Israel Mengonfirmasi Mengerahkan Sistem Iron Dome ke UEA di Tengah Perang Melawan Iran

Iran Dome

Abu Dhabi, Purna Warta – Seorang anggota kabinet Israel mengonfirmasi bahwa sistem pertahanan udara Iron Dome telah dikerahkan ke Uni Emirat Arab (UEA) selama berlangsungnya perang agresi Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Baca juga: Yayasan Hind Rajab Sambut “Kemenangan Signifikan” setelah Menteri Israel Membatalkan Kunjungan ke AS akibat Tekanan Hukum

Hal tersebut dikonfirmasi oleh Miri Regev, Menteri Perhubungan Israel, dalam wawancara dengan stasiun radio militer Israel Galei Tzahal, sebagaimana dilaporkan The Times of Israel pada hari Minggu.

Mantan juru bicara militer Israel itu mengatakan bahwa Abu Dhabi mendapat dukungan dari Israel.

“UEA telah menyadari bahwa rudal balistik merupakan salah satu ancaman terbesar, dan mereka memperoleh dukungan kami,” ujarnya.

Ini merupakan pengakuan pertama dari seorang pejabat senior Israel mengenai pengerahan sistem Iron Dome ke UEA. Namun, sebelumnya sejumlah media Amerika Serikat yang mengutip sumber-sumber Israel telah melaporkan bahwa Israel mengirimkan sistem pertahanan udara Iron Dome ke UEA beserta personel militer untuk mengoperasikannya pada awal perang melawan Iran.

Pada akhir April, situs berita Axios melaporkan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan militer Israel untuk mengirim satu sistem Iron Dome lengkap dengan rudal pencegat serta puluhan personel operator, setelah melakukan percakapan melalui telepon dengan Presiden UEA Mohammed bin Zayed.

Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang agresi terhadap Iran pada 28 Februari. Kedua negara tersebut menggunakan wilayah negara-negara Teluk Persia—Bahrain, Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Yordania—sebagai pangkalan untuk melancarkan serangan udara terhadap Iran.

Selama 40 hari pertempuran yang berlangsung sengit, Angkatan Bersenjata Iran melakukan serangan balasan melalui lebih dari 100 gelombang serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) terhadap wilayah-wilayah pendudukan Israel dan pangkalan militer Amerika Serikat di negara-negara kawasan, termasuk di UEA.

Pemerintah Iran secara konsisten menegaskan bahwa setiap negara yang memfasilitasi agresi terhadap Iran akan dimintai pertanggungjawaban secara langsung.

Teheran juga menuntut kompensasi dari Bahrain, Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Yordania atas tindakan yang dinilai melanggar hukum internasional karena mengizinkan wilayah mereka digunakan oleh Amerika Serikat dan Israel untuk melancarkan serangan terhadap Iran.

Baca juga: Iran Akan Tutup Selat Hormuz dan Serang Dua Kali Lebih Banyak Target sebagai Respons atas Serangan AS

Laporan terbaru dari media Amerika Serikat juga mengungkap bahwa UEA memainkan peran yang lebih besar dalam agresi Amerika Serikat–Israel dengan melakukan serangan langsung terhadap sasaran-sasaran di Iran selama perang berlangsung.

Bahkan setelah gencatan senjata diumumkan pada April, pasukan UEA dilaporkan masih terus melancarkan serangan terhadap target-target di Iran. Informasi tersebut diungkapkan oleh The Wall Street Journal dengan mengutip sumber-sumber yang mengetahui persoalan tersebut.

Menurut laporan The Wall Street Journal, sasaran pesawat tempur UEA di wilayah Iran meliputi sejumlah lokasi strategis di Pulau Qeshm dan Pulau Abu Musa di Selat Hormuz, serta beberapa lokasi di Bandar Abbas.

Pesawat tempur UEA juga dilaporkan menyerang kilang minyak Pulau Lavan dan kompleks petrokimia Asaluyeh. Infrastruktur sektor energi Iran disebut menjadi salah satu sasaran utama serangan yang dilakukan oleh pasukan UEA.

Sejumlah laporan juga mengungkap adanya hubungan yang semakin erat antara Abu Dhabi dan Tel Aviv selama perang berlangsung, termasuk kunjungan Perdana Menteri Israel serta kepala badan intelijen Mossad ke Uni Emirat Arab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *