Israel kekurangan personel untuk bisa merespons ancaman tersebut secara efektif.

Ia juga menyebut adanya aktivitas kelompok perlawanan di sepanjang perbatasan Yordania.

Brik turut menyinggung perang terbaru dengan Iran, dan menyatakan:

“Iran dengan cepat meningkatkan kemampuan misilnya.”

Pernyataan ini mengacu pada agresi Israel terhadap Iran pada 13 Juni, yang menewaskan lebih dari 1.060 warga Iran, termasuk komandan militer senior, ilmuwan, dan warga sipil. Sepekan kemudian, Amerika Serikat membom tiga fasilitas nuklir Iran. Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan ke situs-situs penting Israel di wilayah pendudukan dan ke pangkalan militer AS di Qatar.

Pada 24 Juni, melalui operasi balasan yang berhasil, Iran memaksa Israel dan AS menghentikan serangan teror mereka.

Brik menutup tulisannya dengan peringatan:

“Jika IDF tidak dipersiapkan dengan benar untuk menghadapi berbagai ancaman yang sedang berkembang ini, maka perang berikutnya bisa jauh lebih menghancurkan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *