Al-Quds, Purna Warta – Otoritas Israel secara tiba-tiba membatalkan rencana evakuasi kelompok ketiga pasien dan warga Palestina yang terluka dari Jalur Gaza melalui perlintasan darat Rafah, bersamaan dengan dilancarkannya serangan mematikan terhadap wilayah yang dikepung tersebut.
Baca juga: Yayasan Hind Rajab Ajukan Pengaduan Kejahatan Perang di AS terhadap Tentara Israel-Amerika
Raed al-Nems, juru bicara Palestine Red Crescent Society (PRCS), melaporkan pada Rabu bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi telah memberitahukan pembatalan tersebut kepada PRCS, tanpa memberikan alasan apa pun atas keputusan itu.
Al-Nems menyatakan bahwa tim Bulan Sabit Merah telah sepenuhnya siap mengevakuasi pasien dari Rumah Sakit al-Amal di Khan Younis, namun pembatalan koordinasi pada menit-menit terakhir menghentikan seluruh operasi.
Ia menegaskan bahwa banyak pasien dengan kondisi kritis telah siap meninggalkan Gaza untuk mendapatkan perawatan medis mendesak di luar negeri, seraya memperingatkan bahwa sistem kesehatan di Jalur Gaza berada di ambang kehancuran total.
Bulan Sabit Merah mengumumkan bahwa pihaknya berharap koordinasi dapat segera dipulihkan, dengan harapan evakuasi dapat dilakukan pada Kamis, di tengah kondisi kemanusiaan dan medis yang sangat buruk yang dialami para pasien Gaza saat ini.
Data resmi dari Gaza menunjukkan bahwa sekitar 22.000 orang yang membutuhkan perawatan medis sedang berupaya meninggalkan wilayah tersebut untuk mendapatkan pengobatan di luar negeri, seiring dengan memburuknya infrastruktur layanan kesehatan akibat genosida yang terus berlangsung.
Pada Rabu pagi, 40 warga Palestina, termasuk perempuan dan anak-anak, kembali memasuki Gaza melalui perbatasan Rafah, sementara jumlah yang hampir sama meninggalkan wilayah tersebut. Ini merupakan hari ketiga berturut-turut perlintasan tersebut dibuka sebagian di bawah pembatasan ketat yang diberlakukan Israel.
Baca juga: Pakar PBB Kecam RUU Israel yang Mengizinkan Eksekusi terhadap Warga Palestina
Pada Senin, hanya 12 warga Palestina yang diizinkan kembali ke Gaza, sementara 20 orang diizinkan keluar, jauh di bawah target harian yang ditetapkan, yakni 50 orang kembali dan 50 pasien keluar.
Warga Palestina yang kembali melalui Rafah menceritakan pengalaman pelecehan signifikan oleh pasukan Israel, termasuk penggeledahan menyeluruh, interogasi, serta pembatasan ketat terhadap pergerakan mereka.
Statistik Palestina terbaru menunjukkan bahwa sekitar 80.000 orang telah menyatakan keinginan untuk kembali ke Gaza, yang menegaskan tekad rakyat Palestina untuk menolak pengusiran dan mempertahankan hak untuk kembali, meskipun wilayah tersebut mengalami kehancuran besar.
Israel menegaskan bahwa satu-satunya pihak yang diizinkan kembali ke Jalur Gaza adalah warga Palestina asal Gaza yang meninggalkan wilayah itu setelah perang dimulai.
Kantor Media Gaza: 1.520 Pelanggaran Israel terhadap Gencatan Senjata Gaza dalam 115 Hari
Sementara itu, Kantor Media Pemerintah (GMO) Gaza mengungkapkan pada Rabu bahwa sejak gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober 2025, pasukan Israel telah melakukan 1.520 pelanggaran terhadap perjanjian tersebut hingga saat ini.
Akibat pelanggaran tersebut, tercatat 559 warga Palestina tewas dan 1.500 lainnya terluka, sebagai dampak dari pelanggaran berulang terhadap kesepakatan gencatan senjata dan hukum humaniter internasional.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa dalam kurun 115 hari, terjadi 522 insiden tembakan, 73 kali kendaraan militer memasuki wilayah sipil, 704 serangan udara dan serangan terarah, serta 221 kasus penghancuran rumah dan bangunan lainnya.
Menurut kantor media tersebut, hampir seluruh korban jiwa—sekitar 99%—adalah warga sipil, termasuk 288 anak-anak, perempuan, dan lansia, serta 268 laki-laki.
Dari 1.500 korban luka, lebih dari 900 di antaranya adalah anak-anak, perempuan, dan orang lanjut usia. Sebagian besar luka tersebut terjadi di kawasan permukiman, yang berada jauh dari zona pertempuran, sehingga tingkat korban sipil mencapai 99,2%.
Dalam salah satu hari paling mematikan sejak gencatan senjata Oktober, serangan Israel di seluruh Gaza pada Rabu menewaskan sedikitnya 23 warga Palestina, menurut sumber medis. Di antara korban terdapat beberapa anak-anak, termasuk seorang anak perempuan berusia 11 tahun.
Serangan tersebut menargetkan wilayah dari Kota Gaza hingga Khan Younis bagian selatan, termasuk tenda-tenda yang menampung keluarga pengungsi. Salah satu korban diketahui merupakan petugas tanggap darurat dari Palestine Red Crescent Society.
Perang tersebut telah menewaskan hampir 72.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 171.000 orang, serta menyebabkan kerusakan parah pada sekitar 90% infrastruktur Gaza.


